Gaya Hidup

Hari Raya Kenaikan Isa Almasih, Ini Kata Pendeta GKI Bajem Windu Karangbinangun Lamongan

Pdt Ngatino S Th

Lamongan (beritajatim.com) – Bukan sebuah hal yang kebetulan jika tahun ini, umat Kristiani dan umat Islam merayakan perayaan hari raya di hari yang sama, yakni pada Kamis (13/5/2021) lalu, yang merupakan hari istimewa bagi umat Kristen dan umat Islam. Pasalnya, Umat Kristen merayakan hari raya kenaikan Yesus Kristus ke surga, sedangkan umat Islam merayakan hari raya Idul Fitri 1442 Hijriah setelah berpuasa sebulan penuh.

Pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI) dan Pembina Bakal Jemaat (Bajem) Windu Karangbinangun Lamongan, Pdt Ngatino S Th mengungkapkan, bahwa kita harus mengakui bahwa waktu yang bersamaan itu lterjadi bukan karena pengaturan dan kehendak manusia, melainkan dalam rencana dan kehendak Tuhan.

“Paling tidak melalui peristiwa hari raya kenaikan Yesus Kristus dan hari raya Idul Fitri kemarin, hal tersebut bisa menjadi momen untuk mempererat toleransi antar umat beragama di Indonesia,” ungkap Ngatino, Selasa (25/5/2021).

Pemaknaan Kenaikan Yesus Kristus

Lebih mendalam tentang pemaknaan kenaikan Yesus Kristus, Pendeta Ngatino menjelaskan, bahwa hari raya kenaikan Yesus Kristus (Isa Almasih) ke surga itu, merupakan hari raya gerejawi yang berkaitan erat dengan hari raya Paskah.

“Hari raya Paskah itu sendiri dalam tradisi kitab suci diperingati sebagai berikut, pertama, peringatan keluarnya bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Kedua, sebagai peringatan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Sedangkan¬† peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke surga itu terjadi pada 40 hari setelah hari raya Paskah,” jelasnya kepada¬†beritajatim.com

Ngatino menerangkan, bahwa Peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke Surga dicatat dalam injil Markus 16 : 15-20 ; Lukas 24 : 48-53 ; dan Kitab Kisah Para rasul 1 : 6-11. Menurutnya, Yesus Kristus naik ke surga itu memiliki makna yang sangat kaya dalam Alkitab. Kenaikan Kristus berarti penebusan yang sudah selesai dan sekarang Kristus memerintah di surga.

“Dalam pemaknaannya, kenaikan Yesus Kristus ke surga itu, bukan hanya sebatas mengingatkan kepada umat bahwa peristiwa tersebut sudah terjadi dan hanya dimaknai dengan perayaan hari raya kenaikan belaka, yang terpenting peristiwa tersebut sebenarnya ingin kembali menyerukan kepada kita untuk mengerjakan pekerjaan Illahi yang dahulu dipercayakan kepada para murid, yakni menjadi saksi dari kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Itu berarti mereka harus menjadi alat Tuhan untuk membawa pesan damai sejahtera bagi seluruh umat manusia. Begitu juga umat Kristen yang hidup di zaman sekarang, juga dipanggil menjadi alat Tuhan untuk membawa perdamaian dan kesejahteraan di muka bumi. Sekaligus, dipanggil untuk menebarkan cinta kasih Kristus di mana pun berada,” terangnya dengan ramah.

Panggilan menebarkan cinta kasih Kristus, Ngatino melanjutkan, harus terus dinyatakan kepada dunia, terutama di saat situasi bangsa dan Negara yang sedang dirudung oleh cobaan berat karena pandemi Covid 19 ini.

Kenaikan Yesus Kristus dan Relevansinya di Saat Pandemi

Diketahui, pandemi Covid 19 sudah mewabah di 209 negara di dunia. Dan di Indonesia sudah menyebar di 32 provinsi. Virus mematikan ini telah mengguncang semua sendi kehidupan manusia. Ada jutaan orang meninggal di dunia, jutaan orang yang terinfeksi, perekonomian terpuruk, hingga muncul pengangguran karena banyak yang terkena PHK dan lain sebagainya.

Dalam situasi seperti itu, Pdt Ngatino menyampaikan, orang Kristen harus terpanggil untuk turut mencegah penyebaran Covid 19.

“Sejak bulan maret 2020 yang lalu, kebaktian di gedung gereja tidak diadakan. Para pemimpin umat menyerukan umat Kristen untuk beribadah di rumah, yang disiarkan secara live streaming melalui Youtube, Zoom dan stasiun Televisi. Sampai saat ini pun sebagian besar gereja masih mengadakan ibadah secara live streaming. Kalaupun sudah ada gereja yang buka, maka harus dijalankan dengan protokol kesehatan (prokes) yang ketat,” tutur Pendeta GKI Windu tersebut.

Oleh sebab itu, lanjut Ngatino, dalam semangat rangkaian hari raya Paskah sampai kenaikan Yesus Kristus ke surga, umat Kristen juga dipanggil untuk mendukung Pemerintah melalui program prokes dan vaksinasi. Dengan cara demikian, sesungguhnya umat kristiani juga telah berjuang dalam menyelamatkan kehidupan.

“Sudah barang tentu, program penghentian penyebaran Covid 19 ini bukanlah persoalan yang mudah. Untuk itu, diperlukan kerjasama yang baik lintas sektoral bahkan lintas agama agar masyarakat sadar dalam mentaati prokes dan mendukung program vaksinasi yang dilakukan,” lanjutnya

Di akhir penjelasannya, Pdt Ngatino berharap, bahwa semua elemen masyarakat bersama Pemerintah harus bahu membahu dalam usaha perjuangan untuk menyelamatkan kehidupan melalui pencegahan mewabahnya Covid 19. Sekaligus berusaha menurunkan ego, apapun latar belakang agamanya, apapun sukunya, apapun rasnya, semua harus peduli terhadap keselamatan sesama bangsa dan saling cinta kasih dalam bingkai persaudaraan di Republik Indonesia.

“Mari kita berjuang bersama untuk menyelamatkan kehidupan, untuk Indonesia yang kita cintai. Soli Deo Gloria. Segala kemuliaan hanya bagi Allah,” pungkasnya.[riq/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar