Gaya Hidup

Ini 4 Buku Puisi Terbaik Buat Contekan Bucin Merayu Kekasih

Jember (beritajatim.com) – Tak ada puisi tanpa romantisme. Tak ada romantisme tanpa cinta. Itulah kenapa cinta seringkali menjadi topik bagi sebagian besar puisi di dunia.

Penyair Sapardi Djoko Darmono saat masih hidup mengatakan, cinta adalah pengalaman yang sangat merepotkan. Para penyair seringkali menulis puisi kepada seseorang yang dicintainya, seperti WS Rendra kepada istrinya, Narti.

Tapi, menurut Sapardi, “Yang penting bagi kita bukanlah apa yang ‘terjadi’ dalam sajak itu tetapi apa yang bisa kita ‘hayati’ lewat bahasa yang dipergunakan si penyair,” katanya, dalam bukunya.

Dalam penghayatan cinta itulah, ada sejumlah buku kumpulan puisi yang layak dibaca dan dihayati oleh para budak cinta (bucin) untuk menaklukkan hati kekasih. Kalau tak punya ide untuk menulis puisi buat kekasih, buku-buku ini bisa menginspirasi atau bahkan dikutip untuk dikirimkan via WhatsApp Messenger.

1. Hujan di Bulan Juni (Sapardi Djoko Darmono)
Buku puisi berisi 102 sajak. Buku puisi terbaik karya Sapardi. Ada sejumlah puisi yang layak dikenang dan menginspirasi. Salah satunya berjudul Aku Ingin.

AKU INGIN
aku ingin mencintaimu
dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu
dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

2. Tidak Ada New York Hari Ini (M. Aan Mansyur)
Buku kumpulan puisi ini ditulis Aan untuk film Ada Apa dengan Cinta 2. Tidak sebagaimana film pertama, sekuel kali ini lebih banyak berada di Jogja dan New York. Salah satu puisi yang asyik berjudul Batas, yang ditulis Rangga (Nicholas Saputra) di atas selembar kertas dan diberikan kepada Cinta (Dian Sastro) di salah satu kedai kopi di Jogja.

BATAS
Semua perihal diciptakan sebagai batas
Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain
Hari ini membelah membatasi besok dan kemarin
Besok batas hari ini dan lusa
Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota,
bilik penjara, dan kantor wali kota,
juga rumahku, dan seluruh tempat di mana pernah ada kita
Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta
Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan kata
Begitu pula rindu
Antar pulau dan seorang petualang yang gila
Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang dan undang-undang
Seorang ayah membelah anak dari ibunya dan sebaliknya
Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan
Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur
Apa kabar hari ini?
Lihat tanda tanya itu
Jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi

3. Malam Ini Aku akan Tidur di Matamu, Joko Pinurbo
Joko Pinurbo adalah salah satu penyair yang menulis puisi bagai bercerita. Buku ini berisi 79 puisi yang diciptakannya pada 1980-2012. Salah satu puisi di buku itu berjudul Kekasihku.

KEKASIHKU
Pacar kecil duduk manis di jendela,
menemani senja.
Senja, katanya, seperti ibu yang cantik dan capek setelah seharian dikerjain kerja.
Ia bersiul ke senja seksi yang tinggal
tampak kerdipnya:
Selamat tidur, kekasihku.
Esok pagi kau tentu
akan datang dengan rambut baru.
Kupetik pipinya yang ranum,
Kuminum dukanya yang belum:
Kekasihku, senja dan sendu telah diawetkan dalam kristal matamu.

4. Aku Ini Binatang Jalang (Chairil Anwar)
Chairil Anwar. Kita menghabiskan masa sekolah dasar dan menengah dengan membaca puisi-puisinya dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Chairil adalah maestro kata-kata. Beruntung Gramedia menerbitkan buku kumpulan puisi Aku Ini Binatang Jalang. Salah satu puisi yang indah di dalamnya adalah Sajak Putih.

SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah… [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar