Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Bakso Dandang, Inovasi Kuliner Saat PPKM Darurat di Jombang

Bakso dandang yang dijual di Omah Kebon Cafe, Green Red Hotel Jombang. [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Bram dan Wiwin keluar ‘Omah Kebon Cafe’ yang ada di Green Red Hotel Syariah Jombang, Jumat (16/7/2021). Dua pria ini membawa dua buah dandang yang dikemas cukup menarik. Terdapat kain tembus pandang yang membungkus dandang tersebut.

Di halaman hotel, sepeda motor yang sudah dimodifikasi dengan boks di bagian belakang terparkir rapi. Wiwin kemudian membuka boks tersebut dan memasukkan dandang yang ia bawa. Bram juga melakukan hal serupa. Pintu boks warna hitam putih itu kemudian ditutup. Wiwin lalu mengenakan helm.

“Ini mau mengantar pesanan bakda dandang ke wilayah Mojoagung. Ada dua pesanan,” kata Wiwin sembari menghidupkan sepeda motor, lalu menggebernya meninggalkan hotel yang berada di Jl Sukarno-Hatta No 55 Jombang. Jarak hotel dengan Mojoagung sekitar 15 kilometer.

Sementara Wiwin menghilang, Bram kembali masuk ke Omah Kebon Cafe. Kembali beraktifitas untuk menyiapkan pesanan lainnya. Ya, bakso dandang adalah inovasi yang dilakukan Green Red Hotel Syariah Jombang selama PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat yang dimulai 3 hingga 20 Juli 2021.

Para pelanggan tidak lagi menikmati bakso di resto Hotel Green Red, yakni Omah Kebon Cafe. Namun diantar langsung ke rumah pemesan. Satu paket dandang tersebut berisi lima porsi bakso. Lengkap dengan mie putih, seledri, kubis, serta bawang goreng. Selain bakso juga terdapat tahu serta siomay.

“Tentunya juga disertai dengan kecap, sambal, serta saus. Dandang ukuran 22 inchi menjadi milik pembeli. Satu paket bakso dandang ini harganya Rp 153 ribu. Untuk wilayah Jombang, bebas ongkos kirim (ongkir). Kalau luar kota, ongkirnya menyesuaikan,” ujar General Manager (GM) Green Red Hotel Syariah Jombang Riyadi Saputra.

Riyadi berkisah, menjelang diterapkannya PPKM Darurat, dia memeras otak. Karena dia sadar, kebijakan tersebut akan berdampak pada anjloknya okupansi hotel. Padahal, gaji pegawai, biaya operasional, hingga pembayaran pajak serta listrik, tetap jalan. “Kalau hotel tidak beroperasi, kasihan karyawan,” kata Riyadi.

Dua karyawan Hotel Green Red Jombang hendak mengirim bakso dandang ke pemesan, Jumat (16/7/2021)

Dari situlah akhirnya Riyadi menemukan solusi. Dia mengambil celah di sisi kuliner. Yakni, menjual paket bakso dandang. Kuliner tersebut tidak dinikmati di resto hotel. Tapi dikirim langsung ke pemesan. Tujuannya, mengurangi kerumunan dan mentaati aturan dalam PPKM tersebut.

Walhasil, paket bakso dandang mendapat respon positif di pasaran. Pesanan datang seperti air mengalir. “Kita luanching pada 3 Juli 2021, tepat saat diberlakukannya PPKM Darurat. Mengapa kita pilih bakso? Karena kuliner ini sudah akrab bagi semua kalangan,” katanya.

Royadi mengungkapkan, pesanan bakso dandang datang dari berbagai wilayah di Jombang. Bahkan pernah pula ada pesanan yang datang dari luar kota, yakni Mojokerto. Dalam satu hari, rata-rata terjual 10 paket bakso dandang. “Kalau lagi ramai, sehari pernah ada pesanan 25 paket,” ujar Riyadi.

Banyak Dipesan Para Isoman

General Manager (GM) Green Red Hotel Syariah Jombang Riyadi Saputra

Sekitar satu jam keluar dari Hotel Greem Red, Wiwin datang dengan motor boks yang sudah kosong. Dia langsung masuk ke Omah Kebon Cafe. Melakukan pengecekan apakah ada pesanan lagi yang harus diantar. Karena batas pengantaran bakso dandang hingga pukul 18.00 WIB.

Sementara Riyadi yang duduk di Omah Kebon Cafe menerangkan bahwa pemesan bakso dandang bervariasi. Ada yang digunakan untuk konsumsi acara arisan, acara kumpul keluarga, serta untuk warga yang sedang melakukan isoman (isolasi mandiri).

“Kemarin mengirim paket bakso dandang ke sejumlah pegawai PUPR Jombang yang sedang isoman. Pesanan ini dari orang lain, dikirim ke temannya, yakni pegawai PUPR. Karena kuliner ini sangat bergizi. Bisa meningkatkan imun tubuh,” kata Riyadi.

Menurut Riyadi, inovasi saat PPKM Darurat sangat diperlukan. Tujuannya, agar hotel tetap ada pemasukan. Sehingga bisa menggaji karyawan. “Bayangkan kalau sampai tutup. Kasihan karyawan. Padahal ada 30 orang yang kerja di hotel ini. Harus pintar-pintar membuat terobosan,” lanjutnya.

Kepada pemerintah, Riyadi berharap ada kelonggaran. Semisal ada pembebasan pajak bagi hotel. Juga ada pengurangan beban pembayaran listrik. Karena selama PPKM Darurat, hotel juga ikut sepi. Okupansinya turun hingga 50 persen lebih.

“Saat ini hanya 10 kamar yang laku. Padahal pada hari biasa sempat tembus 27 kamar. Sejak PPKM Darurat turun drastis. Kami memiliki 35 kamar, yang laku hanya 10,” pungkas Riyadi Saputra sembari menunjuk sejumlah kamar yang kosong. [suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar