Gaya Hidup

Inovasi Pandemi, Dua Pemuda Madiun Ini Seduh Kopi di Atas Motor

Sukmana Krisbiantork saat melayani pembeli di Jalan Baru, Kelurahan Pandean, Taman, Kota Madiun, Minggu (1/8/2021) (Foto: Fatihah Fiqri)

Madiun (beritajatim.com) – Pandemi tak membuat semangat Sukmana Krisbiantoro (23) dan Pradipta Wijaya (24) padam. Lama menggeluti dunia perkopian, keduanya memilih untuk bangkit. Berawal dari keluh kesah kduanya karena coffee shop tempat Emon, sapaan akrab Sukmana Krisbiantoro, bekerja terdampak pandemi. Berikut dengan Jaya, freelancer yang saat itu minim pemasukan.

“Kebetulan kami kenal cukup lama. Sehingga, kami rembugan dan ketemu ide untuk mencoba berjuakan kopi seduh manual brew di Taman Demangan Kota Madiun di tahun 2020 lalu,” ungkap Emon, pemuda asal Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Minggu (1/8/2021).

Kebetulan modal mereka satu – satunya yakni Suzuki RC Bravo dimodifikasi. Khususnya menggunakan kotak kayu yang bisa dibuka dan jadi meja diatas jok motor. Berikut kotak tersebut dijadikan tenpat untuk alat- alat menyeduh kopi. “Kami memakai jasa tukang las dekat rumah. Kami tunjukkan desainnya dan langsung bisa digarap. Kemudian barulah kami pertama kali jualan di Taman Demangan,” ungkap Emon.

Namun, tak mudah bagi mereka untuk jualan kopi ala kaki lima menggunakan motor. Peminatnya masih minim meski harga sudah dinilai cocok. Menunya oun bukan Cuma kopi, ada juga es teh atau teh tarik. “Selain itu cuaca juga tak mendukung. Sering hujan. Dan tak banyak pembeli. Sehingga, kami jarang sekali jualan bareng,” ungkap pemuda yang tengah menjalani studi Ilmu Ekonomi Manajemen di Universitas Muhammadiyah Ponorogo itu.

Namun, mereka tak menyerah. Hingga akhirnya mereka mulai memindah tempat jualan. Yakni di Jalan Baru, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun. Seperti yang mereka harapkan, banyak sekali peminat. Karena banyaknya warga yang jalan – jalan sore. “Kami jualan tidak lama. Hanya sekitar dua jam saja. Muali pukul 16.00. Itupun banyak sekali yang beli. Dengan harga teh tarik dan kopi Rp 5 ribuan. Dan sampai Rp 10 ribu kalau bean-nya beda,” katanya.

Mereka tak mau kalah dengan coffee shop yang ada di Madiun. Justru mereka merasa unggul karena pelanggan tak berkerumun. Dan memungkinkan untuk melayani take away karena tak ada tempat duduk yang disediakan. Selain itu, tempat yang berada di luar ruangan meminimalisir oenularan Covid-19. “Sehingga, kami sudah bisa menaati aturan yang dilayangkan pemerintah dalam masa PPKM level 4 kali ini,” ungkap Jaya, pemuda Kelurahan Nambangab Kidul, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun itu. (fiq/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar