Gaya Hidup

Berdiri Sejak 1990, Warung Wader Bu Tin Pertama di Trowulan

Mojokerto (beritajatim.com) – Desa Trowulan di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto merupakan ibukota Kerajaan Majapahit. Saat ini Trowulan dikenal sebagai Kampung Wader karena banyaknya warung wader di Desa Trowulan ditengah banyaknya peninggalan Kerajaan Majapahit sebagai destinasi wisata.

Apalagi keberadaan warung-warung dengan menawarkan menu khas iwak (ikan) Wader ini banyak ditemukan di sekitar kawasan Kolam Segaran. Kolam ini merupakan kolam kuno zaman Kerajaan Majapahit. Salah satunya warung wader Bu Tin yang terletak di Jalan Pendopo Agung, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Lokasinya tepat berada di sebelah barat Kolam Segaran atau di sebelah utara Museum Majapahit. Kolam segaran ini sendiri merupakan kolam kuno zaman Kerajaan Majapahit yang sampai saat ini dijadikan sebagai destinasi wisata. Warung sederhana ini merupakan warung wader pertama di Trowulan.

Warung tersebut berdiri sejak tahun 1990 yang lalu. Sesuai dengan namanya, warung wader Bu Tin menyuguhkan menu ikan wader. Mulai dari digoreng, sampai dengan disambal. Selain menu wader, ada menu lain yang bisa untuk jadi pilihan. Misalnya saja mujair, ayam, tempe penyet, botok urang, botok tahu tempe, botok patin dan lain-lain.

Namun menu yang paling difavoritkan para pengunjung yang datang adalah sambal wader yang dipadukan dengan terasi segar, lalapan mentimun dan juga daun kemangi. Cita rasa dari sambel wader ini tambah nikmat karena bahan-bahan yang digunakan sangat segar.

Sambal wader ini baru dibuat saat dipesan. Bumbunya perpaduan dari bahan-bahan seperti cabai, tomat, gula, garam, terasi dan juga jeruk nipis lalu diuleg segar tanpa digoreng. Dan bumbu tersebut dipadukan dengan renyahnya wader yang digoreng garing.

Sambal yang disajikan merupakan sambal segar, sambal yang baru dibuat ketika ada pesanan. Namun ada juga menu sambel matang yakni racikan sambel yang digoreng. Menu sambel wader tersebut terasa nikmat karena disajikan dengan nasi putih yang masih hangat.

Pemilik warung wader Bu Tin, Rukiyatin (60) mengatakan, warung miliknya berdiri sejak bulan Maret tahun 1990 maret. “Menunya banyak tapi akhirnya fokus di wader karena ikan ini banyak ditemui di Kolam Segaran. Awalnya juga tidak sengaja, dapat ikan dibersihkan, digoreng dikasih sambel kok enak,” ungkapnya, Kamis (14/3/2019).

Rukiyatin menjelaskan, saat itu suaminya yang bekerja sebagai PNS BPCB Jawa Timur di Trowulan dengan golongan 1 dengan tiga orang anak dirasa kurang sehingga ia berjualan nasi wader. Saat pertama kali berjualan sambel wader, harga ikan wader segar Rp3,5 ribu per kilogram.

“Saat ini, Rp 25 ribu per kg dan saya jual satu porsi nasi wader seharga Rp 15 ribu. Karena permintaannya banyak, saya ambil ikan wader dari beberapa orang pencari ikan. Seperti Jombang dan Mojoanyar, sehari saya bisa menjual 15 sampai 20 kg ikan wader segar. Pernah juga tidak ada tapi jarang,” katanya.

Masih kata warga Dusun Unggahan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto menjelaskan, hari libur bisa sampai 50 kg ikan wader segar. Warung wader Bu Tin buka mulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB. Menurutnya, ia hanya melayani pelanggan yang datang ke warungnya langsung.

“Kalau pingin ya harus kesini atau bungkus bawa pulang karena saya tidak ikut aplikasi seperti yang ada sekarang. Saya juga tidak buka cabang karena sekarang banyak warung wader, saya cukup senang karena banyak yang jual sehingga pelanggan bisa merasakan mana yang enak. Ini bukan saya anggap persaingan,” tuturnya.

Menurutnya, ikan wader merupakan ikan liar sehingga tidak bisa dibudidayakan. Dengan banyaknya warung wader di Trowulan membuat Trowulan semakin dikenal karena kulinernya, ditambah adanya julukan baru untuk Trowulan yakni sebagai Kampung Wader, membuatnya cukup senang.

“Kalau ke Trowulan, tidak makan wader maka belum Trowulan namanya. Bahkan sekarang orang habis operasi, cuci darah makan kesini. Jadi cukup senang Trowulan dikenal sebagai Kampung Wader. Sudah banyak yang kesini, baik dari kalangan atas hingga bawah. Baik muda, tua maupun anak-anak,” tuturnya.

Adanya destinasi wisata yang ada di Trowulan seperti Kolam Segaran dan Museum Majapahit membuat banyak pengunjung datang ke Trowulan. Baik pejabat maupun wisatawan, ini juga menjadi data tarik untuk memperkenalkan nasi wader ke pengunjung sebagai kuliner khas Trowulan.

Baca Juga:

    “Terakhir yang datang kesini, Waka Polri dan Bareskrim. Kebetulan kunjungan ke Museum dan mampir makan kesini. Untuk wisatawan asing juga banyak, turis Jepang yang paling kritis. Mereka banyak bertanya, ada juga yang datang khusus belajar membuat sambel wader dan dikembangkan di Jakarta,” tegasnya.[tin/ted]

    Apa Reaksi Anda?

    Komentar