Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Gowes Bareng di Telaga Ngebel Ponorogo, Cari Sehat dan Nikmati Durian

Komunitas gowes Gresik sepeda Sehat di Telaga Ngebel

Ponorogo (beritajatim.com) – Tepat pukul 05.05 WIB, hari Sabtu (5/3/2022), dua unit minibus bergerak dari perumahan Gresik Kota Baru (GKB), Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Tujuannya, Telaga Ngebel di Desa Ngebel, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jatim.

Kedua minibus itu mengangkut 34 orang penghobi sepeda gunung (Goweser) dari 4 komunitas gowes di Gresik: Wisk Penksiun Community (WPC), Saiman Gowes Community (SGC), Taman Enggano Community (TEC), dan Semongko Community.

Jauh-jauh dari Gresik ke Telaga Ngebel Ponorogo yang berjarak lebih 200 kilometer (KM), para penghobi gowes itu ingin bersepeda di kawasan wisata alam yang terkenal di Bumi Reyog tersebut.

“Ada juga komunitas gowes dari Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jateng yang ikut gowes bareng ini,” kata Sony Suwono (68), Ketua WPC kepada beritajatim.com.

“Kita gowes itu yang penting happy (bahagia). Saya berhalangan ikut serta ke Ngebel karena cedera saat gowes bareng di Gresik beberapa hari sebelumnya,” tambah Saiman (68), pendiri dan Ketua komunitas gowes SGC.

Perasaan happy secara batiniah dan sehat secara fisik akan meningkatkan kualitas imunitas orang. “Happy dan merajut persaudaraan,” tambah Saiman tentang tagline komunitas SGC rutin setiap hari Selasa berkumpul di Gressmal Gresik untuk gowes bareng.

Komunitas gowes dari Cepu, Blora Jateng yang nimbrung acara gowes bareng di Telaga Ngebel adalah Paituwa Azwaja Cepu. Klub gowes ini dipimpin Haryanto. “Senang sekali diberikan kesempatan gabung gowes bareng di Ngebel Ponorogo,” ukar Haryanto.

HUT WPC Kelima

Di kalangan penghobi gowes di Gresik dan sekitarnya, ada istilah populer di kalangan mereka: tambah rute tambah dulur. Dua poin penting kegiatan gowes bareng adalah menjaga dan meningkatkan kesehatan fisik. Poin kedua, meningkatkan, memperkuat, dan menambah persaudaraan. “Setelah gowes ya makan dan ngopi bareng,” tegas Sony yang dibenarkan M Thamrin dari komunitas gowes TEC.

Keempat komunitas gowes dari Gresik dan satu komunitas lainnya dari Cepu, sepakat gowes bareng tentu didasari nilai persaudaraan dan kesehatan. “Tak ada yang lain,” kata Parno (49) dari Semongko Community.

Perjalanan cukup jauh, lebih dari 200 kilometer, tak membuat para penghobi gowes ini capek dan suntuk. Mereka senang, happy, dan bersemangat gowes bareng di Telaga Ngebel. “Cari suasana lain,” tukas Asripan, penggowes yang pensiunan PT Petrokimia Gresik Persero.

Komunitas gowes Gresik sepeda Sehat di Telaga Ngebel

Setelah perjalanan sekitar 3 jam 15 menit, tepat pukul 08.15 WIB, sebanyak 34 penggemar gowes dari 4 klub asal Gresik tiba di Telaga Ngebel. Kedatangan mereka beriringan dengan 3 penggowes lainnya dari klub Paituwa Azwaja Cepu.

“Alhamdulillah perjalanan lancar dari Gresik ke Ngebel. Dan kita difasilitasi Pak Dwi, Camat Ngebel, untuk memakai pendopo kecamatan sebagai tempat loading, unloading, dan keperluan lainnya,” tambah Suharto dari komunitas SGC.

Dwi belum lama menjabat sebagai Camat Ngebel. Birokrat karir yang ramah, santun bertutur kata, dan komunikatif ini baru menjabat sebagai orang pertama di Kecamatan Ngebel pada 1 Maret 2022. Penggemar gowes dari Gresik dan Cepu, bisa jadi, merupakan tamu pertama berombongan yang diterima Dwi sebagai Camat Ngebel.

“Tak banyak jamuan bisa kami sediakan. Hanya teh, kopi, dan makanan kecil polo pendem. Mohon maaf jika ada kekurangan,” kata Dwi saat ditemui di kawasan Telaga Ngebel.

Spirit gotong royong yang jadi landasan para penggemar gowes dari Gresik menggelar kegiatan gowes bareng di Telaga Ngebel. Dibutuhkan biaya tak sedikit untuk mewujudkan keinginan tersebut.

“Ada urunan bersama yang telah dipatok panitia dengan nilai tertentu, prinsipnya tak memberatkan dan semua penggowes yang ingin ikut serta bisa berangkat. Ada pula tambahan dukungan dan donasi dari penggowes lainnya,” jelas Sony yang pensiunan PT Semen Gresik (Persero) Tbk.

Kegiatan gowes bareng di Telaga Ngebel ini sekaligus memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-5 klub WPC. Komunitas gowes yang anggotanya sebagian besar anggotanya pensiunan karyawan BUMN, swasta, dan instansi pemerintah di Gresik ini berdiri sejak 5 tahun lalu. Kini, klub gowes ini punya anggota lebih dari 40 orang. “Kita cari sehat dan saudara. Bukan kuat-kuatan dan menang-menangan,” tegas Hidayat, bendahara klub WPC.

Acara HUT WPC ke-5 berlangsung di Pendopo Kecamatan Ngebel setelah kegiatan gowes bareng kelar. Sebanyak 37 penggowes dari Gresik dan Cepu berkeliling Telaga Ngebel beberapa kali. Sebagian penggowes ada yang ingin menjajal rute yang lebih menantang di beberapa desa di sekitar Telaga Ngebel.

“Ada air terjun yang jaraknya sekitar 7 KM dari Telaga Ngebel. Asyik juga gowes ke sana walau jalannya naik-turun,” kata Pak Black (62), penggowes pensiunan PT Petrokimia Gresik yang juga warga Perumahan Pongangan Gresik.

Rata-rata peserta gowes bareng di Telaga Ngebel usianya antara 40 tahun sampai 79 tahun. Jamiran (79), pensiunan PT Semen Gresik adalah peserta paling tua. Jamiran yang asli Ponorogo aktif gowes secara rutin sebanyak 3 kali seminggu di Gresik.

Kendati usianya telah menginjak 79 tahun, Jamiran yang hobi ngopi dan masih suka merokok kretek ini berpendapat, kegiatan gowes bareng membantu menjaga kesehatannya di usia tua. Dalam sehari, Jamiran biasa ngopi sebanyak 3 kali. “Itu minimal. Yang penting happy, sehingga penyakit tak nyedak (tak mendekat),” tukasnya tersenyum sambil nyeruput kopinya.

Keelokan Ngebel dan Manisnya Durian

Berlokasi sekitar 750 meter dari permukaan laut, Telaga Ngebel yang berada di Desa Ngebel, Kabupaten Ponorogo berhawa sejuk dan dingin. Suhu di kawasan Ngebel berkisar 20-26 derajat Celsius. Sehingga hawa di kawasan Telaga Ngebel terasa nyaman dan enak dinikmati.

“Di Gresik hawanya panas, di sini sejuknya bukan main. Rasanya betah tinggal di Ngebel,” kata Zainal (52), penggowes dari klub Semongko, yang juga karyawan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

Secara kasatmata, Telaga Ngebel luasnya tampak lebih besar dibanding Telaga Sarangan di Kabupaten Magetan. Telaga Ngebel yang berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Ponorogo ukuran kelilingnya sekitar 5 kilometer. Berada di kisaran 20-26 derajat Celcius, suhu dingin nan sejuk membuat pengunjung makin nyaman dan betah mengunjungi Telaga Ngebel.

Komunitas gowes Gresik sepeda Sehat di Telaga Ngebel

Berdasar catatan sejarah yang ada, pasokan air ke Telaga Ngebel dari berbagai sumber yang ada di sekitar telaga tersebut. Sumber air yang cukup deras berasal dari Kanal Santen. Selain itu, ada sebuah sungai yang mengalir di Telaga Ngebel yang di bagian hulunya terdapat di air terjun Toyomarto.

Legenda Telaga Ngebel ini, konon ceritanya, terkait erat dan memiliki peran penting dalam sejarah Ponorogo. Konon salah seorang pendiri daerah ini, yakni Batoro Katong sebelum melakukan syiar Islam di Ponorogo menyucikan diri terlebih dahulu di mata air yang ada di dekat Telaga Ngebel, yang kini dikenal sebagai Kucur Batoro.

Dengan airnya yang jernih, bersih, tenang, luasan telaganya yang cukup besar dikelilingi pepohonan berusia ratusan tahun, Telaga Ngebel menawarkan pesona wisata alam yang merakyat dan menyehatkan. Tak ada pencemaran di Ngebel.

Selain itu, wisatawan di Telaga Ngebel pasti tertarik dengan berbagai hasil bumi dari Ngebel dan sekitarnya, terutama buah durian. Ngebel terkenal dengan buah duriannya yang manis dan pahit bercampur aduk jadi satu. Sehingga penikmat dan menyuka buah durian tak terasa bisa menghabiskan dua, tiga, empat, dan lima buah durian Ngebel. “Yang terbaru ada jenis durian Mrica yang terkenal dari Ngebel,” kata Wandi (32), pedagang durian di Telaga Ngebel.

“Tak ada durian yang tak enak di Ngebel. Semuanya enak dan harganya murah. Makanya, saya suka berwisata ke sini. Selain gowes, ojok lali (jangan lupa) menikmati durian Ngebel,” tegas Bambang Cahyo Utomo, penggowes dari klub TEC GKB Gresik.

“Dengan gowes bareng di Ngebel, kita dapat sehat, bisa makan durian sepuasnya, tambah rute, dan nambah dulur (saudara). Kita jadi happy, imunitas naik dan kesehatan kita terus berjaga. Nikmat Allah SWT di Ngebel ini mesti kita syukuri bersama,” tandas Sony, yang dibenarkan Hidayat. [air/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar