Gaya Hidup

Borobudur Writers and Cultural Festival ‘BWCF’

Jejak Ilmiah Zoetmulder, Membaca Ulang Panteisme – Tantrayana

Magelang (beritajatim.com) – Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) akan digelar kembali pada pada tgl 21-23 November 2019 di Hotel Tentrem Yogyakarta, kawasan Candi serta Hotel Manohara Borobudur dan Rumah Doa Bukit Rhema atau yang dikenal dengan nama Gereja Ayam, Magelang.

Di usianya yang sewindu ini, BWCF memperingati jejak keilmiahan karya-karya Zoetmulder. Tema yang diusung Tuhan dan Alam, Membaca Ulang Panteisme – Tantrayana dalam Kakawin dan Manuskrip-manuskrip Kuno Nusantara.

“Panteisme adalah tema yang sering diulas oleh Romo Zoetmulder,” ujar Imam Muhtarom, salah satu konseptor BWCF, Rabu (31/10/2019).

Dituturkan oleh Imam, BWCF 2019 mengundang berbagai pakar untuk mengupas Panteisme dan Tantrayana di Nusantara, mulai dari Prof. Dr. Wilem Van Der Molen (Universitas Leiden, Belanda), Prof. Dr. Toru Aoyoma (Tokyo University of Foreign Studies), Prof. Peter Worsley (The University of Sidney, Australia), Prof. Dr. Abdul Kadir Riyadi (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya), Dr. Tommy Christomy (Universitas Indonesia), Dr. Lydia Kieven (Friedrich-Wilhelm-Universitat Bonn, Jerman), Hadi Sidomulyo, dan lain-lain.

“Juga selama dua malam akan diselenggarakan pentas puisi, monolog, tari dan teater di Rumah Doa Bukit Rhema alias Gereja Ayam dan area terbuka Candi Borobudur dengan kuratorial bertema Kali Yuga,” imbuhnya.

Penyaji yang akan tampil di Gereja Ayam adalah karya kolaborasi Jefriandi Usman bersama Otto Sidharta, Omar Jusma, Isdaryanto, Yudhi Widdyantoro, dll, karya Cok Sawitri, Jamaluddin Latif, diawali Senja Sastra dengan Kedung Darma Romansha dan Sruti Ayako Nischala (Jepang).

“Sementara di area terbuka Candi Borobudur akan tampil Fitri Setyaningsih, Suprapto Suryodarmo bersama Sitras Tutup Ngisor, Misbach Bilock dan Kelompok Lahere, serta pembacaan puisi oleh D. Zamawi Imran,” papar Imam Muhtarom.

Adapun acara Pembukaan akan diawali dengan penganugrahaan Sang Hyang Kamahayanikan Award kepada Prof. Dr. Achadiati Ikram, Ibu Fiolog Indonesia, atas dedikasinya melakukan inventarisasi, preservasi, katalogisasi, penelitian, dan publikasi manuskrip Nusantara.

“Puncak acara Pembukaan adalah Pidato Kebudayaan oleh Filolog Dr Andrea Acri dari Ecole Pratique des Hautes Etudes, Perancis mengenai Tantrayana di Jawa Kuno,” tandas Imam. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar