Gaya Hidup

Belajar Sejarah dari Replika Peralatan Perang

Bojonegoro (beritajatim.com) – Sejarah bisa dipelajari dari berbagai hal. Bahkan tidak menjenuhkan dan lebih menyenangkan. Dari kecintaan mengoleksi barang-barang maupun peralatan perang pada masa lalu misalnya.

Seperti yang dilakukan Eko Wahyudiono Warga Jalan WR Supratman Gang Kuncoro 3, Kabupaten Bojonegoro. Kecintaan terhadap barang-barang peralatan perang ini membuatnya ingin selalu tahu tentang sejarah yang terjadi di kotanya.

Eko Wahyudiono bahkan mengaku rela membeli beberapa buku maupun mencari tahu tentang literatur sejarah di kotanya sebagai bahan referensi. “Awalnya sering melakukan hunting sejarah sendiri. Sebelum kemudian bergabung dengan komunitas,” ujar pria asli Surabaya itu, Minggu (15/12/2019).

Pada 2013 lalu pria yang akrab disapa Rae itu gabung dengan komunitas De Mardiker (orang-orang merdeka) Onthelis Surabaya. Komunitas tersebut beranggotakan orang-orang yang suka belajar sejarah. Lalu di Bojonegoro dia juga bergabung dengan komunitas Bojonegoro Military Art.

Berawal dari komunitas itu, dia sering mengikuti teaterikal reenactment (reka ulang) peristiwa sejarah. Misalnya pada jambore sejarah militer di Tugu Pahlawan Surabaya, maupun Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta. “Lebih sering gabung dalam event perang dunia kedua,” ujar pria kelahiran 1979 itu.

Dari kecintaan tersebut, dia memiliki beberapa koleksi kostum tentara Inggris dan beberapa peralatan seperti pistol, botol minum, dan nesting buatan Amerika Serikat. Sedangkan, beberapa koleksi lain, seperti bag medical, gun bag, bayonet MK3, skrip M1910 dia membuat replikanya sendiri.

“Reproduksi barang yang berbahan kanvas bisa dibuat, seperti gun bag, bayonet MK3 atau pisau yang dipasang di tembak, nesting, bag medical, maupun water canteen,” terangnya.

Barang-barang reproduksi itu dibuat sangat detail dan menyerupai aslinya. Sebab, menurutnya, sejarah merupakan hal yang sakral dan tidak bisa asal-asalan. Dia pun kini mengambil bisnis dari reproduksi peralatan-peralatan perang. Pesanan mulai banyak dari luar kota seperti, Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya, Semarang, Kalimantan, Samarinda, dan Palangkaraya.

“Tas geter, sabuk, peralatan dasar, tali senjata ini harganya bervariasi, mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 600 ribu,” pungkasnya. [lus/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar