Gaya Hidup

Face Off Jalan HOS Cokroaminoto Bakal Telan Biaya Rp 4,6 M

Kepala Bappeda Litbang Ponorogo Sumarno. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Jalan HOS Cokroaminoto dipilih untuk dipermak wajahnya. Pertimbangannya karena jalan tersebut merupakan pusat ekonomi sejak dulu. Iklim usaha perdagangan sudah hidup di jalan sepanjang 700 meter itu dari puluhan tahun lalu.

“Jadi secara umum, tahun 2020 lalu pertumbuhan ekonomi Ponorogo itu minus 0,9 persen. Nah, face off jalan Cokroaminoto itu sebagai upaya untuk membangkitkan lagi perekonomian, sebab jalan tersebut sejak dulu merupakan pusat ekonomi,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian dan Pengambangan (Bappeda Litbang) Ponorogo Sumarno, Sabtu (6/3/2021).

Anggaran face off jalan yang dulu bernama Soekarno-Hatta itu diperkirakan mencapai Rp 4,6 miliar. Untuk pembangunan pedestrian, dengan memperlebar trotoar 2,5 meter di kanan dan kiri jalan. Penambahan itu sepanjang 700 meter, mulai dari batas utara perempuan Pasar Legi hingga batas selatan, pertigaan Ngepos.

Ternyata dg perubahan ini disana perekonomian bs tumbuh, diharapkan dg pembangunan pedestrian ini bs tumbuh mengundang banyak orang yg bs dari luar ataupun di kita sendiri, karena faktanya pembatasan ini kita kan ga boleh keluar, kalau kerumunan bs diatur bagaimana memakai masker, prinsip dari pedestrian ini melebarkan trotoar 2,5 meter kanan kiri.

“Angka Rp 4,6 miliar itu sudah termasuk aksesoris untuk memperindah dan mempercantik jalan. Sedangkan untuk pembangunan pedestrian menelan biaya sekitar Rp 1,3 miliar,” katanya.

Seperti diungkapkan oleh Bupati Sugiri Sancoko, Sumarno menyebut beberapa pihak mendukung rencana face off jalan HOS Cokroaminoto tersebut. Seperti kalangan NU, Muhammadiyah, Pondok Gontor dan bank-bank yang berada di jalan itu.

“Pendanaan ini paling besar disumbang dari partisipan. Pengerjaannya harus selesai maksimal 99 hari kerja Bupati Sugiri Sancoko dan Wakil bupati Lisdyarita,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, rencana Pemkab Ponorogo untuk memoles wajah jalan Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto menjadi jalan icon layaknya jalan Malioboro di Jogjakarta tidak main-main. Sebelumnya, tim dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian dan Pengambangan (Bappeda Litbang) Ponorogo melakukan studi banding ke kota gudeg tersebut.

“Untuk membangkitkan ekonomi di jalan Cokro, kami melakukan studi banding ke Malioboro, bagaimana menata jalan, pedagang kali lima termasuk usaha hotelnya juga,” kata Kepala Bappeda Litbang Ponorogo Sumarno.

Hasilnya, dengan perubahan di sana, ekonominya bisa tumbuh. Dengan tujuan itu, pembangunan pedestrian di jalan HOS Cokroaminoto nantinya juga mendongkrak ekonomi di jalan tersebut. Sebab, selama ini jalan yang dulunya bernama Soekarno-Hatta tersebut menjadi salah satu pusat ekonomi di bumi reyog.

“Dengan pelebaran pedestrian, niscahya akan mengundang banyak orang. Baik dari dalam maupun luar Ponorogo,” katanya.

Panjang jalan HOS Cokroaminoto ini sekitar 700 meter, dengan lebar 17 meter. Prinsip pedestrian itu nantinya akan melebarkan trotoar, sebanyak 2,5 meter di ruas kiri dan kanan jalan.

“Sekarang lebar jalan 17 meter, dikurangi 5 meter untuk pembangunan trotoar. Masih ada 12 meter jadi masih luas, di Malioboro saja jalannya hanya 9 meter,” katanya.

Untuk mengantisipasi banyaknya pengunjung, Sumarno menyebut pihaknya sudah mempersiapkan beberapa lahan parkir kendaraan. Untuk lahan parkir jangka pendek ini bisa di depan SMPN 1 Ponorogo, depan Denpom, Masjid Al Hikmah, Warung Libra dan depan Apotek Nasruhan. Sementara untuk alternatif parkir jangka panjang, bisa di SMPN 3 Ponorogo dan tanah milik Kodim 0802 Ponorogo. Jalan HOS Cokroaminoto saat ini berlaku satu arah ke selatan saja, Bappeda nantinya akan menyerahkan arus kendaraan ini pada Dinas Perhubungan dan Satlantas Polres Ponorogo.

“Merubah arus kan banyak pertimbangan, jadi biar nanti dikaji oleh Dishub dan Satlantas Polres Ponorogo saja gimana baiknya,” pungkasnya. [end/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar