Gaya Hidup

Badrut Tamam: Kritik Merupakan Keniscayaan dalam Kepemimpinan

Bupati Pamekasan, Badrut Tamam (kiri) menerima cinderamata dari KH Amin Rifqi usai mengisi kegiatan Ngaji Kepemudaan dalam rangka Pekan Ngaji 6 Pesantren Bata-Bata, Minggu (21/3/2021) malam.

Pamekasan (beritajatim.com)Bupati Pamekasan, Badrut Tamam memberikan motivasi sekaligus mengajak para santri agar tidak berkecil hati untuk bisa menjadi seorang pemimpin. Sekalipun berasal dari keluarga mengah kebawah.

Hal tersebut disampaikan saat mengisi materi Ngaji Kepemudaan dengan tema ‘Leadership For Young Leader’ dalam kegiatan Pekan Ngaji 6 Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Desa Panaan, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Minggu (21/3/2021) malam.

Dalam kegiatan yang dipusatkan di halaman madrasah putra, Bupati Badrut Tamam memulai materi dengan mengupas singkat kenangan indah saat nyantri di Pesantren Bata-Bata. Termasuk cerita jika pada masa itu belum ada ajang bertaraf internasional semisal Pekan Ngaji.

“Sewaktu masih menimba ilmu di Pondok Pesantren Bata-Bata, waktu itu sekitar pertengahan 1993. Kami juga berperilaku seperti santri pada umumnya, sama-sama belajar, mengaji dan lainnya. Walaupun dulu tidak ada Pekan Ngaji,” kata Bupati Badrut Tamam.

Diakuinya, kemampuan dan mental yang didapatkan salama nyantri di pesantren, selanjutnya memicu motivasi bagi dirinya untuk terus dikembangkan. Beberapa di antaranya saat dirinya memasuki masa kuliah hingga berkarir dalam dunia politik, juga mengaplikasikan sejumlah pemahakan dan pengalaman yang didapat di pesantren.

Termasuk saat menjadi pemimpin dalam usia muda, khususnya sejak masa kuliah hingga berkarir di bidang politik yang saat ini mengantarkan dirinya sebagai orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan.

“Untuk menjadi pemimpin yang luar biasa, membutuhkan beberapa skill mempuni. Seorang pemimpin harus punya kapabilitas, dalam artian mampu memprediksi berbagai masalah masa depan, termasuk juga kemampuan dalam menyelesaikan berbagai masalah,” ungkapnya.

Ra Badrut Tamam juga berbagi tips kepada para santri dengan menyampaikan tiga syarat penting yang harus dipegang oleh seorang pemimpin. “Ada beberapa syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu kejujuran, keilmuan dan cekatan,” jelasnya.

“Jika kita sebagai santri sudah mempunyai tiga syarat itu, maka kita bisa dipastikan bakal menjadi pemimpin yang baik. Tidak hanya untuk menjadi pribadi yang baik, tetap juga saat memimpin masyarakat secara umum,” sambung Badrut Tamam.

Dari itu pihaknya mengajak para santri agar tidak berkecil hati untuk menjadi seorang pemimpin, sekalipun berasal dari keluarga kurang mampu. Terlebih aspek finansial bukan sebagai halangan dalam dunia kepemimpinan. “Jika uang dijadikan sebagai sebagai syarat mutlak dalam kepemimpinan, maka kita terjebak dalam kesalahan berpikir,” tegasnya.

“Jadi untuk menjadi seorang pemimpin itu, kita harus siap menerima berbagai aspirasi dari masyarakat. Kritik merupakan keniscayaan dalam kepemimpinan, sehingga benar kata istilah bahwa tidak ada pelaut handal tanpa melewati ombak besar,” pungkasnya. [pin/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim Foto

Air Terjun Telunjuk Raung

Foto-foto Longsor di Ngetos Nganjuk