Gaya Hidup

Begini Cara Mencegah Pernikahan Dini di Gresik

Gresik (beritajatim.com)– Guna mencegah pernikahan dini di Gresik yang trennya terus naik, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan MoU dengan Pengadilan Agama setempat. Nota kesepahaman itu dimaksudkan sebagai upaya menyiapkan mental bagi pasangan yang masih di bawah umur. Lebih khusus, menekan angka pernikahan termasuk perceraian dini di Kota Gresik.

Ketua Pengadilan Agama Gresik Sugiri Permana menuturkan, usia pernikahan dini di Gresik mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada 2020 tercatat sekitar 100 pasangan di bawah umur mengambil sumpah setia untuk membangun rumah tangga. Padahal tahun sebelumnya di bawah angka 50.

“Penyebabnya beraneka ragam. Mulai dari budaya, desakan orang tua dan hal lainnya. Termasuk, perubahan Undang-Undang tentang perkawinan. Dari UU 1 tahun 1974 menjadi 16 Tahun 2019. Menjadi faktor yang paling mempengaruhi. Dalam aturan tersebut, usia pernikahan perempuan berubah dari 16 tahun menjadi 19 tahun,” tuturnya, Kamis (8/4/2021).

Adanya MoU itu, lanjut Sugiri, menjadi upaya agar pernikahan dini tidak terjadi. Nantinya, bagi calon pasangan akan dilakukan konseling terlebih dahulu. Meyakinkan dan menguatkan agar siap secara mental.

“Harapan kami tentu masing-masing pasangan bisa menunda pernikahan. Sampai cukup umur sesuai aturan yang berlaku,” ungkapnya.

Sementara Ketua MUI Gresik KH Mansoer Shodiq pun menyambut baik hal tersebut. Hal ini dalam rangka membimbing dan menjaga umat. “Pernikahan dini justru dikuatirkan memicu berbagai macam problem. Usianya masih dini tentu belum matang betul. Khususnya dalam pemikiran, sisi ekonomi termasuk secara akidah agama,” katanya.

Ia menambahkan, melalui pemahaman tersebut menjadi penting. Agar memiliki komitmen membangun rumah tangga secara utuh hingga akhir hayat. [dny/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar