Gaya Hidup

Biennale Jatim 9 Usung Tema Padhang Rembugan

Direktur Biennale Jatim 9, Dwiki Nugroho Mukti

Surabaya (beritajatim.com) – Biennale Jawa Timur (Biennale Jatim) merupakan agenda pagelaran dua tahunan yang telah diselenggarakan sejak tahun 2005. Kini perhelatan Biennale Jatim sudah menginjak angka yang ke-9 kalinya.

“Biennale Jatim menjadi barometer aktivitas dan tingkat kreativitas seniman, juga apresiasi publik seni terhadap seni, utamanya seni rupa, di Jawa Timur,” kata Direktur Biennale Jatim 9, Dwiki Nugroho Mukti, dalam rilis yang diterima redaksi beritajatim.com, Rabu (21/4/2021).

Dipaparkan oleh Dwiki, semenjak 2019 lalu, Biennale Jatim bereksperimen dengan melakukan kerja-kerja inklusif dan memungkin semua seniman yang punya inisiasi agar dapat terlibat dalam pagelaran akbar ini.

“Dengan demikian Biennale telah didesentralisasi bahwa dalam penyelenggaraannya tidak hanya terpusat di satu kota, namun menyebar ke berbagai wilayah di Jawa Timur,” kata seniman sekaligus kurator yang aktif di komunitas Serbuk Kayu Surabaya ini.

Format penyelenggaraan yang bersifat otonom dan inklusif ini dipilih sebagai upaya untuk mewakili ekosistem seni di Jawa Timur yang beragam dan tidak pernah memusat.

“Tema Padhang Rembugan : Menimbang Solidaritas, Merayakan Kolektivitas, dipilih dalam pelaksanaan Biennale Jatim ke-9 (BJIX) di tahun 2021 ini,” katanya.

Tema tersebut dipilih, menurut Dwiki, sebagai sebuah sirkulasi dengan tujuan mencerahkan, agar semua pihak mendapatkan kebermanfaatan dalam mengkuatkan kerja kolektifitas dan solidaritas. “Pada tahun ini, BJIX juga bekerjasama dengan beberapa kolektif seni untuk menginisiasi berbagai peristiwa seni di masing-masing kota yang terhubung langsung dengan tema besar yang diusung,” papar Dwiki.

Oleh sebab di beberapa tempat, Biennale kali ini juga dihadirkan Dewan Suro Kurator, sebuah laboratorium kuratorial yang menghasilkan rangkaian kegiatan otonom yang merespon tema spesifik meski terpisah secara geografis.

Pelaksanaan BJIX berlangsung selama tujuh bulan, yaitu pada Juni 2021 – Desember 2021. “Selain menghadirkan pagelaran yang akan di laksanakan di setiap wilayah Jawa Timur, Biennale Jatim juga menghadirkan program kelas Panca Rembug untuk medistribusikan pengetahuan mengenai praktek seni hari ini, dan upaya lebih lanjut untuk membaca praktek seni di Jawa Timur,” papar Dwiki.

Berbagai program kelas yang di tawarkan meliputi :

Rembug Legi – Kuratorial
Rembug Kliwon – Manajerial
Rembug Pon – Publikasi
Rembug Wage – BJT
Rembug Pahing – Residensi

“Selain itu juga terdapat program-program internal yang akan diadakan seperti peluncuran buku, katalog, symposium biennale, dan program program proyeksi Biennale Jatim 9 yang lainnya,” tandas Dwiki. [but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar