Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Ikan Asap, Ladang Berkah Ibu-ibu Lamongan

Murjiah, salah satu penjual ikan asap di Lamongan di sela-sela aktivitasnya.

Lamongan (beritajatim.com) – Jika anda mengunjungi kawasan Lamongan, mungkin di beberapa titik akan menemukan kepulan asap yang berjejer di pinggir jalan.

Asap memang identik dengan menganggu dan polusi. Tapi bagi ibu-ibu di Lamongan ini, asap bisa menjadi ladang berkah bagi pendapatan mereka.

Menurut pengakuan ibu-ibu penjual ikan asap ini, ikan tambak yang mereka asapkan untuk mereka jual ini mampu meningkatkan laba yang didapat. Pasalnya, nilai jual ikan tambak akan bertambah dua kali lipat jika dibandingkan dengan ikan yang belum diolah atau diasap.

Sebagai informasi, pengasapan adalah salah satu cara mengawetkan bahan makanan dengan memanfaatkan sumber panas yang berasal dari asap hasil pembakaran kayu atau bahan lainnya.

Teknik itu tak hanya bisa dilakukan untuk bahan baku daging sapi atau ayam saja, tapi juga ikan seperti di Lamongan ini.

Sebelum dilakukan pengasapan, ada sejumlah proses yang harus dilakukan agar ikan hasil pengasapan bisa maksimal sedap dan mantab.

Murjiah (48), salah satu penjual ikan asap di Lamongan mengatakan, sebelum pengasapan, ia bersama sekitar 15 orang ibu-ibu lainnya membeli bahan baku berupa ikan basah di Pasar Ikan yang tidak jauh dari tempat pengasapan.

Di pasar itu, Murjiah mengaku, harus jeli saat membeli ikan. Ia harus memperhatikan kualitas dan kesegaran ikan demi memberikan citarasa yang terbaik bagi para pelanggannya.

Setelah mendapatkannya, imbuh Murjiah, ikan basah yang ia beli kemudian dibelah menjadi dua potong dan dibersihkan sisiknya. Lalu ikan dicuci supaya bersih dari lumpur dengan air yang mengalir. Setelah itu, ikan ia celupkan ke dalam air garam.

“Ikan biasanya ya dibelah dari arah punggung. Ikan beragam seperti ikan sombro, mujaer, bader dan bandeng. Setelah siap, ikan kemudian ditata di atas tungku dengan penampan kawat yang sudah dirajut,” ujar Murjiah kepada wartawan, Selasa (17/5/2022).

Sementara media yang dipakai untuk untuk pengasapan ini, kata Murjiah, menggunakan janggel jagung agar biaya yang dikeluarkan lebih hemat dan mudah didapat. “Sekarang pakai janggel jagung, kalau pakai arang dari batok kelapa biayanya terlalu mahal,” sambungnya.

Ia membeberkan, pengasapan akan dimulai jika janggel jagung yang sudah dibakar itu muncul baranya. Untuk kunci keberhasilan pengasapannya, jelas Murjiah, yakni dengan menjaga api agar tidak hidup dan stabil. Sedangkan untuk durasi pengasapannya, tergantung ukuran dan jenis ikan.

Selama berjualan ikan asap ini, Murjiah mengakui, keuntungan yang ia dapat cukup lumayan.

“Harga beli ikan basah misalnya, Rp 15 ribu per kilo, jika sudah diasapi, harganya bisa meningkat separuh menjadi Rp 30 ribu per kilo,” aku perempuan yang lapaknya berada di selatan Pasar Ikan Lamongan, jalan Kusuma Bangsa.

Murjiah, salah satu penjual ikan asap di Lamongan di sela-sela aktivitasnya.

Sementara itu, Atik, putri Murjiah yang setiap hari turut mendampingi ibunya di lokasi pengasapan mengatakan, untuk mendapatkan peningkatan harga ikan asap itu ia harus sedikit bersusah payah, karena harus dikepung dan berjibaku dengan kepulan asap.

“Sedikit rekoso, demi mendapatkan tambahan hasil. Ya begini mas, semoga diberikan kelancaran dan kemudahan selama bekerja. Kalau asap terus mengepul berarti ya kata Atik.

Hingga saat ini, Atik mengungkapkan, jika setiap hari lapaknya selalu ramai. Bahkan, lebih ramai dibanding tahun sebelumya saat pandemi Covid-19 sedang terjadi. Banyak pengguna jalan yang membeli ikan asapnya saat melintas. “Alhamdulillah, lumayan ramai. Terutama saat puasa kemarin, banyak yang beli,” tandasnya.[riq/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar