Gaya Hidup

Film Bumi Manusia, Ini Kata Max Lane Kawan Baik Pramoedya

Surabaya (beritajatim.com) — Jelang rilis film, Klub Seri Buku Surabaya adakan bedah buku milik Max Lane, Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia.

Diskusi berlangsung meriah di Cafe Satu Atap Coworking Space Jalan Pacar Surabaya  dihadiri oleh puluhan Mahasiswa Politik serta komunitas Sastra di Kota Pahlawan.

Film Bumi Manusia, karya Hanung Bramantyo, dan Perburuan, karya Richard Ho yang akan tayang 15 Agustus mendatang itu, menyita perhatian para pecinta buku. Pasalnya, film tersebut merupakan adaptasi dari buku Pramoedya dengan judul yang sama.

“Kali ini kita akan berdiskusi tentang buku Max, yang menginterpretasi buku Pram, serta kaitannya dengan film yang akan hadir. Dari buku menjadi film, kita akan melihat apakah ada pengaruh pada nilai yang ingin disampaikan.” jelas Agung Hari Baskoro, Koordinator Inti Klub Seri Buku Surabaya.

Acara tersebut menghadirkan Max Lane, pemateri sekaligus penerjemah pertama Tetralogi Pulau Buru ke dalam Bahasa Inggris. Peserta diajak untuk berdiskusi mengenai korelasi kedua film tersebut dengan buku miliknya, yakni Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia.

“Proses mempelajari sejarah adalah proses mencari sebab atas akibat pada masa lalu. Dulu tidak ada Indonesia, yang ada hanya Jawa, Sunda, Bali. Kita sudah merdeka, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan!” ungkap Max dengan membara, Kamis (25/7/2019).

Seperti yang diketahui, buku-buku milik Pramoedya sempat mendapat tawaran untuk difilmkan oleh produser luar negeri. Namun semua ditolak, karna keinginan Pram untuk difilmkan oleh negeri sendiri.

“Sekarang akan dihadirkan dalam medium yang berbeda, film. Nilai-nilai yang disampaikan bisa jadi berkurang, atau bisa lebih. Karena bahasa buku dan film sering berbeda. Sekarang giliran generasi muda yang menilai.” tambahnya.

Pria asal Australia itu berharap, bahwa film adaptasi tersebut tidak kehilangan cita rasa sejarahnya. Sehingga generasi millenial yang menonton tidak hanya terfokus pada kasus percintaannya saja.

“Sebagai kawan baik Pram, saya harap filmnya pun masih menggambarkan sejarah. Jadi tidak hanya percintaan saja. Generasi kami telah gagal menciptakan Indonesia yang bebas, kini masa depan ada di tangan generasi muda.” pungkas Max Lane diakhir acara. [ddn/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar