Gaya Hidup

Gelaran Acara BBJT, Protokol Kesehatan Diberlakukan Ketat

Sidoarjo (beritajatim.com) – Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) menggelar acara Sosialisasi Optimalisasi Layanan Publik BPP Jawa Timur di Fave Hotel, Sidoarjo, Sabtu (22/5/2021). Acara tatap muka ini diselenggarakan dengan protokol kesehatan ketat.

Sebelum memasuki ruangan, petugas thermo gun untuk memeriksa suhu badan calon peserta, termasuk juga seluruh panitia. Ternyata semua lolos, tidak ada peserta maupun panitia yang suhu badannya tinggi. Begitu masuk, seluruh peserta diberi 2 masker.

Acara dibuka dengan informasi tentang protokol kesehatan. Panitia mengingatkan perihal pentingnya menjaga kesehatan dan mencegah penularan virus Corona. Juga mengingatkan pentingnya 5 M, yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas sosial dan interaksi.

Sosialisasi dari panitia mendapat respon positif dari seluruh peserta. Terbukti, selama berlangsung acara, peserta selalu mengenakan masker. Kecuali saat minum atau makan jajanan ringan.

Dra. Ovi Soviaty Rivay, M.Pd.

Sementara itu, dalam paparannya, narasumber Dian Roesmiati, M.Hum., memaparkan bahwa komunitas atau sekolah atau kampus kadang kesulitan mencari narasumber yang kompeten untuk berbicara tentang bahasa atau sastra. Kendala itu sebenarnya tidak perlu dirisaukan. BBJT memiliki banyak tenaga ahli.

“Teman-teman komunitas cukup mengirimkan surat. Tidak perlu proposal. Dalam surat tersebut dicantumkan tentang acara, jadwal, tema, dan sasaran audien. Surat ditujukan kepada Kepala Balai Bahasa Jatim. Tidak perlu menyebutkan nama narasumber yang diminta, Kepala Balai Bahasa yang nanti memilihkan narasumber yang tepat,” kata Dian, staf ahli bagian Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional (KKLP) Pembinaan itu.

Jika memang komunitas tidak memiliki anggaran untuk memberi honorarium kepada narasumber yang diminta, BBJT juga tidak memermasalahkan. “Yang terpenting, hal itu disampaikan dalam surat. Bahwa, narasumber tidak disediakan honor,” katanya.

Dr. Asrif, M.Hum.

Hanya saja, area pelayanan BBJT melingkupi seluruh kota dan kabupaten di Jawa Timur. Itu artinya, tenaga ahli dari BBJT kadang harus menerapkan skala prioritas. “Misalnya bulan April, komunitas berbarengan mengadakan acara peringatan Chairil Anwar, permintaan untuk mengirim narasumber bersamaan pula. Jika terjadi seperti itu, kami tidak bisa selalu memenuhi seluruh permintaan,” katanya.

Tidak sebatas pelayanan Narasumber, pada acara ini, BBJT mengenalkan beberapa bentuk pelayanan publik lain. Terdiri dari pelayanan Penerjemahan, Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia atau UKBI, Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA), Jalinan Media Massa, dan layanan Perpustakaan.

Ada enam pembicara yang memaparkan setiap bentuk pelayanan. Terdiri dari Siti Komariyah, S.Pd. (KKLP UKBI), Dalwiningsih, M.Hum. (KKLP Penerjemahan), Khoiru Ummatin, M.Hum. (KKLP BIPA), Dian Roesmiati, M.Hum. (KKLP Pembinaan), Ary Setyorini, S.Pd. (KKLP Jalinan Media), dan Wahyu Bharoto, S.E. (Layanan Perpustakaan).

Acara dibuka oleh Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Dra. Ovi Soviaty Rivay, M.Pd. Dalam sambutannya, Ovi berpesan bahwa mengelola Jawa Timur memiliki kesulitan tersendiri dibanding provinsi lain. Misalnya dibandingkan dengan provinsi di Indonesia bagian timur, penduduk Jawa Timur jauh lebih banyak tetapi ragam bahasanya sedikit.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Jawa Timur Dr. Asrif, M.Hum., menyatakan siap memberi pelayanan maksimal kepada masyarakat. “Ibaratnya kami ini pelayan. Kami melayani kepentingan masyarakat. Tadi sudah disampaikan 6 bentuk pelayanan dari BBJT. Nah, di acara ini, kami meminta saran dan pendapat dari para undangan tentang hal-hal yang masih harus kami benahi,” katanya. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar