Gaya Hidup

SEP Theater Pentaskan "Violet, A Color Unaccepted"

Begini Cara Gen Z Sikapi Maraknya Intoleransi

Jakarta (beritajatim.com) – Maraknya gerakan intoleransi yang semakin mencemaskan, justru menginspirasi sekelompok anak muda Ibukota mementaskan pertunjukan teater. Anak muda yang tergabung dalam SEP Theater ini, Sabtu 7 Maret 2020 lalu mementaskan Showcase bertajuk “Violet, A Color Unaccepted” di Galeri Indonesia Kaya Jakarta Pusat.

Pentas Violet akan digelar 28 Maret 2020 di Nusa Indah Theater Balai Kartini Jakarta.

“Tema yang diangkat dalam pentas kali ini sangat menarik. Banyak kejadian yang membuat kami generasi Z ini resah akibat hampir musnahnya rasa toleransi di sekitar kita. Dengan pertunjukan ini kami ingin menunjukkan generasi kamipun peduli dengan toleransi Bangsa kita,” ujar Faris pemeran Barra dalam wawancara usai Showcase.

Violet mengisahkan kehidupan di Tanawarna. Berlatar belakang Tanawarna yang di dalamnya terdapat 4 wangsa, Wangsa Jambu adalah Rohaniwan, penafsir kitab suci, Wangsa Merah, petarung, penjaga kukuhnya negeri, Wangsa Kuning, Saudagar, penggerak roda ekonomi, Wangsa Biru, Perajin, Pelaku Budaya/Seni. Di Tanawarna hidup seorang gadis bernama Miranda.

Suatu hari Miranda mendapati kenyataan bahwa dirinya bukanlah apa yang dia yakini selama ini. Lalu, dengan adanya perbedaan Wangsa, akankah Miranda diperlakukan secara adil?

Semua Digarap Anak SMA

Produksi Violet yang sudah berjalan sekitar 2 bulan ini semua dikerjakan siswa-siswi SMA Negeri 78 Jakarta. Dengan bantuan Coaches yang juga alumni sekolah ini, mereka membuat sendiri naskah, musik, lagu, koreografi, properti, alat promosi hingga menjalin kerjasama dengan instansi atau pihak-pihak luar sekolah.

“Kami berlima sudah membuat naskah ini selama 3 bulan terakhir. Setiap hari senin, kami berdiskusi lalu mengembangkan cerita dalam naskah Violet ini,” aku Mariska, salah satu tim penulis Violet yang juga pelajar kelas XI ini.

Sementara musik, dibantu Coach, pemusik Violet menciptakan sendiri lagu tema pementasan ini. “Saya awalnya main gitar, tapi di pementasan ini saya ditantang pegang Cello,” ungkap Gibran.

Sementara itu, para pemain mengaku sangat antusias dengan pementasan Violet ini. “Awalnya sekitar 2 bulan lalu kami latihan 3 kali sepekan. Tapi mendekati pementasan kami latihan seminggu 5 kali yakni Senin, Selasa, Kamis, Jumat dan Sabtu,” kata Zahira pemeran Miranda.

Meski harus berlatih hampir setiap hari sepulang sekolah, para pelajar ini justru bangga bergabung dalam pentas Violet. “Di sini aku banyak belajar jadi lebih dewasa, harus pinter-pinter bagi waktu antara latihan, les, belajar juga waktu untuk keluarga,” tukas Kinanti, pemeran Jill dari wangsa Jambu.

Para aktor itu berharap, pementasan Violet mampu membangkitkan generasi yang menghargai toleransi dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar