Gaya Hidup

Begini Cerita Penyanyi Dangdut di Jatim Saat Pandemi Covid-19

Bupati Magetan Suprawoto yang mengunjungi lapak Deny Sasha, penyanyi dangdut yang jualan pecel di tengah pandemi, JUmat (9/7/2021) (foto: Prokopim Magetan for beritajatim.com)

Surabaya (beritajatim.com) – Tidak ada yang tahu kapan pandemi Covid-19 ini berakhir, merebaknya virus tersebut sangat memukul dan berdampak kepada siapapun, serta melumpuhkan aktifitas ekonomi kehidupan di semua lini bidang.

Tak banyak yang bisa bertahan lama di tengah pergolakan dan persaingan ekonomi yang kian hari semakin keras, tak terkecuali para seniman dan pelaku musik orkes melayu dangdut.

Tak bisa dipungkiri, bahwa dangdut memang menjadi bagian hidup banyak masyarakat. Ia menjadi sarana eskapis yang paling manjur.

Namun di masa pandemi seperti sekarang ini, bisnis orkes dangdut benar-benar tumbang. Orkes-orkes sepi atau bahkan tanggapan dan konser nampak langka digelar. Utamanya dari para seniman lokal.

Tapi tetap ada saja jalan untuk kembali manggung, seperti salah satu orkes dangdut terbesar asal Jawa Timur New Pallapa berencana akan kembali menyapa penggemarnya dengan menggelar orkes secara digital.

Terjun ke dunia digital dengan membuat akun media sosial  ini sebagai upaya untuk mengobati rasa rindu para penggemarnya.

Theo Broma Anggara Direktor Pragita Prabawa Pustaka manajemen sejumlah artis dangdut dan campursari menceritakan kronologi New Pallapa masuk ke dunia digital.

“New Pallapa bikin channel sendiri namun kebingungan tentang lisensi,”ungkpa Theo kepada beritajatim.com beberapa waktu lalu.

Theo menambahkan sebelum pandemi, artis New Pallapa offair namun saat masuk ke dunia digital ternyata harus berhadapan dengan hak cipta.

“Mereka menghubungi saya terkait dengan hak pencipta lagu, Bu Juana (manajemen New Pallapa) menghubungi saya karena Pragita membawahi sejumlah artis seperti Denny Cak Nan, Happy Asmara, Ndarboy dan lainnya,” kata Theo.

Ketika ditanya terkait pandemi yang saat ini belum selesai Theo mengungkapkan bahwa digital adalah solusi terbaik untuk mencoba menyapa penggemar yang sudah rindu.

“Digital adalah realitis untuk saat ini, dengan masuk dunia digital akan terus berkarya dan tidak akan berhenti akibat covid-19,” kata Theo.

Sementara itu Lala Widy artis New Pallapa menyatakan kondisi pandemi sekarang ini harus mmebagi waktu antara manggung secara offline dan online atau daring.

“Offair saat ini tetap jalan, namun eventnya masih kecil-kecil seperti orjen tunggal, elektone plus tidak ada panggungnya,”katanya.

Lala mengakui saat kondisi Pandemi ini sangat memukul dunia hiburan orkes musik dangdut pinggiran. Karena banyak sekali acara dibatalkan karena ijin tidak keluar mengingat pandemi masih melonjak di sejumlah tempat.

“Ada yang mau tampil, namun ijin dibatalkan, kita mau marah ke siapa?” kata Lala.

Lala mengaku sepakat dengan manajemen untuk manggung secara digital dan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi, karena dengan menggunakan perangkat online tentunya bisa menyapa kembali penggemar dengan menghindari bertemu secara fisik dan terhindar dari virus Covid-19.

Bantung Stir Jualan Nasi Pecel

Hal berbeda dilakukan oleh Deny Sasha penyanyi dangdut asal Magetan yang banting stir menjadi penjual nasi pecel di rumahnya.

“Banyak job manggung terpaksa ditunda, karena tidak dapat pemasukan, saya jualan pecel saja di rumah,’’ kata Deny saat ditemui di warungnya Jalan Raya Sarangan, Desa Campursari, Kecamatan Sidorejo, Magetan, Jumat (9/7/2021).

Bupati Magetan, Suprawoto mengapresiasi langkah kreatif Deny Shasa. Pada Jum’at pagi, Kang Woto sapaan akrab Bupati Magetan tersebut mengunjungi lapak biduan dangdut itu.

Pada kesempatan tersebut, Kang Woto sapaan akrab Bupati Magetan membeli jenang dan pecel serta membagikan masker. Dia juga menghimbau kepada penjual dan pembeli di lapak tersebut untuk selalu menerapkan protokol kesehatan.

“Ini langkah yang kreatif, dan meski berjualan makanan saya minta untuk tetap perhatikan protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan,”kata Kang Woto.

Di tempat terpisah Inka Ceples (31) penyanyi dangdut asal Desa Brangkal Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini, mengaku tak ada job saat pandemi Covid-19 melanda.

“Tidak ada job sama sekali, kan dilarang. Sebelum Covid-19, sehari biasa 3 sampai 4 tempat, Bahkan di hari Sabtu-Minggu, bisa tujuh tempat, terjauh manggung di Gresik.” ungkapnya,

Masih kata Inka, karena tak ada pemasukan dari pekerjaan yang sudah dilakoni sejak lama yakni penyanyi dangdut, ia dan suami Ali Muhajir (36) pun berpikir dan memutar otak untuk mengembangkan bisnis sang suami. Yakni supplier sepatu dan sandal.

“Awalnya, saya supplier untuk 4 orang teman yang jualan online sandal dan sepatu 3 tahun lalu. Satu teman saya itu sukses, sampai bisa beli mobil. Tahun ketiga, saya jual sandal,” kata Muhajir.

Muhajir menjelaskan, ia merupakan warga Desa Karang Kedawang, Kecamatan Sooko, sementara sang istri warga Desa Brangkal, Kecamatan Sooko. Keduanya menikah karena sama-sama terjun di dunia hiburan.

“Saya kan dulu pemain keyboard, istri saya penyanyi dangdut. Selama hampir 15 tahun saya ikut di acara salah satu TV lokal di Jawa Timur. Untuk usaha sandal dan sepatu ini, di desa saya mayoritas perajin sandal dan sepatu. Meski bapak bukan perajin sepatu dan sandal tapi saya bisa membuat (sandan dan sepatu),” ujarnya.(ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar