Gaya Hidup

Hewan Liar Baluran Bebas Keluar di Tengah Pandemi Covid-19

Banyuwangi (beritajatim.com) – Berbagai macam satwa liar di Taman Nasional Baluran, Situbondo seolah mendapat angin segar imbas dari pandemi Covid 19 saat ini. Mereka dapat hidup bebas menikmati suasana alam habitatnya dengan aman dan nyaman.

Sejumlah hewan endemik yang biasa terlihat di sekitar kawasan hutan nampak berinteraksi dan berkativitas bersama kawanannya dengan tentram. Kera ekor hitam yang kerap menyapa pengunjung di sekitar Pos Bekol kini mereka tak hirau lagi.

Mereka asyik bermain, bercanda bahkan berpacaran dengan pasangan. Tak lagi ada dompet, makanan di tas, atau motor dan mobil yang acak-acakan. Monyet bernama latin Macaca fascicularis itu lebih tertarik dengan alamnya.

Kawanan kerbau liar adem ayem mandi di tengah kubangan savana. Berbaur rukun dengan para burung yang sesekali hinggap di atas tubuhnya yang berburu kutu.

Burung-burung tak lagi malu bernyanyi di kejauhan atau diketinggian. Mereka memadu panggung hingga di rating pohon terendah, bahkan menari di jalanan.

Terlihat juga bermacam jenis burung di tempat ini yang sebelumnya sulit dijumpai. Misalnya, burung gelatik, takur ungkut-ungkut atau coppersmith barbet, jenis elang dan masih banyak lagi jenis burung yang menyapa.

Khusus burung takur ungkut-ungkut ini, mereka bahkan membuat sarang sangat dekat. Burung berukuran sedang dengan tubuh berwarna hijau, kepala berwarna merah, dan dadanya yang bergaris-garis ini terlihat sedang merawat anaknya di pohon tepi pantai Bama yang hanya berjarak 4 meter dari tanah.

Ada pula Jelarang si bajing raksasa tampak asyik mencari makan. Hewan dengan nama latin Ratufa bicolor tampak tak terusik.

Bahkan yang menarik perhatian, sejumlah predator langka yang sulit dijumpai hadir di tengah pandemi ini.

Salah satu contohnya, hewan buas berjenis anjing hutan atau biasa disebut Ajag. Satwa ini merupakan predator alami bagi kawanan rusa, banteng maupun kerbau liar di hutan Baluran.

Hewan ini lama tak terlihat di kawasan Padang Savana Bekol, sebuah lahan penggembalaan semi alami yang terkenal di TN Baluran. Kawasan ini bahkan sering disebut pula Africa Van Java karena eksotisme tempat ini layaknya hutan di Benua Afrika.

Pada Jumat (5/6/2020) sore, segerombol Ajag tampak mengendap mengatur strategi buruannya. Sesaat kemudian, anjing bercorak coklat kemerahan itu berlari mengejar kawanan rusa yang tengah makan di tengah padang savana.

Sontak, kawanan rusa mulai panik hingga terpecah beberapa kelompok. Bak film dokumentasi satwa di channel televisi, hewan bertinggi sekitar 30 centimeter itu mulai mengepung.

Benar-benar membuat indera tergugah, tercengang, terperanga bahkan sesekali merinding melihatnya. Tak berhenti di sini, pertahanan masa rusa tak mudah ditembus.

Layaknya permainan football Amerika bahkan football pada umumnya yang memiliki formasi, rusa ini pun juga. Meskipun tak mengenal formasi 4-4-2 atau 4-3-3 ala Barcelona.

Begitu pun anjing asli nusantara ini. Pantang pulang sebelum kenyang. Mereka berjuang sampai titik rusa kehabisan darahnya.

Lengah, satu rusa kecil seukuran anjing itu berhasil diterkam. Jerit merintih terdengar lirih. Berbanding jeritan sang induk yang tampak meronta karena buah hati kesayangannya jadi santapan pesta makan malam.

Senja pun mulai menghilang, berganti malam yang datang. Cahaya redup mulai menciptakan sunyi.

Begitupun dengan keberadaan aksi kawanan ajag yang kian tak terlihat. Tubuhnya yang mungil terselip di antara rumput-rumput dan perdu.

Satwa liar lain yang sering menampakkan ekornya yaitu Banteng. Hewan bernama lain Bos Javanicus itu tak lagi sulit bersembunyi.

Corak warnanya yang khas, moncong hitam, bagian kaki dan pantatnya berwarna putih sangat mudah dikenali. Kerap muncul melintas di antara semak belukar bersama kawanannya.

Semasa pandemi Covid 19, Taman Nasional Baluran ditutup untuk umum maupun wisatawan. Hingga kini, belum ada kepastian pembukaan kembali kawasan tersebut.

Kondisi ini yang mempengaruhi perilaku satwa liar di taman nasional sisi utara perbatasan Banyuwangi itu. Taman Nasional Baluran menyimpan ratusan spesies, baik hewan maupun tumbuhan.

“Ya kawasan ini memang kita tutup mulai 30 Maret sampai hari ini masih kita tutup. Dampak dari itu semua ini memang sekarang sepi,” kata Kepala Balai Taman Nasional Baluran, Situbondo, Pudjiadi, Sabtu (6/6/2020).

Situasi sepi membuat hewan-hewan lebih bebas keluar. Bahkan, hewan jenis predator.

“Begitu juga perilaku satwa yang juga berubah. Pada saat musim kunjungan satwa itu juga muncul tapi saat-saat ini mereka lebih sering muncul di savana. Hampir bisa dikatakan tidak ada gangguan dan mereka bebas begitu. Bahkan satwa predator seperti macan tutul dan Ajag lebih intens muncul keluar,” kata Pudjiadi. [rin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar