Gaya Hidup

Batik Tulis Sumenep Karya Warga Binaan Rutan Merambah Nusantara

Sumenep (beritajatim.com) – Melihat kain batik tulis ini, tidak sedikit para pecinta batik yang merasa ‘jatuh cinta’. Corak dan warna batiknya menarik, batikannya halus, kainnya pun ‘adem’. Namun tidak banyak yang tahu kalau batik cantik itu dibuat dari balik jeruji besi.

Batik-batik menarik itu memang lahir murni dari karya warga binaan pemasyarakatan (WBP) Rumah Tahanan Negara (Rutan) Sumenep. Menjalani hukuman bukan berarti menghentikan kreasi.

“Beberapa warga binaan kami memang menekuni pembuatan batik tulis. Ternyata hasilnya tidak mengecewakan. Batik produksi warga binaan Rutan Sumenep ini cukup banyak diminati,” kata Kepala Rutan Klas IIB Sumenep, Beni Hidayat, Rabu (31/07/2019).

Ia menuturkan, batik tulis yang dihasilkan warga binaannya telah merambah pasar nusantara, seperti Jakarta, Surabaya, Bali, Kalimantan, dan beberapa daerah lain.

“Permintaan batik hasil karya warga binaan kami memang tidak hanya dari Sumenep. Beberapa daerah di Indonesia juga sempat meminta batik produksi binaan kami,” ucapnya.

Ia menuturkan, harga batik produksi warga binaan rutan Sumenep berkisar antara Rp 300.000 – 450.000, tergantung corak batiknya.

“Batik yang diproduksi ini batik tulis asli. Jadi memang agak mahal harganya. Tetapi ini limited. Satu motif hanya satu kain. Dijamin tidak ada yang kembar dimanapun. Kecuali memang pesanan seragam,” ucapnya.

Untuk menyelesaikan satu lembar kain batik, diperlukan waktu 4-6 hari, mulai proses menggambar pola batik, pemalaman, pewarnaan, penjemuran, hingga finishing.

“Semakin rumit corak batiknya, maka semakin butuh waktu lama untuk penyelesaiannya. Karena sekali lagi, ini batik tulis, bukan batik cetak,” tandasnya. (tem/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar