Gaya Hidup

Dekesda Umumkan Pemenang Sayembara Puisi 5 Penyair Muda Terbaik Sidoarjo

Ketua Umum Dewan Kesenian Sidoarjo Ali Aspandi

Sidoarjo (beritajatim.com) – Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) mengumumkan pemenang sayembara penulisan puisi ‘5 Penyair Muda Terbaik Sidoarjo’. Kelima pemenang adalah Adam Rizkita Pamungkas, Bayu Putih, Inamul Hasan, Niswahikmah, Saddam Achmad.

“Saya ucapkan selamat kepada para pemenang sayembara penulisan puisi. Mereka adalah penyair-penyair muda yang kita harapkan akan mengangkat nama baik Sidoarjo di kancah yang lebih luas,” kata Ketua Umum Dekesda Ali Aspandi, Selasa (9 Februari 2021).

Karya kelima penyair, tutur Ali Aspandi, telah dibukukan oleh Dewan Kesenian Sidoarjo. “Buku akan kita bagikan gratis nanti ketika launching tanggal 23 Februari 2021 di Sekretariat Dekesda. Sedangkan pemberian hadiah, masing-masing Rp 500 ribu kepada tiap pemenang, akan diserahkan saat HUT Dekesda. Insya Allah antara tanggal 26 – 28 Februari,” katanya.

Selain karya 5 pemenang, imbuh Ali Aspandi, Dekesda juga menerbitkan buku ’30 Penyair Muda Sidoarjo’. “Jadi kita eman dengan karya-karya penyair muda Sidoarjo yang tidak terpilih dalam 5 pemenang. Padaha karya mereka juga bagus-bagus. Maka, kita berinisiatif melakukan kurasi ulang. Hasilnya terpilih 30 penyair muda yang kemudian juga kita terbitkan dalam bentuk buku,” jelasnya.

Buku 5 Penyair Muda Terbaik Sidoarjo

Adapun 30 penyair muda terpilih terdiri dari Achmad Firmansyah, Ahmad Awwalul Nasrul Huda, Ainul Izza, Andy Robby, Azizah Putri, Baydowi, Brillio Gadiansyah, Cahyo Fff, Darin Fadhilah, Dean Perdana Mulya, Dinda Ayu, Galih Ponco, Hesha Malihah Meizalfa, Iftidaamri, I’ir Hikmah, Inka Ayu, Kayla Luitansyah, Lasmana Fajar Hapriyanto, Lia Panca Ndani, M.A. Haris Firismanda, Martha Theophily, Mas Ahmad Zamzana, Moch Nur Kholis, Mohamad Ganesha Editya Arta, Nabilah Nur Hamidah, Putra Wahyu, Rizki Amir, Rosita Nur, Satrio Bogie, Umi Khamidatul Khusnah, Wahyu Alifah Nareswati.

“ Melalui kedua buku ini, Dekesda ibaratnya hanya membukakan pintu. Para penyair muda sendiri yang bakal menentukan nasibnya melalui proses kreatif masing-masing, ujarnya.

Ali Aspandi juga memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada para pegiat sastra di Sidoarjo. “Kedua buku ini dibiayai sepenuhnya oleh donasi. Fenomena ini sangat menarik. Sebuah bukti bahwa perkembangan dan pemajuan sastra di Sidoarjo merupakan tanggung jawab bersama,” paparnya.

Sekadar diketahui, pengiriman karya sayembara penulisan puisi ini dilakukan antara tanggal 1 – 15 Januari 2021. Ada hal unik dari sayembara ini, tiga awak Komite Sastra bertindak sebagai panitia sekaligus juri. Ketiganya adalah Ribut Wijoto, Rafif Amir, dan Rizka Amalia.

“ Sebab Komite Sastra ingin mengenal langsung penyair muda Sidoarjo; biodata dan karyanya. Sebab Komite Sastra memiliki tanggung jawab pembinaaan. Mengawal tradisi kepenyairan di Sidoarjo. Utamanya terhadap para penyair muda,” turut Rizka Amalia.

Buku 30 Penyair Muda Sidoarjo

Rizka menjelaskan, semula Komite Sastra menarget setidaknya 25 peserta. “Ternyata mengejutkan. Sebanyak 62 penyair muda mendaftar dalam sayembara ini. Jumlah ini menunjukkan gairah luar biasa dari para penyair muda Sidoarjo. gairah berkarya juga gairah berkompetisi,” katanya.

Rizka lantas membeberkan beberapa kelebihan dari puisi kelima pemenang sayembara. “Penyair harus memiliki kekayaan bahasa. Dan itulah letak kekuatan puisi-puisi Adam Rizkita. Ia meliuk-liuk menemukan makna baru, menemukan rima, metafor-metafor yang kaya,” kata Rizka.

Sedangkan pada puisi Bayu Putih, kekuatan terletak pada kelirisan. “Puisi-puisi Banyu Putih bermula dari kesunyian dan kekosongan. Atau empati dan kesedihan. Para juri sangat menikmati puisi-puisi lirisnya,” kata Rizka

Adapun Inamul Hasan, kata Rizka, tak begitu banyak mengumbar kata-kata untuk bisa memberi makna pada puisi. “Secara keseluruhan dapat dikatakan puisi-puisi Inamul ingin memberikan kesan mendalam justru pada kata-katan bersahaja. Bahkan makna di balik puisi-puisi Inamul Hasan pun sebenarnya mudah ditebak. Tapi tak lantas menjadikannya murahan. Karena dikemas dengan diksi yang bernas,” katanya.

Puisi Niswahikmah tampak berbeda dengan karya peserta lain. Puisi Niswa memiliki keistimewaan dalam gaya berpuisi dan pilihan kata yang dihadirkan. “Beberapa puisinya menggunakan kekuatan ‘repetisi’ untuk menyuarakan suatu hal. Niswa juga menarik dengan caranya menggiring pembaca untuk sampai pada sebuah makna,” kata Rizka.

Penyair kelima, Saddam Achmad dinilai cukup berani menulis puisi-puisi dengan tema politik. “Tema yang jarang diambil oleh penyair muda seusianya. Saddam, bila konsisten di jalur ini, bisa jadi, kelak akan menjadi sastrawan yang patut diperhitungkan. Terlebih Saddam mampu menyusun puisi secara panjang dan tetap utuh secara makna. Hal tersebut masih jarang dijumpai pada kaum penyair muda atau milenial,” papar Rizka Amalia. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar