Gaya Hidup

Bagus Sumartono: Film Tilik adalah Pengalaman Hidup Pribadi

Surabaya (beritajatim.com) – Tilik, menceritakan perjalan sekelompok ibu-ibu yang bertujuan ingin menjenguk kepala desa yang dirawat di rumah sakit.

Memakai truk sebagai alat transportasi, terdiri lebih dari 7 orang warga. Banyak topik yang diangkat di dalamnya.

Bu Tejo, sebagai punggawa dalam Film Tilik ini, selalu berhasil membuat penonton gemas-gemas sendiri, lantaran ucapannya yang terkadang ceplas-ceplos.

Tilik merupakan film hasil kerjasama antara Dinas Kebudayaan Daerah Keistimewaan Yogyakarta dengan Ravacana Films.

Film yang direlease pertamakali pada tahun 2018. Kendati demikian, film ini mulai ramai diperbincangkan khalayak publik sejak tayang perdana pada Senin, 17 Agustus 2020 melalui kanal Youtube.

Film Tilik dianggap berhasil memotret kondisi masyarakat saat ini dalam kaitannya dengan penyebaran kabar palsu didunia maya.

Bagus Sumartono selaku penulis cerita menyampaikan bahwa secara umum film ini terinspirasi dari pengalaman hidup sang penulis dan polemik perdebatan di media sosial serta fenomena hoaks menjelang pilpres 2019, Senin (14/09/2020).

Serangkaian peristiwa tersebut kemudian disimplifikasi menjadi naskah cerita Film “Tilik”. Alur cerita serta karakter tokohpun diambil dari realitas kehidupan masyrakat yang berdasar sudut pandang penulis.

Film ini merupakan representasi dari realitas sosial masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari penggambaran truk yang ternyata merupakan simbol dari negara Indonesia.

Ibu-ibu di dalam truk tersebut merupakan masyarakat Indonesia dengan beragam ideologi, budaya, pemikiran dan karakteristik yang berbeda-beda.

Masyarakat Indonesia akan tetap bersatu, walau di tempatkan dalam konflik perbedaan. Karena itu, truk juga menjadi lambang kesatuan.

Salah satu pesan menonjol dalam film ini adalah untuk mendorong masyarakat Indonesia agar tidak mudah terperangkap pada berita palsu atau hoaks yang tersebar di media sosial.

‘Tilik’ dari Perspektif Budaya

Dalam kajian budaya, Film Tilik ini memiliki keunikan tersendiri. Ajeng Adinda, salah satu peserta diskusi Film Tilik yang diadakan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) FISIP Unair ini menyampaikan bahwa Ada 2 perspektif sosiokultural yang menggambarkan film ini secara keseluruhan.

Menempatkan secara intermental atau lingkungan sosial sebagai faktor primer dan konsitutif terhadap pembentukan ilmu pengetahuan serta perkembangan fungsi seseorang.

Dalam sosiologis di kenal teori interaksionis simbolik merujuk pada munculnya narasi-narasi atau pemahaman yang kemudian disepakati oleh kelompok sosial tersebut. Tercermin dari pola interaksi Bu tejo dan ibu-ibu lainnya yang kemudian menghasilkan pemahaman tertentu tentang Tokoh Dian.

Solidaritas kelompok Bisa memunculkan Tujuan baik. Hal ini tercermin pada tokoh Yu Ning yang menjadi inisiator “Tilik” kepada Bu lurah.

Solidaritas kelompok justru dapat menimbulkan pemahaman-pemahaman yang kontradiktif. Hal ini tercermin dalam narasi yang kemudian dibentuk Bu Tejo untuk memojokan Dian.

Sebuah narasi yang secara tidak langsung kemudian disetujui oleh ibu-ibu lainnya. Hal ini kemudian menghasilkan stereotipe gender bagi tokoh Dian.

‘Tilik’ dalam Perspektif Gender

Dalam kaitannya dengan perspektif gender, Film Tilik justru mengandung beragam stereotipe. Elni Nainggolan selaku aktivis perempuan menyampaikan bahwa dalam Film ini mengandung streotipe gender yang sesuai dengan realita yang terjadi dalam masyrakat Indonesia.

Stereotipe gender bukanlah masalah besar jika ditampilkan dalam karya seni berupa Film. Hal yang penting adalah bagaimana masyrakat menyadari keberadaan streotipe tersebut dan mau mengubah dan mengurangi berbagai streotipe negatif atau pandangan buruk terhadap perempuan.

Dengan menampilkan stereotipe tersebut dalam film, kritik pada masyrakat justru dapat tersampaikan agar segera mengakhiri pemberian stereotype pada perempuan.

Yang menjadi masalah adalah jika berbagai stereotipe negatif terhadap perempuan dilanggengkan dalam masyarakat. Karena itu, perlu ada kesadaran masyrakat untuk menyudahi budaya stereotipe.

Dalam film Tilik, ada beberapa stereotype yang muncul. Sebut saja penggambaran tokoh dian digambarkan dengan sosok perempuan yang non hijab yang sering berjalan-jalan dengan om-om sehingga dituduh sebagai simpanan om-om dan perempuan nakal.

Ada pula stereotipe pada Ibu-ibu yang cendrung memiliki kebiasaan membicarakan orang lain atau bergosip. Ada pula stereotipe bahwa Wanita dengan usia tertentu harus segera menikah ketimbang memilih kariernya. Berbagai stereotipe muncul dan digambarkan secara jelas dalam film ini.

‘Tilik’ menjadi titik balik dalam upaya memvisualisasikan realitas sosial terkait multiperspektiv sosok perempuan dalam masyarakat.

Tokoh Dian yang dengan pilihannya untuk bekerja di kota dan hidup mandiri ternyata menuai banyak pandangan buruk dalam masyrakat.

Tokoh Bu Lurah juga dengan posisinya sebagai pejabat politik yang memiliki status janda dan single parent dengan polemik keluarga yang rumit justru menimbulkan skeptis tersendiri dari masyrakat.

Skeptisme dan stereotipe masyarakat terhadap perempuan disimbolkan dengan sosok Bu Tejo yang terus berbicara buruk tentang tokoh Dian dan Bu Lurah.

Film Tilik meskipun menuai banyak pertentangan akibat adanya stereotipe gender, nilai-nilai positif justru banyak terkandung dalam film ini. Sosok Dian yang mandiri dan Bu Lurah yang sukses justru dapat menjadi representatasi dari perempuan-perempuan tangguh.

Tilik hadir dalam bingkai realitas masyarakat, penanaman dan kaya akan penyadaran, merupakan film yang layak ditonton. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar