Gaya Hidup

Isi Waktu PPKM Darurat, Pria di Magetan Bikin Miniatur Rumah Mewah

Hari Sumarno saat merampungkan karyanya berupa miniatur rumah mewah di kediamannya Desa Selotinatah, Ngariboyo, Magetan kemarin (25/7/2021). [foto: Fatihah Ibnu Fiqri]

Magetan (beritajatim.com)- Bilah-bilah bambu yang belum dihaluskan terkumpul di samping pria yang sibuk membuat kerangka rumah mewah mini. Di teras rumahnya di Dukuh Banaran, Desa Selotinatah, Ngariboyo Magetan, Hari Sumarno memilih berkarya dengan menggunakan bambu limbah dari anyaman.

Banyaknya bambu bonggol yang tak bisa dibuat anyaman digunakannya untuk membuat miniatur rumah mewah. Satu meter bambu bisa dijadikannya satu unit rumah mewah kecil. Pun, hanya dalam waktu seminggu. Kegiatannya di masa PPKM Darurat ini tak lantas melepas jenuh, tapi juga menghasilkan pundi-pundi rejeki bagi bapak dua anak ini.

Bermula dari membuat kapal phinisi tahun lalu, dia lantas meneruskan berkarya dengan membuat miniatur rumah mewah. Inspirasinya dia dapat dari internet. Banyak sekali pilihan desain rumah mewah yang bisa dia buat dengan bambu limbah, berikut dengan campuran triplek, dan kayu lainnya. “Mayoritas bahan bakunya bambu, untuk lekukan tertentu saya gunakan triplek,” kata Hari, Minggu (25/7/2021).

Awalnya, dia memang sengajak menghabiskan waktunya yang banyak di rumah. Karena kesehariannya bekerja di pengusahan kulit tak sesibuk dulu. Sehingga, dia memilih untuk menghabiskan waktu dengan merakit rumah mini itu. “Lalu setelah jadi, saya posting di media sosial, langsung banyak yang pesan,” katanya.

Pemesan bisa memilih desain seperti apa yang diinginkan. Dia tak mematok harga tertentu. Namun, pemesannya menghargai karyanya sebsar Rp 300 ribu. Tergantung dari tingkat kesulitan. Pun, dia tetap menyesuaikan dengan budget sang pembeli. Berikut dengan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan garapan. “Banyak juga yang beli, dari luar kota juga ada,” katanya.

Dari situlah pesanan terus berdatangan. Dia pun memanfaatkan momen itu untuk memaksimalkan cuan yang dia dapat dari mengolah bambu limbah itu. Meski begitu dia mengharap agar PPKM darurat bisa segera selesai. Sehingga, dia tetap bisa bekerja seperti biasa. “Meski saya akan tetap menggarap pesanan jika masih sempat,” katanya. [fiq/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar