Gaya Hidup

Karena Cinta, Luka pun Bisa Jadi Tawa

HIIB: Kisah-Kisah Inspiratif Dokter Indonesia-Cinta, Tawa dan Luka

Surabaya (beritajatim.com) – Dokter dan paramedis menjadi sorotan di era pandemi Covid-19 saat ini. CEO Padmedia Publishers Wina Bojonegoro diam-diam memikirkan langkah apa yang bisa dilakukan sebagai bentuk gerakan dukungan kepada para dokter. Sudah banyak yang mengulas perjuangan para dokter dalam menangani pasien pandemi, bagaimana mereka berjuang dengan APD, berjibaku dengan waktu, meninggalkan keluarga, dan sebagainya.

“Mari sejenak menepi, memberi ruang kepada para dokter untuk menjadi dirinya sendiri. Menjadi diri dengan segala perang batin dan kondisi, itulah tujuan kami,” katanya.

Karena itulah Padmedia membuka ruang kebebasan agar tulisan yang mengalir dari benak para dokter menjadi semacam oase di tengah riuhnya hal-hal yang sudah mainstream. Batasannya hanya satu: jumlah halaman tulisan.

Pengumuman dilakukan pada 15 Juli 2020. Ternyata, dengan tenggat yang tidak terlalu lebar, hingga 9 September 2020, Padmedia menerima sekitar 60 naskah. Lantas, hanya dipilih 25 karya agar buku ini tak terlalu tebal, bisa dimasukkan ke dalam tas, dan bisa dibawa ke mana-mana.

Pertimbangan selain keunikan kisah dan daya tarik cerita tentu adalah value apa yang dapat dipetik dan disimpan dalam kotak ingatan paling dalam. Padmedia Publishers dengan bangga mempersembahkan Hidup Ini Indah Beib (HIIB) Keenam: Kisah-Kisah Inspiratif Dokter Indonesia: Cinta, Tawa, dan Luka.

Launching buku tersebut berlangsung secara daring pada Minggu, 14 Februari 2021. Pada acara tersebut diselenggarakan pula seminar Tips Menulis Populer dengan menghadirkan Doan Widhiandono, S.Sos, M.Ikom serta bedah buku Hidup Ini Indah Beib (HIIB) Keenam: Kisah-Kisah Inspiratif Dokter Indonesia: Cinta, Tawa, dan Luka oleh Vika Wisnu.

Ternyata banyak sekali kisah menarik dan renungan dahsyat dari buku ini. Misal, pada tulisan dr. Willy Kumurur, MPH, kami menemukan pelajaran berharga bahwa menjadi dokter adalah menyediakan telinga selebar-lebarnya bagi pasien karena itulah healing sesungguhnya.

Dari tulisan Dr. dr. Inge W. Benjamin, MSi kita mendapat pelajaran bahwa nafsu itu adalah api yang membakar bukan saja hidup kita, melainkan juga hidup anak-anak masa depan. Dari drg. Aulia Rizki Nurdiana, kita menarik pelajaran bahwa dokter juga manusia, bisa sakit, bisa stres, dan mungkin butuh pertolongan.

Ada kisah menarik dari dr. Stephanie Angela Prijanto bahwa kematian tetap menjadi pertanyaan besar, akan ke mana kita setelah itu? Itu selaras dengan renungan dr. Sak Liung Sp.KJ tentang kematian yang tetap menjadi perenungan tiada habis. “Kematian adalah pasti. Kehidupan itu tidak pasti,” ungkap psikiater dari Yogyakarta ini.

Dari dr. Rosilawati Anggraini, MD kita dapat memetik pelajaran bahwa menjadi dokter itu bisa go international. “Peluang bekerja tanpa batas terbuka lebar bagi para dokter, termasuk pekerjaan antimainstream dan kesempatan melanglang buana,” ujarnya.

Sebaliknya, ada beberapa kisah dari pedalaman yang unik, lucu, menyedihkan namun menguatkan, antara lain pengalaman dr. Tigor Silaban, MKM(Epid) yang harus melakukan operasi tidak lazim, dr. Yohannes Dian Indrajati, Sp.KG yang harus menjelajah wilayah Timor dengan sepeda motor demi tugas kemanusiaan, dan dr. Stephanie Rachel Salmima yang menjadikan tugas PTT sebagai sebuah kegiatan adventure agar dapat menikmatinya hari ke hari.

Tulisan menarik juga dapat dibaca dari renungan dr. Zhara Vida Zhubika. Menjadi dokter perempuan itu tidak mudah, terutama saat harus berperan sebagai ibu, istri, dan pelayan masyarakat. Hal ini serupa dengan pilihan dr. Anda Marzudinta yang memilih menjadi dokter jurnalis, yang akhirnya harus memilih karir sebagai full time mom.

Renungan menarik datang dari dr. Tya Suharminto yang menjadikan sindiran dan rasan-rasan sebagai pemicu pilihan profesi. “Dokter identik dengan kutu buku? Tidak selalu. Dokter bisa cantik dan elegan seperti putri-putri kecantikan,” ungkapnya.

Sementara dr. Sylvia Tanumihardja, Sp.S mendapat pelajaran kehidupan penting dengan membaca perjalanan hidup para pasien, betapa umur manusia dan penyakit adalah hak penuh Sang Mahakuasa.

Dokter Tarida Lidya Tiarma Ida Manik, Sp.KK memiliki pengalaman pertama yang unik dengan pasien penyakit kulit, dr. Ayu Pramitha Wulandari. M.Biomed yang akhirnya harus menanggung derita sebagai pasien Covid-19 karena tugasnya, dan dr. Marintik Ilahi, Sp.KJ dengan suka dukanya sebagai dokter yang mendampingi jamaah haji. Bahkan ada perjuangan gigih dari drg. Tania Saskianti, Sp.KGA(K), Ph.D yang harus mengikuti ujian masuk perguruan tinggi sampai tiga kali, agar dapat menyandang profesi dokter.

Dokter Elta Diah Pasmanasari, Sp.S, MSi.Med memiliki kendala bahasa dengan penduduk lokal yang membuat pembaca ngakak-ngakak karena menimbulkan kesalahpahaman. Sementara dr.Hafiidhaturrahmah justru terjebak rindu pada pedalaman Nusa Tenggara.

Kadang dokter juga harus merangkap menjadi montir atau tukang bengkel, seperti yang dialami dr. Mudjiharto, Sp.An dan dr. Mas’ud Ruga Idris. Sementara dr. Ayu Nur Ain H., Sp.KK harus bisa menjadi konselor bagi anak gadis yang menerima pelecehan seksual. Oh, betapa kisah-kisah tersimpan ini akan memperkaya literasi kesehatan dan kemanusiaan.

Kisah pilu dan menjadi kepedihan bagi seorang dokter dialami dr. Bani Zakiah. Dia suatu ketika menyaksikan ketidakberdayaan pasien perempuan yang tak memiliki kekuatan, meski nyawa taruhannya. “Masih banyak perempuan teraniaya di tanah air ini, bahkan oleh keluarganya sendiri,” beber dokter dari Pemalang tersebut. Itu serupa yang dialami dr. Putu Sri Agung Paramita Kelakan, S.H yang harus bergumul dengan tanah becek dan medan berbahaya. Di antara itu semua, ada dr. Nurul Fathoni, M.Kes yang berjuang menguatkan hati pasien remaja yang terancam amputasi.

Tak sekadar berbicara penyakit, darah, kecelakaan, dan ketidakberdaaan. Pembaca akan dibuat gemas dengan kondisi Indonesia yang demikian luas dan memprihatinkan, hingga fasilitas kesehatan merupakan sebuah kelangkaan bagi saudara-saudara kita di pedalaman.

Namun, selebar apa pun luka-luka itu mendekam dalam tubuh para dokter ini, tetap akan tercipta tawa di antaranya, sebab mereka kaya dengan cinta. Hanya cinta yang mampu menggerakkan hati dan tubuh untuk menjelajah, berbuat, dan berbuat. [kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar