Gaya Hidup

Jelang Lebaran Warga Lamongan Berburu Pakaian Bekas Import

Menjelang lebaran, banyak masyarakat menyerbu lapak penjualan pakaian bekas di beberapa sudut jalanan Lamongan, untuk berburu baju dan celana yang akan dipakai saat lebaran.

Lamongan (beritajatim.com) — Menjelang lebaran, banyak masyarakat menyerbu lapak penjualan pakaian bekas di beberapa sudut jalanan Lamongan, untuk berburu baju dan celana yang akan dipakai saat lebaran.

Pakaian tersebut bukanlah pakaian bekas biasa, dikarenakan pakaian itu memang didatangkan dari luar negeri menggunakan karung-karung dengan kondisi layak pakai.

Pakaian bekas sampai saat ini memiliki daya tarik yang tak pernah luntur bagi peminatnya. Seperti yang dituturkan oleh Khoiron (29), seorang pembeli warga desa Sendangduwur Kecamatan Paciran Lamongan. Menurutnya, membeli pakaian bekas itu memiliki sensasi tersendiri, karena bisa mendapatkan pakaian bagus dan bermerek dengan harga yang disesuaikan kocek pembeli.

“Harus pintar memilih barang agar dapat barang yang branded dan berkualitas tapi dengan harga yang miring,” tuturnya, Rabu (21/04/2021).

Saat minat masyarakat terhadap pakaian bekas impor masih sangat tinggi, yang pemburunya pun tak hanya dari kelas bawah, tapi juga kelas atas. Di sisi lain, para penjual pakaian bekas ini mengaku bahwa ketersediaan stok barang agak berkurang.

Seperti yang telah diceritakan oleh penjual yang menjajakan pakaiannya di pinggir jalan raya paciran-brondong, Lutfi asal desa Campurejo Kecamatan Panceng Kabupaten Gresik kepada beritajatim.com, bahwa situasi pandemi dan ketatnya aturan membuat para distributor mengurangi jumlah dan waktu pengiriman.

Di bulan ramadan kali ini, para penjual bisa meraup keuntungan yang lumayan besar dari hasil berjualan baju bekas impornya.

“Alhamdulillah mas, selama Ramadan, setiap harinya selalu ada pembeli yang berdatangan,” kata Lutfi.

Hal serupa juga dirasakan oleh Dani (21), pemuda asal Desa Takeran Kecamatan Solokuro ini juga mengaku merasakan berkah selama jualan di bulan Ramadan, meskipun dirinya termasuk penjual yang baru jika dibandingkan penjual pakaian bekas lainnya.

“Saya buka mulai jam 4 sore sampai jam 10 malam, keuntungan perhari rata-rata Rp.300ribu hingga Rp 500 ribu,” ujarnya.

Agar menarik pembeli, mereka mengaku telah mengemas pakaian-pakaian bekas tersebut dengan rapi selayaknya baju baru. Sehingga pembeli tidak ragu jika baju bekas yang dijual masih sangat layak untuk dipakai.

Dilihat dari para peminatnya, kemunculan bisnis pakaian bekas impor ini ada bukan karena permintaan dari masyarakat miskin yang tak mampu beli pakaian baru, tapi juga karena urusan kebutuhan terhadap gengsi. (riq/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar