Gaya Hidup

Buah Tangan Yusril Ihza dari Banda Maluku

Surabaya (beritajatim.com) – Komunitas Rabo Sore bersama Teater Kaki Langit menggelar diskusi bertajuk “Sastra, Pala, dan Tanah Pengasingan” yang menghadirkan pembicara Yusril Ihza, salah satu penulis yang lolos menjadi peserta Residensi Komite Buku Nasional 2019 di Banda, Maluku. Diskusi akan diselenggarakan pada tanggal 20 Desember 2019 pukul 18.45, di Yoman Kafe (Gg. VII Lidah Wetan, Lakarsantri, Surabaya).

Judul diskusi dibuat bukan semata-mata untuk mengungkapkan hasil residensi yang dilakoni sutradara muda asal Surabaya itu. Tapi, lebih ke arah sebagai petunjuk jalan untuk membuka wacana terkait perkembangan sastra dewasa ini dan upaya-upaya dalam menghadapinya.

“Sebelum kita mulai memutuskan untuk menggarap naskah, saya pikir, penting rasanya untuk memahami apa-apa yang kini sedang terjadi. Karena, secara tak langsung, hal tersebut sedikit banyak telah mempengaruhipola pikir dan tindakan kita,” ujar Yusril saat diwawancarai di sela-sela kesibukannya.

Manajer acara, Rekha Aqsolia, menjelaskanbahwa diskusi sudahdirancang untuk bergerak dinamis, sehingga dapat dipastikan berbeda dengan diskusi pada umumnya. “Kami tidak mau menyuguhkan sesuatu yang sering ditemui. Pasalnya orientasi kami, selain berbagi ilmu juga merangsang semangat berkarya anak-anak muda,” katanya.

Di atas panggung, Yusril Ihza tidak sendiri, diskusi akan dipandu oleh Rizki Amir, salah satu penulis emerging di Ubud Writers and Readers Festival 2017. Ia tidak hanya bertugas untuk mengarahkan gagasan yang dilemparkan tapi juga meresponnya.

Hal menarik lainnya adalah selain pembicara yang akan memaparkan pandangan terkait tema, diskusi juga turut dimeriahkan oleh penampilan dari Cimeng D. Shalom, seorang pemusik indie yang kini sedang merampungkan album pertamanya. Ia akan membawakan empat lagu yang digubah dari puisi-puisi teman-temannya.

Sementara itu, tanggapan positif kini mulai berdatangan dari berbagai pihak yang menyambut acara tersebut. “Teman-teman mahasiswa, anak sastra khususnya, berharap diskusi semacam ini bisa terus hadir dan berkembang. Sebab, dengan begitu ada wadah untuk bisa saling tukar sudut pandang,” ujar Nung Widiasma, mahasiswa sastra Universitas Negeri Surabaya. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar