Gaya Hidup

Sedot Turis Manca Negara

Banyuwangi Kembangkan Destinasi Wisata Kreatif Berbasis Kopi   

Banyuwangi (beritajatim.com) – Perkebunan kopi Malangsari Banyuwangi dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik nusantara yang diminati pasar Italia. Di lokasi tersebut, kini tengah dikembangkan sebuah wisata edukasi kopi.

Wisatawan diajak melihat kebun kopi, proses pengolahan kopi dari hulu ke hilir, hingga mencecap cita rasa kopi “lanang” robusta.

Kebun kopi Malangsari yang dikelola oleh PTPN XII terletak di wilayah pegunungan selatan Banyuwangi yang terkenal dengan produk ”kopi lanang”-nya. Berada di ketinggian di atas 400 mdpl, hawa sejuk pegunungan akan mengiringi perjalanan ke kebun kopi yang berada di Desa Kalibaru Kulon, Kecamatan kalibaru, Banyuwangi ini.

Memasuki kawasan kebun seluas 2.600 hektar ini, para pengunjung akan melewati jalanan pedesaan yang dipenuhi dengan panorama hamparan sawah padi. Setelahnya, akan melintasi perkebunan karet dan kopi.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan pemkab terus berupaya mendorong perkembangan wisata di Banyuwangi. Salah satunya berkolaborasi dengan BUMN menciptakan destinasi kreatif dengan mengoptimalkan aset yang ada.

“Bersama PTPN XII kami serius mengembangkan destinasi berbasis kopi ini. Kami menyebutnya destinasi kreatif. Karena di hamparan kebun kopi ini, pengunjung bisa menyaksikan bagaimana proses pembibitan kopi yang unggul, hingga memproses biji kopi menjadi bubuk kopi premium. Tidak hanya sekadar menghasilkan produk mentah, tapi juga mampu melakukan hilirisasi yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi,” kata Anas, Sabtu (21/12/2019).

Anas menjelaskan ketertarikannya mengembangkan wisata kreatif berbasis agro ini lantaran kebun Malangsari salah satu penghasil kopi terbaik di Indonesia. Kopi produksi Malangsari memang sangat diminati pasar Italia.

“Di Italia ada distributor besar yang hanya mau menerima kopi Banyuwangi. 80 persen kopinya kiriman dari Malangsari Banyuwangi. Atas dasar itu, kami bersama PTPN XII berniat memaksimalkan potensinya, dengan menjadikan kebun ini sebagai destinasi kreatif. Ini akan memberikan manfaat yang lebih banyak, tidak hanya bagi BUMN tapi juga bagi masyarakat,” kata Anas.

Sebelumnya pada 13 Desember lalu, Perkebunan Malangsari mengirim 45 ton kopi robusta ke Italia yang merupakan tahap pertama dari rencana ekspor 1.300 ton pada akhir tahun ini. Selain Italia, kopi itu juga bakal diekspor ke Inggris, Swiss, Jerman, Australia dan Jepang. Pada awal Desember 2019, kopi dari Perkebunan Selogiri Banyuwangi yang terletak di kaki Gunung Ijen juga telah mengekspor 378 ton kopi ke Italia dan Inggris.

“Kami akan menggelar festival kopi robusta tahun depan. Sudah kami masukkan agenda Banyuwangi Festival 2020. Kami serius mengembangkan hilirisasi kopi di Banyuwangi,” kata Anas.

Pemkab Banyuwangi sendiri telah menggelar berbagai pelatihan proses pengolahan kopi berkolaborasi dengan berbagai intitusi, termasuk dengan BPPT. BPPT menurunkan ahlinya untuk membantu sejumlah SMK jurusan agro kopi mengembangkan usaha kopi. Sejumlh bank-bank nasional juga ajeg menggelar pelatihan kopi dan pengolahan coklat untuk anak muda yang tertarik mengembangkan bisnis kopi.

Secara terpisah, Direktur Utama PTPN XII M. Cholidi bahwa PTPN XII terus bersinergi dengan pemkab Banyuwangi mengembangan destinasi agrotourism edukatif. Mulai dari pendirian pabrik coklat di kebun kakao Kendeng Lembu Glenmore, wisata agro industri pabrik gula, dan kini wisata kreatif kopi robusta di Kebun Malangsari.

“Di tempat ini, akan didesain wisata edukatif yang kreatif. Kami rancang menjadi tempat belajar bersama. Petani-petani kopi lain juga bisa belajar di sini bagaimana menghasilkan kopi yang berkualitas tinggi. Ini akan menghasilkan pengalaman unik bagi wisatawan,” kata Cholidi.

Sementara itu, manajer Perkebunan Malangsari, Sanuri, menjelaskan, kebun Malangsari memproduksi kopi yang premium karena secara topografi sangat pas untuk pengembangan kopi robusta. Selain itu, bibit kopi yang ditanam di Malangsari serta proses tanam dan petik kopi di sini diperhatikan dengan baik.

“Di kebun ini kita tanam tiga jenis bibit kopi. Ini sangat disarankan untuk penyerbukan agar menghasilkan cita rasa yang kaya. Ditopang bibit unggul dan topografi, kopi di sini mampu menghasilkan cita rasa unik yang digemari pasar. Ada kombinasi rasa asam dengan karamel coklatnya yang terasa di lidah,” jelas Sanuri. (rin/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar