Gaya Hidup

Intip Serunya Liburan ke Ekowisata Mangrove Wonorejo Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Kota Surabaya punya satu destinasi di lokasi pantai yang layak dikunjungi. Meskipun sudah lama ada, lokasi ini masih kalah tenar dengan destinasi wisata lainnya di Kota Pahlawan. Padahal, tempat ini layak dikunjungi baik pagi maupun malam hari.

Lokasi wisata seluas lebih dari 800 hektare itu bernama Ekowisata Mangrove Wonorejo. Destinasi ini punya banyak fasilitas wisata, mulai dari kolam pancing, pendopo, kantin, hingga sewa perahu yang digunakan untuk menjelajahi rawa mangrove. Selain menggunakan perahu, hutan mangrove juga bisa dijelajahi melalui jogging track dari bambu yang sudah disiapkan.

Destinasi wisata ini juga salah satu paru-paru kota. Tumbuhan yang ditanam turut melindungi Kota Surabaya dari paparan polusi dari asap kendaraan maupun hal lain yang terus menerus menggempur Kota Pahlawan di setiap hari.

Untuk lebih mengenalkan Ekowisata Mangrove Wonorejo kepada mereka yang ingin berwisata ke Kota Surabaya, berikut ulasan yang dibuat oleh beritajatim.com pada hari Minggu (1/9/2019).

1. Akses Lokasi Sedikit Menantang

Salah satu akses ke lokasi Ekowisata Mangrove Wonorejo

Mungkin benar adanya kalau sesuatu yang istimewa itu susah dicapai. Begitu pula dengan lokasi menuju ke Ekowisata Mangrove Wonorejo. Dari Jalan Ir. Soekarno, atau MERR, mereka yang hendak menuju ke lokasi wisata murah meriah ini harus mengarah ke Jalan Wonorejo Timur.

Dari situ, tantangannya dimulai. Meski terbilang jalan raya, namun akses yang harus dilalui pengguna jalan nampak seperti keluar masuk kampung. Di beberapa titik bahkan harus benar-benar melalui akses jalan yang berada di tengah-tengah perkampungan. Untuk bisa melintas, dua mobil dari arah berlawanan harus bergantian.

Akses menantang ini, diharapkan oleh masyarakat menjadi perhatian Pemkot Surabaya. Febri misalnya, wisatawan domestik asli Surabaya ini berharap adanya pelebaran jalan untuk akses menuju Ekowisata Mangrove Wonorejo yang lebih layak.

“Sayang banget, tempat wisata murah meriah ini kurang mendapatkan sentuhan di akses untuk menuju lokasinya. Padahal tempat ini layak untuk jadi opsi berwisata di Kota Surabaya,” ujar Febri.

“Kita kan kadang untuk memilih lokasi wisata pas liburan juga melihat akses kesananya. Kalau jalannya kecil, rusak, bergelombang kan ya males juga,” tambahnya.

2. Meskipun Wilayah Pantai, Tapi Sejuk

Banyak spot foto di Ekowisata Mangrove Wonorejo

Sampai di lokasi Ekowisata Mangrove Wonorejo, pengunjung tidak akan merasakan panas atau gerah. Kecuali di area parkir yang masih minim pepohonan Rimbunnya mangrove di sebagian besar tempat itu membuat udara yang ada sangat sejuk.

Untuk menghabiskan waktu luang, pengunjung bisa melakukan banyak aktifitas. Mulai berjalan santai di jogging track bambu sepanjang 2 kilometer, hingga melakukan swafoto di seluruh sudut wilayah Ekowisata Mangrove Wonorejo. Banyak sekali titik yang layak untuk dijadikan spot foto.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dalam satu kesempatan menuturkan jika penanaman mangrove ini memiliki berbagai macam fungsi. Salah satunya, untuk mengurangi tingkat polusi yang ada di Surabaya.

“Fungsinya mangrove kan dia sebagai penyerap karbon, pemberi oksigen. Tapi mangrove ini fungsinya banyak sekali,” kata Risma usai penanaman 50 ribu mangrove bersama Forkopimda Surabaya di Gununganyar, Jumat (16/8/2019).

Menurut Risma, upaya penanaman pohon terus-menerus juga sebagai penyeimbang dengan banyaknya kendaraan. Sebab saat ini, Surabaya merupakan kota terbesar dan dengan kepemilikan kendaraan terbanyak kedua juga setelah Jakarta.

“Jadi pohonnya kurang terus, mobilnya yang punya tambah terus. Kita nanam pohon terus berlomba-lomba sama yang punya mobil,” ujar wali kota perempuan pertama Surabaya ini.

“Nah, kita kan nggak bisa nyegah. Orang makin kaya masak nggak boleh beli mobil. Ya sudah nggak apa-apa saya nanam pohon,” tegas wanita yang disebut bakal menjadi Menteri Lingkungan Hidup di Kabinet Presiden Jokowi itu.

3. Makan di Tengah Hamparan Mangrove

Sentra Kuliner Ekowisata Mangrove

Ketika pengunjung merasa lapar saat berwisata di Ekowisata Mangrove Wonorejo mereka tak perlu khawatir. Sebuah sentra kuliner siap melayani dan memuaskan perut para pengunjung. Sensasi makan di tengah hamparan mangrove pun jadi salah satu hal yang menarik.

Hanya saja, dari sekitar 10 gerai yang ada, pilihan makanan yang dijajakan cenderung tidak lengkap dan itu-itu saja. Bowo, salah satu pengunjung, mengungkapkan jika dirinya agak sedikit kecewa dengan pilihan menu yang ada.

“Makanannya itu saja, ayam geprek lalu penyetan dan pop mie. Ada sih ikan bakar, tapi ya cuma gurami. Makanan laut hanya ada kepiting dan cumi. Salah satu menu yang katanya andalan, Bandeng Supit, malah nggak ada. Katanya sih habis, nggak tahu beneran habis atau memang nggak ada,” katanya.

Bagi Bowo, tempat menarik ala Ekowisata Mangrove Wonorejo harusnya juga memiliki sentra kuliner yang menawarkan menu menarik. “Makanan khas Surabaya harusnya diperbanyak. rujak cingur, lontong balap, lalu semanggi itu harusnya ada. Ya pokoknya yang makanannya Surabaya banget,” tegasnya.

Meskipun demikian, Ia mengaku puas dengan pengalaman makan yang didapat disana. “Nuansa makan di tengah mangrove memang berbeda. Seru sih. Udaranya pun sejuk,” ujar Bowo.

4. Terintegrasi dengan Wisata Mangrove Gunung Anyar

Wali Kota Risma saat mencanangkan Kebun Raya Mangrove

Pengunjung yang ingin melanjutkan wisatanya ke Wisata Mangrove Gunung Anyar pun bisa tanpa harus memutar kembali. Dari Ekowisata Mangrove Wonorejo, ada perahu wisata yang siap mengantar ke lokasi bakal Kebun Raya Mangrove itu.

Perahu yang ada pun sudah terbilang nyaman. Pengunjung bisa merasakan sensasi bak nelayan yang hendak berlayar. Hanya saja, ketersediaan wahana ini sangat bergantung pada kondisi air. Jika air sedang surut, maka wahana ini tidak bisa dinikmati.

Terkait Kebun Raya Mangrove, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengungkapkan jika kawasan ini nantinya memiliki luas hingga 46 hektare. Menurut Risma saat ini baru 16 hektar yang ditanami 50.000 pohon. “Status tanah punya pemkot, kita bebaskan 16 hektar. Total 46 hektar, itu gabungan tanah pemkot dan pembebasan. Makanya, ini pohonnya masih kurang,” ujarnya saat diwawancara usai menabur bibit ikan nila, Jumat (16/8/2019).

Karena itu, ia akan menanam pohon secara rutin sambil perawatan, hingga benar-benar memenuhi 46 hektare. Risma meyakini, penanaman keseluruhan pohon tidak akan butuh waktu lama. “Tidak lama kok. Tak sampai akhir tahun pasti sudah selesai,” katanya.

Integrasi dengan Ekowisata Mangrove Wonorejo pun terus dimatangkan. Pihaknya kini tengah mencari titik fisik yang memungkinkan terhubungnya kedua kawasan mangrove tersebut. “Nanti nyambung sama Wonorejo. Ini kami cari jalan dan titiknya. Tapi kami masih cari cara karena agak rumit. Sebab, di Wonorejo ada sungai brantasnya besar,” jelasnya. [ifw/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar