Gaya Hidup

IRT Magetan Ini Sukses Bisnis Pastry Saat Pandemi

Magetan (beritajatim.com) – Oven terbuka, Fatsun Mufti Firdauseptia pun segera mengeluarkan brownies yang sudah mulai mengembang dan matang. Brownies pesanan salah satu pegawai negeri yang bertugas di salah satu instansi pemerintahan Magetan itu mulai dipersiapkan. Dia pun langsung memasukkan brownies buatannya ke kota kemasan.

Setelah itu menempel label produknya. Dan kemudian, mempersiapkan pesanan lainnya. Dia pun segera memberikanny pada sang suami untuk mengantarkan pesanan-pesanan itu. Pundi-pundi rupiah pun segera bisa dikumpulkan. Dia pun berlanjut untuk mengurus ketiga anaknya. “Sejak sebelum pandemi saya memilih jualan donat, roti, brownies, sesuai dengan pesanan atau made by order,” kata wanita yang akrab dipanggil Firda itu.

Sebelumnya, dia pernah menjadi teller di salah satu bank BUMN ternama. Kala itu dia tinggal di Yogyakarta, sampai dia menikah dengan suaminya Anggi Rahardian Prasetyono yang juga seorang bankir. Namun, semenjak keduanya memilih resign pasca kelahiran anak pertama, Firda mulai ikut kursus membuat kue dan roti. “Untuk anak-anak saja awalnya, supaya tidak sering jajan di luar rumah,” kenang warga Desa Ngunut, Kawedanan, Magetan itu.

Setelah ikut kursus dan dapat ilmu untuk membuat kue, dia pun memilih untuk pulang ke kampung halaman, dan tinggal bersama dengan sang suami di Magetan. Dia pun masih tetap melanjutkan hobinya selama sekitar tujuh tahun dan kemudian mulai berinisiatif untuk berbisnis. “Dulu saat suami masih buka kedai, ada menu – menu spesial, dan saya yang buatkan, tapi kan tidak tiap hari,” katanya.

Namun, lama kelamaan dia mulai tergiur untuk mulai menunjukkan bakatnya. Sehingga, dia pun mulai memposting hasil masakannya di media sosial pribadinya. Dan saat itulah dia mulai dapat orderan. Mulai dari donat, brownies, kue sifon, dan kue tart. “Harga mulai Rp 3000 sampai Rp 50 ribuan tergantung pesanannya mau dibuat seperti apa,” katanya.

Berawal dari modal satu juta rupiah dia pun berani beli oven tangkring, hand mixer, loyang – loyang dan perlengkapang baking lainnya. Dan beberapa bahan untuk membuat roti ataupun donat. Pemasarannya dilakukan secara online. Termasuk di grup sekolah anaknya, grup tempat les anak hingga rekan – rekan semasa SMA. “Pesanan terbanyak di tahun kemarin, untuk harian saat weekend lebih ramai daripada hari biasanya,” katanya.

Untuk tiap bualnya bisa mendapat sekitar Rp 5 jutaan. Itupun sudah cukup untuk kebutuhan sehari – hari dan menambah penghasilan sang suami yang juga berjualan minuman. Hingga akhirnya dia memilih untuk tetap menyeriusi bisnisnya. “DI saat seperti ini memang cukup ramai, meski pandemi,” katanya. (fiq/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar