Gaya Hidup

Desa Ini Dulunya Jadi Transit Saudagar di Era Majapahit

Bojonegoro (beritajatim.com) – Secara geografis Desa Sudah, Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro terletak di sebelah barat wilayah kota. Desa Sudah satu kecamatan dengan Desa Rendeng. Desa Rendeng lebih terkenal karena memiliki potensi sebagai daerah perajin gerabah.

Namun, jika dilihat dari sejarah Desa Sudah tertulis dalam Prasasti Canggu. Prasasti yang dikeluarkan Hayam Wuruk pada 1358 Masehi itu terdiri dari lima lempeng tembaga yang isinya mengatur kedudukan desa di tepian Sungai Bengawan Solo. Khususnya desa yang digunakan sebagai penyeberangan.

Bukti dari Desa Sudah yang tertulis dalam Prasasti Canggu itu dikuatkan dengan salah satunya temuan benda-benda bersejarah. Seperti guci dan piring yang diduga merupakan tinggalan Dinasti Ming dan Dinasti Tang. Selain itu banyaknya pencari butiran emas yang berada di Sungai Bengawan Solo.

Pemerhati Cagar Budaya dan pemilik Museum 13 Desa Panjunan, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro Harry Nugroho mengatakan, artefak berupa guci sebanyak delapan biji (masih belum diketahui fungsinya), lempengan dari tembaga, piring (tempat buah) dari gerabah dan tenong (diduga sebagai tempat perhiasan) itu kondisinya masih utuh.

Barang-barang tersebut diduga merupakan peninggalan zaman Dinasti Ming dan Dinasti Tang. Dinasti Tang, lebih tua dengan ciri khas berwarna coklat agak kusam, yakni pada abad ke 7 hingga abad 10. Sedangkan untuk Dinasti Ming, pada abad 14 hingga abad 17 memiliki ciri keramik berwarna putih berhias biru.

“Kemungkinan barang-barang tersebut dulu dibawa saudagar yang sedang singgah. Transportasi saat itu hanya melalui jalur air Sungai Bengawan Solo,” ungkapnya.

Desa Sudah, lanjut Harry, menjadi salah satu titik yang menjadi tempat transit para saudagar pada masa Majapahit. Sehingga menjadi salah satu pusat keramaian kala itu. Lokasinya juga tidak jauh dari lapangan minyak tradisional, Wonocolo, Kecamatan Kedewan.

“Titik pelabuhannya ini yang belum ditemukan. Karena rentang waktu yang lama juga mempengaruhi pergeseran sungai Bengawan Solo karena erosi,” jelasnya.

Sementara Kepala Desa Sudah, Agus Muklison mengungkapkan, banyaknya temuan benda bersejarah di darahnya membuat ia ingin menjadikan Desa Sudah sebagai desa wisata cagar budaya. Apalagi temuan-temuan benda sejarah itu masih banyak yang disimpan oleh warga.

“Temuan-temuan barang itu masih banyak disimpan sendiri oleh warga. Tapi juga banyak yang dibuang kembali karena warga takut. Kesadaran untuk mengumpulkan barang-barang itu sekarang yang akan ditanamkan ke warga,” jelasnya.

Selain sebagai desa wisata cagar budaya, di desa itu juga memiliki punden yang berjarak sekitar 50 meter dengan sungai terpanjang di Pulau Jawa. Punden itu merupakan makam Ki Tameng Jati (Abdurrahman Hadi). Merupakan tokoh penyebar agama di daerah setempat.

Punden tersebut hingga kini masih ramai dikunjungi oleh para peziarah. Khususnya yang dari luar daerah, seperti dari Kabupaten Jombang, Banyuwangi dan lain-lain. Mereka biasanya melakukan ziarah pada malam Jumat Pahing. Namun, dia menyayangkan masih banyak warga sekitar yang kepaten obor, sehingga perlu diceritakan kembali sejarah kampung.

“Tokoh yang penyebar Islam di daerah Sudah, selain Ki Tameng Jati ada Sepet Jati dan Damar Jati. Dua tokoh itu tapi sudah keluar daerah,” pungkasnya. [lus/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar