Gaya Hidup

Gunung Gede Tatung, Venue Paralayang dengan Panorama Menakjubkan

Ponorogo (beritajatim.com) – Bumi Ponorogo diberkahi oleh lanskap yang menakjubkan. Selain Telaga Ngebel, berbagai destinasi wisata alam baru terus bermunculan. Salah satunya perbukitan Gunung Gede di Desa Tatung, Kecamatan Balong. Perbukitan yang terdiri dari Gunung Gede sisi timur dan sisi barat itu menyuguhkan pesona alam yang cantik, asri dan masih alami.

Bukit yang berketinggian 265 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu menyajikan pemandangan nan indah dari puncaknya. Kita bisa melihat indahnya matahari terbit dan tenggelam. Bahkan jika beruntung, kita bisa melihat gulungan awan putih yang mengelilingi puncak Gunung gede. Seakan-akan kita berada di atas awan. Selain keindahan panorama alam, Gunung Gede juga menjadi venue olahraga paralayang pertama di wilayah Eks-Karesidenan Madiun.

Lokasi Gunung Gede berada di selatan pusat kota Ponorogo. Jaraknya hanya 12 kilometer atau hanya 22 menit perjalanan menggunakan sepeda motor. Tidak ada tiket masuk ke wisata itu. Pengunjung hanya dikenakan retribusi parkir. Wisata Gunung Gede saat ini dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Taruna Hebat.

‘’Kalau sepeda motor tarif parkirnya Rp 3.000, sedangkan sepeda hanya Rp 2.000,’’ kata anggota Pokdarwis Taruna Hebat Dian Setyo Kristiono, kepada beritajatim.com.

Karena tergolong objek wisata minat khusus, Pokdarwis Taruna Hebat fokus mengembangkan venue paralayang di Gunung Gede. Berbagai fasilitas disiapkan. Seperti tempat parkir, toilet, memperbanyak tempat cuci tangan, dan tempat sampah. Pokdarwis ingin mencitrakan Gunung Gede sebagai venue Paralayang yang indah, bersih dan asri.

‘’Kami perhatikan betul kebersihan dari objek wisata Gunung Gede. Sebab, pengunjung akan menilai objek wisata dari kebersihannya,’’ katanya.

Pada tahun 2018, Gunung Gede dinyatakan layak sebagai venue paralayang oleh Federasi Aerosport Seluruh Indonesia (FASI) Jawa Timur untuk menggelar Liga Paralayang Seri 4 Jatim. Pemerintahan Desa (Pemdes) Tatung bergerak cepat untuk segera memperbaiki infrastruktur. Anggaran Rp 115 juta dialokasikan untuk pemasangan paving stone hingga ke puncak bukit.

‘’Salah satu syarat untuk bisa jadi venue paralayang itu, harus bisa diakses minimal dengan kendaraan roda dua sampai ke atas bukit. Karena itu kami anggarkan perbaikan jalan,’’ kata Kepala Desa Tatung Rudi Sugiarto.

Oleh FASI, Gunung Gede dinilai sebagai venue paralayang unggulan di Madiun Raya. Lokasinya dekat dengan pusat kota sehingga mudah dijangkau. Di lokasi, atlet maupun pengunjung bisa naik turun bukit dengan mudah. Biasanya, bukit yang digunakan untuk venue paralayang punya karakteristik tebing curam. Namun di Gunung Gede, semua tebingnya landai.

Setelah sukses pada gelaran pertama, tahun 2019 Tatung kembali dipercaya sebagai tuan rumah Liga Paralayang Seri 2 Jatim. Sedianya tahun ini, Gunung Gede juga ditunjuk lagi untuk menyelenggarakan kejuaraan paralayang bergengsi di Jawa Timur itu. Namun, karena terkendala izin, Tatung akhinya mengundurkan diri menjadi tuan rumah Liga Paralayang se-Jatim.

‘’Terkendala karena pandemi Covid-19 ini. Kita tidak bisa kalau harus membatasi penonton sebab antusiasme warga Ponorogo untuk melihat paralayang di Desa Tatung tinggi,’’ ungkap kepala desa yang sudah menjabat dua periode itu.

Rudi ingat betul, betapa Liga Paralayang 2018 lalu menjadi mesin penggerak ekonomi masyarakat desa setempat. Bagaimana tidak, event tersebut mengerek angka kunjungan di Tatung hingga 6.000 orang, selama tiga hari acara digelar. Beberapa warga berinisiatif berjualan makanan dan minuman. Ada juga yang menggelar warung tenda yang menyediakan makanan dengan menu khas desa. Para pemudanya juga sukses menjual merchandise seputar paralayang. ‘’Sudah pasti, sejak Gunung Gede ramai pengunjung, ada roda ekonomi yang berputar disana,’’ katanya.

Gaung olahraga paralayang bahkan mampu menggugah minat warga setempat. Saat ini ada 15 warga Tatung yang menjadi atlet paralayang. Lahirnya atlet-atlet potensial asli Tatung ini tak lepas dari peran Kementrian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Sejak venue paralayang dibuka di Gunung Gede, mereka memberi dukungan. Mulai bantuan infrastruktur, peralatan paralayang, hingga bantuan biaya pendidikan dan pelatihan untuk calon atlet paralayang.

‘’Saat ini kami mempunyai 6 parasut bantuan dari kementerian. Ini lumayan menunjang untuk latihan, meski harus bergantian memakainya,’’ kata Rudi.

Digelarnya event paralayang membuat Gunung Gede dan Tatung semakin terkenal. Supaya pengunjung betah berlama-lama di objek wisata itu, pengembangan pun terus dilakukan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Tatung. Salah satunya dengan dibangunnya Taman Paralayang di lereng bukit itu. Juga dibangun panggung terbuka yang bisa digunakan untuk menggelar berbagai acara. ‘’Taman dan panggung terbuka ini merupakan bantuan dari Kemendes PDTT,’’ kata Rudi.

Paralayang yang menggeliat di Tatung merupakan potensi yang harus terus dikembangkan. Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tatung Yitno menilai, Gunung Gede dan olahraga paralayang adalah dua kombinasi yang terbukti mampu menggerakkan perekonomian desa. Data yang dimilikinya, ada 20 pedagang berjualan di Gunung Gede. Warga di seputar lokasi juga tak kalah ketiban berkah. Saat perlombaan berlangsung, rumah mereka dijadikan home stay untuk para atlet dari luar kota.

‘’Jadi ada 20 homestay yang penuh saat event Liga Paralayang. Warga setidaknya mengantongi Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta bagi rumahnya yang dijadikan tempat untuk penginapan para atlet,’’ kata Yitno.

Pemuda pemudinya pun juga tidak kalah beruntung. Saat perlombaan, mereka punya pekerjaan sampingan. Ada yang menjaga parkir, ada pula yang menjadi ojek bagi atlet maupun pengunjung yang ingin naik ke puncak Gunung Gede. Tarif ojek ke puncak Rp 20 ribu untuk sekali naik dan turun bukit.

‘’Saya yakin, paralayang di Tatung ini sebagai pemantik, membuka jalan agar desa bisa semakin berkembang,’’ pungkasnya. [end/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar