Gaya Hidup

Bunga Tabebuya Juga Bermekaran di Mojokerto

Mojokerto (beritajatim.com) – Fenomena bunga tabebuya saat ini menjadi perbincangan di sejumlah kota. Ini lantaran pemerintah setempat menanam bunga yang berasal dari negara Brasil di jalan-jalan protokol sehingga menambah keindahan kota dengan warga yang beragam.

Mulai dari putih, merah muda, kuning, kuning jingga, magenta, plum dan ada juga yang berwarna merah. Saat musim berbunga, tanaman yang memiliki nama latih Handroanthus chrysotrichus ini, bunganya terlihat sangat indah dan lebat.

Bunga yang mirip dengan sakura di Alun-alun Kota Mojokerto. Pemkot Mojokerto melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menanam beberapa bunga Tabebuya, saat musim berbunga seperti saat ini banyak pengunjung yang tak mau kehilangan moment tersebut dengan berswafoto.

Salah satu warga, Arlinda mengaku, ia sengaja datang bersama dua temannya ingin menikmati keindahan tanaman yang memiliki ketahanan hidup yang tinggi dalam cuaca kering. “Bunganya indah jadi kita sengaja kesini untuk mengabadikan,” ungkapnya, Sabtu (23/11/2019).

Masih kata warga Kelurahan Kranggan, Kota Mojokerto ini, dengan ditanamnya bunga Tabebuya di Alun-alun Kota Mojokerto memperindah wajah Kota Mojokerto. Ia juga berharap Pemkot Mojokerto menanam di sepanjang jalan agar saat musim bunga bisa mempercantik Kota Mojokerto.

Sementara itu, Kepala DLH Kota Mojokerto, Ikromul Yasak mengatakan, bunga Tabebuya ditanam DLH di beberapa sudut kota, tidak hanya di Alun-alun. Diantaranya di Jalan A Yani, lingkungan Meri dan Jalan Pahlawan. Bunga tersebut ditanam sekitar setahun yang lalu.

“Setidaknya terdapat kurang lebih 50 pohon yang sudah ditanam. Dalam waktu dekat, DLH berancana menambah di sudut-sudut kota untuk mempercantik wajah perkotaan. Ini sudah kita karantina, tinggal menunggu hujan saja, kemudian akan kita tanam,” tuturnya.

Rencananya, di Jalan Raden Wijaya, Jalan Surodinawan dan akan ditambah lagi di Alun-alun serta di taman-taman kota yang ada di Kota Mojokerto. Untuk perawatan, Yasak mengaku hanya melakukan penyiraman dan memberikan pupuk secara reguler.

“Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik yang dihasilkan dari proses pengomposan sampah yang ada di TPA Randegan, milik kita sendiri,” jelasnya. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar