Gaya Hidup

Bukit Butak Songkro Jadi Ikon Wisata Baru di Mojokerto

Mojokerto (beritajatim.com) – Munculnya Bukit Butak Songkro di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto tak hanya menjadi spot paralayang terbaik, namun juga membuka peluang wisata favorit baru. Selain sebagai pembinaan olahraga paragliding, juga sebagai ikon wisata paralayang baru.

Ketua Umum Pengurus Kabupaten Federasi Aero sport Seluruh Indonesia (Pengkab FASI) Mojokerto, Ismadi mengatakan, jika Bukit Butak Songkro benar-benar ditetapkan sebagai salah satu spot paralayang di Jawa Timur, maka bisa berpotensi memunculkan banyak minat calon atlet untuk ikut bergabung di cabang olahraga (cabor) aero sport ini.

“Pembinaan atlet paralayang selama ini memang cukup terbatas. Selain bukan cabor favorit, minimnya sarana dan prasarana juga menjadi kendala utama pembinaan. Selain itu, cabor ini kurang familiar di Mojokerto. Termasuk tidak adanya spot take off dan landing sebagai sarana latihan paling utama olahraga ketinggian ini,” ungkapnya, Rabu (22/7/2020).

Bahkan untuk bisa berlatih, Kabupaten Mojokerto yang memiliki empat orang atlet paralayang ini yang harus bertolak ke Gunung Banyak di Kota Batu sebagai spot latihan terdekat. Kondisi tersebut dirasa cukup memberatkan mengingat atlet harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya akomodasi agar bisa berlatih.

Munculnya Bukit Butak Songkro di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto tak hanya menjadi spot paralayang terbaik, namun juga membuka peluang wisata favorit baru

“Selama ini sarana dan prasarana memang menjadi kendala, program latihan juga tidak bisa berjalan utuh sesuai yang dijadwalkan. Tapi jika Bukit Butak Songkro nanti benar-benar dibuka, kami merasa terfasilitasi. Bukit Butak Songkro sangat representatif sebagai salah satu spot latihan dan kejuaraan terbaik di Jatim hingga nasional,” ujarnya.

Penilaian ini berdasarkan jarak tempuh dan ketinggiannya yang sangat pas untuk dilakukan penerbangan. Bukit Butak Songkro memiliki ketinggian 1.200 meter diatas permukaan laut (MDPL) dan jarak tempuh 1,6 kilometer (KM) dari titik landing dinilai sangat layak untuk penerbangan bebas.

“Jarak tempuh dengan lokasi landing-nya sangat layak, yakni 1,6 kilometer. Sedangkan ketinggiannya juga lebih dari seribu meter di atas permukaan laut (mdpl),” urainya.

Untuk itu, Ismadi pun kini turut mendukung langkah Pemerintah Desa (Pemdes) Trawas dan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Mojokerto dalam mewujudkan Bukit Butak Songkro sebagai ikon wisata paralayang baru. Mudahnya akses latihan dinilai cukup meringankan beban Pengkab FASI Mojokerto untuk bisa mengembangkan skill dan pembinaan atlet. [tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar