Gaya Hidup

Dekesda Bakal Bedah Potensi Sastra Sidoarjo

Iffa Suraiyya

Sidoarjo (beritajatim.com) – Bagaimana potensi kesusastraan di Sidoarjo? Apa kendala pengembangan potensi sastra Sidoarjo? Tema-tema kultural apa yang menarik untuk digarap oleh sastrawan Sidoarjo? Bagaimana membahasakan latar geografis Sidoarjo dalam karya sastra? Bagaimanakah karya sastra yang selaras dengan karakteristik Sidoarjo?

Beragam pertanyaan tersebut bakal coba dibahas dalam acara Temu Sastra Sidoarjo. Acara digelar di Aula Sidoarjo Art Center, Selasa (12 Januari 2021) pukul 14.00 – 16.00 WIB. Selain diskusi, acara juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi dan musikalisasi puisi.

“Temu Sastra Sidoarjo ini merupakan acara rutin Komite Sastra. Digelar sebulan sekali. Mumpung Januari, masih awal tahun, kami mengunggah diskusi dengan tema ‘potensi sastra Sidoarjo’. Hasil diskusi bakal kami jadikan acuan untuk menyusun pogram-pogram selama setahun ke depan,” tutur Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) Ribut Wijoto, Senin (11 Januari 2021).

Agar bisa menghasilkan gambaran kesusastraan Sidoarjo yang lebih kompleks, Komite Sastra mengundang 4 narasumber yang memang berkompeten. Narasumber yang dalam beberapa tahun terakhir telah berjibaku dalam pengembangan kesusastraan di Tanah Delta.

“Keempat narasumber adalah Ferdi Afrar, Iffa Surariyya, Novi Larasati, dan Wina Bojonegoro. Mereka akan dipandu oleh moderator Riska Amalia,” kata Ribut.

Ferdi Afrar

Lelaki gondrong yang rambutnya sudah semakin memutih ini menjelaskan, Ferdi Afrar adalah pendiri Komunitas Malam Puisi Sidoarjo. Sebuah komunitas yang paling getol menyelenggarakan kegiatan sastra dari kafe ke kafe. Iffa Suraiyya adalah pendiri sekaligus pemilik Bait Kata Library. Sastrawan nasional sudah biasa mengisi acara di Bait Kata, termasuk maestro penyair Afrizal Malna.

“Novi Larasati adalah Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Sidoarjo. Dia masih muda. Tetapi memiliki visi jauh ke depan. Dan, banyak terobosan yang telah dilakukan untuk merangsang proses kreatif anggota FLP,” tutur Ribut.

Sedangkan Wina Bojonegoro, menurut Ribut, sebagai sosok pribadi yang unik. “Mbak Wina ini unik. Dia lahir di Bojonegoro, ber-KTP Surabaya, tinggal di Pasuruan, dan memiliki kantor penerbitan di Sidoarjo. Lepas dari keunikannya, Mbak Wina bertahun-tahun telah berjuang dalam pengembangan kesusastraan di Sidoarjo. Saat ini pun, murid penulisan kreatifnya juga banyak yang berasal dari Sidoarjo,” kata Ribut.

Acara diskusi bakal dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh penyair Fathur Rahman, Putra Wahyu, dan Ajeng Lintang. Juga musikalisasi puisi oleh Komunitas Dapur E-Kreasi (ATK – T Gedhek) yang merupakan kolaborasi mahasiswa STKIP PGRI Sidoarjo dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).

Selain kegiatan Temu Sastra Sidoarjo, Ribut menambahkan, Komite Sastra Dekesda juga memiliki beberapa program lain di bulan ini. Terdiri dari Sastra Radio, Bedah Buku Penyiar Hendro Siswanggono, dan Sayembara Penulisan Puisi ‘5 Penyair Muda Terbaik Sidoarjo’.

“Sayembara ini sebenarnya bukan sebatas sayembara. Kami sebenarnya ingin mendapatkan data konkret para penyair muda Sidoarjo. Biodata sekaligus karya puisinya. Setelah mendapatkan data, kami akan berusaha membantu mengawal proses kepenyairan mereka. Agar bisa lebih matang dalam hal kualitas, serta lebih dikenal di tingkat yang lebih luas,” tandas Ribut Wijoto. [but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar