Gaya Hidup

Ini yang Dilakukan 9 Dalang di Hari Wayang Sedunia

Ponorogo (beritajatim.com) – Sebanyak 9 dalang berbakat asal Ponorogo turut ambil bagian dalam peringatan hari wayang sedunia. Ya, sudah 17 tahun UNESCO menetapkan tanggal 7 November sebagai hari wayang sedunia.

Dalam peringatan tersebut, 9 dalang yang terdiri 3 dalang anak dan 6 dalam remaja itu mementaskan wayang secara virtual pada Sabtu (7/11) malam.

“Pagelaran wayang dengan menampilkan 9 dalang berbakat ini sebagai bentuk pelestarian budaya dan memperingati hati wayang sedunia yang jatuh setiap tanggal 7 November,” kata Yudha Slamet Sarwo Edi Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Minggu (8/11/2020) pagi.

Yudha sapaan akrab Yudha Slamet Sarwo Edi mengungkapkan bahwa acara ini merupakan bentuk kerjasama antara Persatuan Dalang Indonesia (Pepadi) dan Disbudparpora Ponorogo. Pagelaran wayang virtual ditengah pandemi Covid-19 ini sebagai proses regenerasi pedalangan wayang kulit dalam rangka melestarikan seni dan budaya wayang.

“Regenerasi ini harus dimulai sedini mungkin. Sehingga ke depan diharapkan ada sinergi antara pemerintah, organisasi dan seniman itu sendiri supaya wayang tetap lestari,” katanya.

Bertempat di gedung Padepokan Reyog, jalan Pramuka nomor 19A Ponorogo, pagelaran dimulai dengan penampilan 3 dalang anak. Yakni, Abi Zam Zam, Faizal Wahyu Ramadhan dan Triyo Surya Pratama.

Ketiganya tampil bersama secara bergantian dengan membawakan lakon Dewa Ruci. Sedangkan 6 dalang remaja, yakni Rendra Satya, Galih Wisnu,  Krisna Aditama, Benggol Drajat, Didin Cakrawibawa, Farhan Bayu membawakan lakon Gatotkaca Winisudha.

“Namanya wayangan virtual, penonton dilarang menonton langsung. Mereka bisa menonton lewat live streaming di rumah masing-masing,” ungkap Yudha.

Dalam kesempatan itu, seluruh unsur yang tergabung. Mulai dari pemain gamelan, sinden dan pedalang yang tampil berikrar sebagai Manunggale Dalam Muda Ponorogo (Manduro). Yudha menyebut jika Manduro sebagai organisasi pedalang muda. Jadi pemain gamelan, sindan dan dalangnya pun semuanya dari pemuda.

“Manduro ini harus kita dukung eksistensinya,” katanya.

Ketua Pepadi Ponorogo Sindu Prawoto berharap, adanya Mandiro ini bisa membuat wayang kulit bisa tetap eksis. Sebab, wayang kulit merupakan warisan budaya Indonesia dari nenek moyang. Sehingga tetap diagungkan, digemari dan dicintai oleh masyarakat.

“Seni budaya harus tetap lestari dan eksis. Adanya Manduro ini sebagai upaya regenerasi supaya kita nanti tidak kehabisan seniman wayang,” pungkasnya. (end/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar