Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Dekesda Gelar Upacara Bendera Melawan Pagebluk

Doa Bersama 17 Gunungan Bandeng Asap Sidoarjo

Persiapan kegiatan Doa Bersama 17 Gunungan Bandeng Asap Sidoarjo. (Foto dok Dekesda)

Sidoarjo (beritajatim.com) – Dewan Kesenian Sidoarjo menggelar upacara bendera sekaligus ritual melawan pagebluk wabah Covid-19. Pergelaran bertajuk ‘Doa Bersama 17 Gunungan Bandeng Asap Sidoarjo’ ini diadakan hari Selasa, 17 Agustus 2021, di Dekesda Art Center, Jl Erlangga No 67.

“Angka 17 tidak saja punya nilai bersejarah dan memori ingatan super heroik bagi bangsa Indonesia. Tetapi juga punya nilai religi, terutama bagi umat Islam. Dalam 24 jam sehari semalam, berdoa dalam salat lima waktu sebanyak 17 kali,” tutur Ketua Umum Dekesda Ali Aspandi, Senin (16/8/2021).

Untuk menandai dua nilai itu, dibuatkan tumpeng 17 buah dalam rangka untuk mensyukuri peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia, hari kemerdekaan 76 tahun yang lalu.

“Sidoarjo kota industri, dari zaman kolonial di kota ini pernah berdiri 18 pabrik gula. Dan sebagian pabrik gula itu sampai saat ini pun masih ada yang eksis. Bahkan Sidoarjo saat ini pun juga semakin eksis sebagai kota industri,” kata Ali Aspandi.

Menurutnya, hampir 90 persen pendapatan asli daerah Sidoarjo berasal dari industri, selain industri manufakturing juga industri olahan yang dipelopori UMKM dan koperasi yang bergerak di berbagai di bidang usaha, salah satunya hasil perikanan ikan bandeng diolah jadi bandeng asap.

“Untuk menandai peristiwa budayanya, maka bandeng asap dalam event ini dijadikan ikon, selain lelang bandeng yang sudah kita kenal selama ini,” ujarnya.

Persiapan kegiatan Doa Bersama 17 Gunungan Bandeng Asap Sidoarjo. (Foto dok Dekesda)

Sidoarjo selain kota industri, kata Ali Aspandi, juga sebagai kota budaya. “Sidoarjo dalam kisah rempah-rempahnya yang dulu pernah jaya sampai diekspor ke manca negara, Sidoarjo dalam kisahnya pernah menjadi pusat kekuasan, kerajaan besar, dan berpengaruh. Ada Kahuripan dan Jenggala, tentu dengan segala peradaban, seni, artefak, dan kebudayaannya,” imbuh pegiat seni yang memiliki hobi bikin film indie itu.

Jadi salah besar, ujar Ali Aspandi, kalau ada yang bilang, Sidoarjo bukan kota budaya. Potensinya sangat besar. Sayangnya, sampai saat ini keberadaanya belum maksimal, karena mungkin para pemangku di kota ini terlalu banyak diisi orang teknokrat dari pada budayawannya.

“Hampir semua kota, kabupaten, provinsi, bahkan sebuah entitas negara yang maju pun, selalu memperkuat sektor seni budayanya. Dekesda mencoba salah satunya dengan event ini sebagai upaya agar antara sektor seni budaya dan industri dapat berkembang maju bersama-sama,” kata lelaki murah senyum yang beberapa hari lalu terlibat dalam kegiatan Moerganik alias Mural Generasi Panik, oleh Komite Seni Rupa Dekesda.

“Di sini mengandung spirit, bahwa jangan sampai menguatnya Sidoarjo sebagai kota industri akan mematikan di sektor seni budaya. Begitu pula sebaliknya. Agar seni budaya dapat berjalan beriringan dengan sektor industri, maka seni budaya harus mempunyai kekuatan atau positioning,” katanya.

Sejauh ini, di mata birokrat Sidoarjo, sumbangan PAD seni budaya minim, bahkan dibilang tidak ada. Ini artinya posisi tawar, seniman dan budayawan di mata birokrat lemah. Maka boleh jadi itu menjadi alasan birokrat kita lebih banyak memperhatikan sektor industri dari pada seni budaya.

“Sebenarnya, cara berpikir itu tak seluruhnya benar. Karena tidak semua sektor pembangunan tolak-ukurnya hanya PAD? Tapi itulah realitasnya, jadi tantangan seniman dan budayawan Sidoarjo,” katanya.

Agar seniman bermartabat, menurut Ali Aspandi, maka harus menjadi seniman dan budayawan secara kritis. Artinya, tidak sekedar berkarya, tetapi harus ada kepedulian terhadap segala persoalan di sekitar kita. Baik sosial, ekonomi, kemiskinan, ketidak-adilan dan apa saja yang terjadi, termasuk sadar diri atas hak dan kewajiban sebagai seniman di dalam tata kelola pemerintahan daerah ini.

“Para penggiat seni budaya harus punya cinta-cita besar bagaimana ke depan seni budaya dan industri sama-sama menjadi lokomotif penyumbang pendapatan asli daerah di Sidoarjo, tidak hanya sebatas pada industri olahan saja. Tetapi juga di sektor seni budaya dengan pariwisatanya,” papar Ali Aspandi.

Persiapan kegiatan Doa Bersama 17 Gunungan Bandeng Asap Sidoarjo. (Foto dok Dekesda)

Lalau apa kaitannya acara ini dengan melawan Pagebluk?

“Seperti kita ketahui bersama wabah Corona adalah global. Maka menurut pandangan kami, Corona ini secara langsung atau tidak langsung, dapat menciptakan budaya dan peradaban baru, buat manusia di masa kini dan mendatang secara global juga,” katanya.

Maka, corona secara budaya (baca: bukan secara medis) tidak untuk dilawan, tetapi justru harus dikenali lebih dekat lagi sifat-sifatnya, setelah tahu dan kenal, berdamai dengan mereka. “Bahkan sebagian ada yang mengatakan, secara budaya, jika corana kita lawan, maka mereka akan semakin melawan kita. Karena secara budaya, sikap melawan, apalagi dengan rasa ketakutan, itu sama dengan menguras energi dan menurunkan imunitas dalam diri kita,” katanya.

Berdamai dengan Corona, menurut Ali Aspandi, yaitu membiasakan diri dengan gaya hidup bersih, cuci tangan, selalu mandi sehabis bekerja di luar, berjarak, dan tidak lupa bermasker.

Budaya bermasker akan berlangsung lama dan mungkin selama masih ada kehidupan. “Sama dengan budaya menggunakan (maaf) celana dalam. Dulu kita awal-awal Indonesia merdeka, nenek buyut kita, bisa jadi tidak banyak yang memakai celana dalam, alasannya risih dan tak enak. Namun ketika sudah menjadi kesadaran budaya bersama demi kesehatan, dari kekek-nenek, orang dewasa sampai anak-anak sudah terbiasa memakainya,” paparnya.

Dipastikan memakai masker juga sama, hari ini belum begitu menjadi kesadaran budaya bersama. Namun ke depan akan merasa risih, bahkan malu jika tak memakai marker. Namun untuk memusnakan covid itu, ada upaya tertinggi di atas segalanya, yaitu perlunya dengan doa.

“Melalui event ini, harapan kita setidaknya ada tiga aspek menjadi target capaian kita. Pertama, adanya pengembangan seni budayanya, kedua, adanya pengembangan indeks pembangunan manusia dan ketiga, aspek ritual doa dengan harapan akan dikabulkan Tuhan YME,” tandas Ali Aspandi.

Acara ini adalah kali kedua diadakan. Ali Aspandi berharap semoga akan menjadi ikon baru di Sidoarjo selain ikon Festival Munali Patah Award yang diselenggarakan Dewan Kesenian Sidoarjo. [but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar