Gaya Hidup

Diinisiasi Pengusaha, Surabaya Bakal Punya Komunitas Pilot dan Pemilik Pesawat

Sidoarjo (beritajatim.com) – Tak lama lagi, Surabaya bakal punya komunitas baru yang sangat unik. Surabaya Aero Club namanya. Komunitas bagi para penghobi menerbangkan pesawat atau pilot. Dan, sekaligus para pemilik pesawat terbang. Baik pesawat tipe ringan microlight atau ultralight. Hingga pesawat bermesin tunggal atau single engine seperti Cessna dan sejenisnya.

Komunitas ini diinisiasi oleh beberapa pengusaha muda Surabaya yang sangat menggemari olahraga terbang. Mereka adalah Wilson Tirta (pemilik perusahaan Kuweh Surabaya dan Bober Cafe), Tom Liwafa (pemilik perusahaan Handmadeshoesby), dan Luxie Diandra (pemilik perusahaan Jewelery).

Sudah sejak beberapa tahun terakhir ini, para pengusaha muda ini menggandrungi hobi menerbangkan pesawat. Bahkan, sudah ada pula yang telah membeli pesawat. Wilson Tirta, misalnya. Dia telah membeli pesawat jenis Cessna 206 tahun rakit 2008. Dengan harga Rp 3,5M. Sementara Luxie Diandra telah memiliki pesawat Cessna 152 produksi tahun 1984.

Berawal dari sering bertemu karena memiliki hobi yang sama inilah. Serta keinginan yang sama untuk mengembangkan Aero Sport di Surabaya khususnya, dan Jawa Timur pada umumnya. Tercetuslah niat dari mereka untuk mendirikan Surabaya Aero Club.

“Di Jawa Timur belum ada komunitas seperti ini. Kalau di Jogjakarta, Bandung, dan Jakarta sudah ada. Bedanya, kalau di Jogjakarta inisiatornya dari kalangan militer. Sedangkan Bandung dan Jakarta dari kalangan atlet. Nah, di Surabaya inisiatornya justru dari kalangan pengusaha muda,” ujar Eko Rohmat Ferdiansyah, salah seorang inisiator Surabaya Aero Club pada press conference yang dilangsungkan di hangar Merpati Training Center, Juanda, Sidoarjo Kamis (9/7/2020).

Secara resmi, lanjut pria yang akrab disapa Captaint Eko ini, Surabaya Aero Club akan diperkenalkan kepada publik pada acara gala dinner pada hari Rabu, tanggal 15 Juli di Whyndam Hotel Surabaya. “Saya dan beberapa pengusaha muda lainnya beberapa waktu terakhir ini berperan sebagai steering commiitte untuk terbentuknya susunan pengurus komunitas ini (Surabaya Aero Club),” lanjutnya.

Tercatat sudah ada 30 orang calon anggota Surabaya Aero Club. Kebanyakan dari latar belakang pengusaha muda Surabaya yang punya passion terhadap dunia dirgantara. Komunitas yang baru terbentuk ini menargetkan, bakal membeli 10 unit pesawat lagi dalam waktu dekat ini.

Menurut rencana, Ketua Umum FASI (Federasi Aerosport Indonesia) Provinsi Jawa Timur, Marsma TNI Andi Wijaya, S. Sos, bakal hadir pada momen bersejarah tersebut.

Komandan Lanud Abdulrachman Saleh itu juga sangat mendukung lahirnya Surabaya Aero Club. Apalagi, komunitas ini diinisiasi oleh para pengusaha muda dari kalangan sipil.

Selain menjadi stimulus untuk lebih banyak melahirkan para atlet aerosports dari kalangan pengusaha dan masyarakat umum. Eksistensi Surabaya Aero Club ini nantinya juga diharapkan dapat memberi dampak positif lainnya. Seperti menggiatkan sektor pariwisata melalui berbagai event dirgantara skala nasional maupun internasional.

“Negara kita ini dianugarahi landscape yang luar biasa. Sayangnya, pemerintah hingga kini belum menyentuhnya. Padahal, kalau digarap serius bisa mendatangkan banyak devisa. Sebut saja seperti menyelenggarakan event internasional Flying Bromo, dengan peserta para penerbang dari luar negeri. Berapa banyak turis yang datang dan akan menggerakkan roda perekonomian dari sektor pariwisata?” sebut Wilson Tirta.

Dampak positif lainnya dengan lahirnya komunitas Surabaya Aero Club, harap Luxie Diandra, adalah bermunculan para pilot dengan kecakapan menerbangkan pesawat yang mumpuni dan bersertifikat dari kalangan sipil.

Termasuk pula ketersediaan pesawat-pesawat milik pribadi. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk aksi sosial. Semisal ada kondisi bencana alam. “Pesawat Cessna misalnya, sangat reliable untuk menjangkau pulau-pulau kecil yang mungkin saja belum memiliki landasan pacu memadai. Tidak butuh landasan pacu yang panjang. Juga tidak harus beraspal. Jadi, misalkan ada kondisi bencana, tentunya para anggota komunitas kami nantinya bisa ikut berkontribusi sebagai pilot sekaligus meminjamkan pesawat miliknya untuk kegiatan sosial,” terang Tom Liwafa.

Lahirnya komunitas Surabaya Aero Club ini juga direspons positif oleh Tommi Haditya, Chief Instruktor dari Merpati Training Center (MTC). Sebagai tempat pendidikan bagi mereka yang ingin berkecimpung di dunia penerbangan, MTC berpusat di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Anak perusahaan Merpati Nusantara Airlines ini juga memiliki tempat pendidikan di Jakarta, Jogjakarta, Semarang, Sumenep, Medan, dan Palopo. MTC memiliki sekolah pilot yang bernama Merpati Pilot School. MTC juga memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan tempat pendidikan penerbangan lainnya, antara lain adanya sejumlah pesawat jet dan turboprop yang telah tak beroperasi lagi, sehingga dapat digunakan untuk praktik para siswa Aircraft Technician. Selain itu, MTC juga memiliki flops simulator untuk FOO yang tak dimiliki sekolah FOO lainnya.

“Tentu kami sangat mendukung lahirnya komunitas Surabaya Aero Club ini. Dan siap berkolaborasi untuk mengembangkan minat masyarakat terhadap olahraga kedirgantaraan. Lagipula, fasilitas seperti yang kami miliki ini kan tidak selalu ada di setiap kota. Tentu sangat klop, karena MTC ada di Surabaya. Sedangkan anggota komunitas ini (Surabaya Aero Club) pastinya mereka yang menetap di Surabaya. Jadi tidak perlu jauh-jauh keluar kota kalau ada anggota baru yang mau belajar menjadi pilot,” papar Tommi Haditya menutup. (isa/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar