Gaya Hidup

Bule Asal Spanyol dan Jerman Nikmati Sajian Kopi Gratis di Kampung Adat Segunung

Jombang (beritajatim.com) – Kampung Adat Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Jombang sedang bersolek, Sabtu (7/3/2020). Rumah-rumah warga ditata sedemikian rupa. Masing-masing halaman rumah tersebut didirikan gazebo, lengkap dengan suguhan kopi hitam. Teko, cangkir, juga menghiasi gazebo yang terbuat dari bambu itu.

Nah, para pengunjung yang mampir ke Kampung Adat Segunung bisa menikmati suguhan tersebut secara gratis. Suasana semakin klop dengan dengan alunan gending-gending Jawa yang dimainkan oleh warga setempat di salah satu sudut dusun tersebut. Kesejukan alam pegunungan Anjasmoro juga sangat terasa di Kampung Adat itu.

Mulai masuk kampung, pengunjung sudah disambut senyum ramah warga. Mereka berlalu-lalang sembari mempersilakan para pengunjung untuk menikmati suguhan yang sudah disediakan. Lagi-lagi, nuansa khas warga pedesaan juga sangat terasa. Karena para penduduk Kampung Adat membalut tubuh mereka dengan baju dan celana kombor warna hitam. Pakaian itu semakin serasi dengan udeng (kain penutup kepala) bermotif batik yang mereka dikenakan.

Di tengah-tengah kampung, pengunjung juga dimanjakan oleh warung kopi bernuansa kuno. Meja besar memanjang berada di pinggir dan tengah warung. Di atas meja tersebut berderet jajanan lawas seperti pisang goreng, singkong goreng, hingga durian yang notabene hasil kebun milik warga. Berlama-lama di Kampung Adat, pengunjung seolah berada di masa lalu.

Ketua Kampung Adat Segunung Giri Winarko mengatakan, 2.220 cangkir kopi gratis yang digelar di kampungnya merupakan rangkaian acara Kenduren (kenduri durian) Wonosalam. Kopi yang disuguhkan adalah jenis rebusta. Kopi tersebut hasil panen di lahan milik Kampung Adat. “Ini sekaligus untuk mengenalkan kopi Wonosalam dan Kampung Adat Segunung,” ujar Giri yang mengenakan pakaian serba hitam.

Pria brewok ini menambahkan, Kampung Adat Segunung terdiri 150 KK (kepala keluarga). Pekerjaan mereka rata-rata bercocok tanam. Nah, beberapa bulan terakhir ini, Dusun Segunung dijadikan Kampung Adat guna mendongkrak pariwisata Wonosalam. Kampung tersebut berhias sedemikian rupa. Gazebo-gazebo berdiri di halaman rumah.

“Budaya tepo seliro, ramah tamah, gotong royong, masih mengakar di Segunung. Bagi pengunjung yang datang, kami juga menawarkan kuliner khas. Yakni, sayuran yang berasal dari tanaman warga sendiri. Semisal, daun talas, petai, nasi jagung, nasi tiwul, sayur pare, serta urap-urap,” kata Giri.

Bagi pengunjung yang menginap, juga tidak perlu kuatir. Karena Kampung Adat juga menyiapkan homestay atau penginapan untuk tamu dengan harga terjangkau. “Sudah ada 15 rumah warga yang bisa digunakan untuk penginapan. Dari jumlah tersebut, terdapat 23 kamar,” katanya menambahkan.

“Kita masih melakukan penataan. Namun demikian, pengunjung ke Kampung Adat terus berdatangan. Dalam satu bulan terakhir, sekitar 1000 pengunjung yang datang ke Kampung Adat Segunung,” ujar Giri.

Hilir mudik para pengunjung di Kampung Adat Segunung juga sangat terasa saat acara 2.220 cangkir kopi gratis. Bahkan bukan hanya pengunjung lokal. Terlihat dua bule mampir di warung kopi Segunung. Masing-masing perempuan asal Spannyol dan pria asal Jerman. Mereka didampingi dua pemandu.

“Kita sengaja ke Wonosalam untuk melihat kenduri durian yang digelar besok. Untuk hari ini kita jalan-jalan, termasuk mampir di Kampung Adat Segunung menikmati kopi gratis,” ujar salah satu pemandu wisata tersebut. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar