Gaya Hidup

Diruwat, 33 Mata Air di 4 Penjuru Gunung Penanggungan

Prosesi ruwat di Pertirtan Jolotundo, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Foto : misti/beritajatim

Mojokerto (beritajatim.com) – Untuk menjaga sumber mata air, ruwat sumber Pertirtaan Jolotundo digelar warga Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Ruwat dilakukan dengan mengambil 33 titik sumber mata air di empat penjuru yang ada di Gunung Penanggungan.

Dengan menggunakan kendi (tempat air dari tanah liat yang dibakar, red), air di 33 titik sumber mata air di empat penjuru yang ada di Gunung Penanggungan diambil. Sebanyak 33 sumber mata air tersebut di empat penjuru seperti lereng barat, lereng selatan, lereng timur dan lereng utara.

Setelah prosesi pengambilan air selesai, warga Dusun Biting, Desa Seloliman berbondong-bondong membawa tumpeng hasil bumi, jajan pasar dan sayur. Tumpeng tersebut diarak mulai dari gapura masuk ke Petirtaan Jolotundo hingga ke area lapangan yang ada di dekat Pertirtaan Jolotundo.

Dilanjutkan Ritual Panyuwunan atau memuji Gusti Allah untuk mendapatkan restu dan keberkahan dan dilanjutkan prosesi menyatukan 33 air yang telah diambil melalui prosesi Manunggaling Tirta Suci. Ruwat Sumber Petirtaan Jolotundo digelar setiap tahun di bulan Suro secara turun temurun oleh warga Dusun Biting, Desa Seloliman.

Pemangku budaya, Kompol Sujoko mengatakan, masyarakat meyakini Gunung Penanggungan merupakan gunung yang harus tetap dijaga kesakralannya. “Sumber kehidupan itu tidak lepas dari patirtan atau air. Pada bulan Suro ini meruwat patirtan yang suci ini dikumpulkan dari 33 sumber mata air yang dibawah gunung penanggungan,” ungkapnya, Minggu (8/9/2019).

Masih kata Kompol Sujoko yang juga selaku Kabag Ops Polres Mojokerto, Patirtan Jolotundo ini adalah sumber kehidupan masyarakat yang ada di Mojokerto. Selain menjaga dan melestarikan, ruwat digelar untuk mengenalkan kepada seluruh masyarakat bahwa ada tradisi yang masih terus dipertahankan.

“Kami ingin, sumber air ini tetap terjaga dan tidak surut karena air merupakan salah satu kebutuhan utama manusia. Untuk gunungan tumpeng sendiri, itu wujud rasa syukur kita bahwa selama kehidupan di dunia ini di topang dengan adanya sumber air dari bawah gunung penanggungan ini. Sehingga air memberikan kesuburan,” ujarnya

Menurutnya, ritual tidak hanya sebagai prosesi kegiatan semata melainkan juga dapat memberikan pengalaman tentang keragaman budaya serta tradisi yang masih kental dan dijaga kelestariannya. Harapan yang utama adalah menjaga wisata budaya dan religi yang ada di Mojokerto khususnya.

Sementara itu, salah satu pengunjung asal Surabaya, Anna (27) mengaku, sengaja datang untuk melihat prosesi Ruwat Sumber Pertirtaan Jolotundo. “Pengen ambil air yang ada di kendi itu, katanya bikin awet muda,” ujarnya. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar