Gaya Hidup

Sebuah Simulasi

Begini Resepsi Pernikahan Masa New Normal di Jombang

Mempelai putri berjalan dengan menjaga jarak menuju pelaminan, Selasa (14/7/2020). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Sepasang mempelai duduk di pelaminan. Pengantin putri mengenakan pakaian warna putih panjang menjuntai. Berhias renda-renda warna gemerlap. Begitu juga dengan pengantin pria.

Namun aksesoris pada bagian wajah sepasang pengantin itu berbeda dengan pengantin pada umumnya. Karena baik pengantin putra maupun putri mengenakan face shield atau pelindung wajah.

Tamu yang hadir tidak begitu banyak. Jumlahnya hanya puluhan. Mereka duduk di kursi undangan yang jaraknya berjauhan. Antara kursi satu dengan kursi lainnya sekitar satu meter. Ketika hendak pamit pulang, para tamu mendekat ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.

Namun tidak ada jabat tangan antara tamu dengan mempelai. Undangan hanya menangkupkan tangannya di dada sebagai bentuk penghormatan. Sang mempelai juga membalas dengan gerakan serupa.

Ketika tamu mulai sepi, sepasang pengantin ini turun dari pelaminan. Pengantin putri menggenggam bunga. Berjalan seiring dengan lambat-lambat. Sesekali langkah mereka berhenti, keduanya beradu pandang, lalu bertukar senyum kebahagiaan. Sejumlah juru foto yang ada di lokasi langsung mengabadikan momen tersebut. Kilatan blitz menyambar berulang-ulang.

Begitulah simulasi resepsi pernikahan masa new normal yang digelar perkumpulan pengusaha wedding organiser di Jombang, Selasa (14/7/20120). Acara tersebut dilaksanakan di halaman belakang warung lesehan Mulyo Rejo 2 Jombang. Layaknya pesta pernikahan, lokasi itu didesain sedemikian rupa, yakni garden party. Bunga-bunga menghiasai pintu masuk.

Simulasi prosesi akad nikah di era new normal yang diadakan pengusaha wedding organiser Jombang, Selasa (14/7/2020). [Foto/Yusuf Wibisono]
Sebelum memasuki area resepsi, para tamu disambut dengan ‘tembakan’ thermo gun. Suhu tubuh mereka dicek. Jika menunjukkan angka di bawah 38 derajat, tamu tersebut disilakan masuk. Namun terlebih dulu, tangan mereka juga harus disemprot menggunakan hand sanitizer. Tamu yang menghadiri resepsi diwajibkan pula mengenakan masker.

“Kedatangan tamu dibuat bergelombang. Setiap gelombang jumlahnya maksimal 50 orang. Begitu seterusnya. Hal itu agar tidak terjadi kerumunan. Begitu selesai langsung pulang. Memasuki area resepsi hari cek suhu tubuh, mencuci tangan, serta memakai masker,” kata Ita Yunarta, salah satu panitia simulasi, menjelaskan aturan resepsi pernikahan.

Konsumsi bagi para tamu juga diatur sedemikian rupa. Para tamu diwajibkan menjaga jarak. Wadah yang digunakan untuk makan/minum tidak menggunakan piring atau gelas. Namun memakai wadah sekali pakai berbahan plastik. “Kemudian untuk MC (pembawa cara), bisa membawa mik (mikropon) sendiri. Ini sebagai bentuk penerapan protokol kesehatan,” tambahnya.

Suhu tubuh para tamu undangan dicek menggunakan thermo gun

Ita menjelaskan, simulasi resespsi pernikahan new normal tersebut sengaja digelar oleh para pengusaha wedding organiser. Tujuannya, untuk menunjukkan pada pemerintah daerah bahwa para pengusaha wedding sudah siap menggelar resepsi dengan model baru atau new nomrmal. Dengan begitu, pemerintah tidak berat memberikan izin penyelenggaraan wedding.

“Kita sudah siap menggelar wedding dengan protokol kesehatan secara ketat atau resepsi pernikahan new normal. Selama pandemi Covid-19, kita libur selama empat bulan. Hal tersebut tentu sangat berat. Roda ekonomi kita terhambat. Di lain sisi, kita ini dicap sebagai komunitas yang mampu secara ekonomi, sehingga tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah,” ujar Ita.

Simulasi diakhiri dengan penampilan grup musik sebagai hiburan. Dua vokalis berbalut baju putih menyuguhkan lagu-lagu bernuansa cinta. Meski mengenakan masker, lantunan suara merdu penyanyi pria dan wanita itu cukup menghibur segenap hadirin. Semua semakin klop dengan iringan gitar dan organ dari musisi di atas panggung. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar