Gaya Hidup

Banyak Kerusakan, Proses Penggalian Batu dan Bata di Situs Kumitir Mojokerto Sudah Terjadi Sejak 1780

Kerusakan yang terjadi di Situs Kumitir Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Dari hasil ekskavasi yang dilakukan Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Situs Kumitir yang terletak di Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto banyak yang rusak. Hal tersebut lantaran aktivitas penggalian batu dan bata sudah terjadi sejak tahun 1780 an hingga sekarang.

Kepala BPCB Jawa Timur, Andi Muhammad Said membenarkan, banyak kerusakan terjadi di Situs Kumitir. “Talud barat banyak yang rusak. Ini memang lahan garapan masyarakat untuk membuat linggan, jadi itu pasti banyak yang rusak,” ungkapnya, Selasa (18/8/2020).

Masih kata Said, hal tersebut bisa dilihat dari permukaan tanah sekitar Situs Kumitir sudah turun hingga tiga meter ke bawah. Artinya, sudah banyak bata yang hilang dan berdasarkan catatan Belanda, pada akhir tahun 1780 penggalian bata dan batu di Trowulan sudah banyak dilakukan.

“Belanda mencatat, pada akhir tahun 1780 an penggalian batu dan bata di sini itu sudah hampir tiap hari dilakukan oleh masyarakat. Itu diambil untuk bantalan rel kereta atau batanya diambil untuk semen merah, itu terjadi sejak abad 17 dan sampai sekarang. Hal itu terjadi terus terjadi jadi wajar kalau banyak yang rusak dan hilang,” katanya.

BPCB Jawa Timur sudah mulai melakukan ekskavasi di Situs Kumitir sejak dua minggu lalu. Dari 400×300 meter2 luas keseluruhan, tahun ini targetnya 30 persen atau seluas kurang lebih 2.000 meter2. Selain menemukan talud di sisi timur, utara dan barat, selama dua minggu juga ditemukan runtuhan bangunan diduga pintu gerbang di sisi barat dan terdapat struktur bangunan di bagian tengah. [tin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar