Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Gerbang Istana Bhre Wengker di Situs Kumitir Dibangun dengan 2 Teknik

Penampakan Situs Kumitir di Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto tahap keempat.

Mojokerto (Beritajatim.com) – Dari hasil ekskavasi di Situs Kumitir di Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto tahap keempat ditampakkan gerbang istana Bhre Wengker yang merupakan adik ipar Ratu Tribuana Tunggal Dewi. Selain megah, gerbang istana timur tersebut dibangun dengan dua teknik.

Tim penggalian arkeologi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur melakukan ekskavasi tahap keempat selama 22 hari fokus menampakkan dinding sisi barat istana Bhre Wengker. Meski dari luas area ekskavasi tahap keempat mencapai 1200 m2, tim hanya berhasil membuka lubang galian seluas 800 m2.

Ketua Tim Ekskavasi Situs Kumitir BPCB Jawa Timur, Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, ada beberapa profil dari dinding dan tiang berhasil ditampakkan setinggi 2,95 meter sampai 3 meter. “Secara garis besar panjang galian di sisi barat yang sudah ditampakkan sepanjang 131 meter, dari barat laut menuju ke barat daya dari 203 meter,” ungkapnya, Jumat (1/10/2021).

Dari 131 meter ke arah selatan banyak struktur yang sudah rusak karena aktivitas pembuatan batu bata merah sekitar tahun 1980 an. Struktur bangunan di sisi barat merupakan gerbang yang dibangun dengan sangat megah karena bagian depan. Ada dinding, di sisi utara tebalnya 110 cm, mendekati gerbang sampai 2 meter.

“Gerbang itu sepertinya ditampilkan dengan sangat megah, dengan gapura. Sayang gapura nya runtuh dan terbongkar akibat aktivitas pembuatan batu bata merah. Selain itu, ditemukan pilar-pilar dengan jarak 12,65 meter. Pilar di sisi timur berjarak 5,5 meter sehingga sisi barat lebih lebar dari sisi timur. Masing-masing pilar tersusun dari bata merah kuno,” katanya.

Yakni sepanjang 177 cm, lebar 177 cm dan tinggi yang sudah nampak 65 cm. Di antara pipih tangga tersebut terdapat bangunan tangga yang juga dari susunan bata merah kuno. Struktur tangga yang sudah tampak lebarnya mencapai 12 meter. Sementara panjang dari barat ke timur sekitar 6 meter dengan ketinggian tangga yang berundak menuju ke pintu gerbang sekitar 2,5 meter.

“Ada dua teknik menyusun bata di sisi barat. Bagian bawah menggunakan teknik bata gosok kemudian ada profil, dilanjut dengan dinding tapi ada isian. Tanah isian jadi tidak digosok, ini yang menarik. Ternyata juga kita temukan di ekskavasi pada bulan Maret 2021 di sisi timur. Sama terutama di sudut timur laut,” urainya.

Masih kata Arkeolog BPCB Jawa Timur ini, pada saat itu masih menduga apakah struktur tersebut dibuat dalam satu jaman. Namun saat ekskavasi tahap keempat di sisi barat ternyata ditemukan struktur dengan teknik menyusun bata yang sama sehingga dipastikan satu jaman.

“Berarti satu jaman cuma dibangun dengan dua teknik yang berbeda. Berarti dia menggunakan pengerasan seperti yang cukup kompak pada bagian bawah kemudian dinding dengan menggunakan teknik space. Sama masanya. Kita menemukan jawaban di bulan September 2021 ini,” ujarnya.

Dugaan awal satu masa karena struktur antara kedua teknik menempel. Gerbang sudah tampak jelas dengan adanya pipih tangga, kurang lebih lebarnya 12 meter. Dengan pipih 12 meter bisa dibayangkan berapa tinggi gerbang dan cukup lebar pintu masuk gerbang.

“Masih menduga-duga, pertama bentuk gerbang diduga bisa paduraksa seperti Candi Bajang Ratu, bisa bentar seperti Candi Wringin Lawang. Dibutuhkan kajian khusus untuk dilakukan ekskavasi selanjutnya tapi benar itu gerbang. Dugaan sementara tipis, lebar dan tinggi. Kelihatan megah sekali,” paparnya.

Sisa-sisa bangunan gerbang istana menyambung dengan dinding yang membentang ke arah utara dan selatan. Ketebalan tembok yang terbuat dari bata merah kuno itu mencapai 199 cm. Bagian paling tinggi yang ditemukan mencapai 295 cm. Dinding sisi barat ini lebih tebal dibandingkan sisi timur Situs Kumitir yang hanya 140 cm. [tin/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar