Gaya Hidup

Asung Dunga Lesung dan Seni Partisipasi Warga

Bojonegoro (beritajatim.com) – Salah satu mandat dalam Kongres Kebudayaan Indonesia 2018, diantaranya bangsa ini berkepribadian dalam kebudayaan. Dengan begitu salah satu upaya dalam memenuhi mandat tersebut, seni kejadian di masyarakat tidak boleh mati.

Upaya yang paling khusuk untuk merawat tradisi luhur yang berbudaya adalah dengan adanya peristiwa seni tradisional yang berada dan inisiasi warga. Sebab, dengan begitu nilai gotong royong, among rasa dan tidak hanya berporos pada pusat kebudayaan di kota.

Peristiwa seni di pusat kota saat ini sudah berubah menjadi politik kebudayaan. Persaingan seni yang kasar dan tidak mengacu pada keindahan karya. Gelaran budaya yang mengacu pada kepentingan siapa yang membiayai. Kepentingan si perusahaan, elit dan pemerintahan yang berkuasa.

“Menjaga nilai seni tradisi partisipasi warga yang mengangkat nilai gotong royong ini yang sekarang memang berat,” ujar Lik Owot dari Komunitas Ruang Hening Salatiga, dalam peristiwa seni yang digelar oleh sejumlah warga Tambangan Satu, Desa Jetak, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (30/3/2019) malam.

Sehingga, adanya gelaran seni tradisional yang diusung oleh warga ini menjadi hal yang dianggap kampungan dan tidak sesuai dengan perkembangan arus. Kolot serta membutuhkan proses yang panjang dan intens. “Sekarang kesenian lebih dianggap praktis,” lanjutnya.

Gelaran kesenian tradisional Asung Dunga Lesung yang dilakukan warga Desa Jetak, Kabupaten Bojonegoro merupakan inisiatif warga untuk mengangkat kembali nilai gotong royong dengan media budaya masyarakat agraris. Menumbuk padi dan menabuh lesung.

Dengan menabuh lesung, menurut Oky Dwi Cahyo, warga ingin menghaturkan doa, wujud rasa syukur sekaligus pengharapan agar senantiasa diberikan kekuatan serta umur panjang dalam mempertahankan warisan leluhur yaitu kothekan (menabuh) lesung.

Sehingga mengambil tema “Asung Donga Lesung” yang artinya menghaturkan doa lesung, dengan kekuatan gotong royong untuk menghasilkan sebuah peristiwa atau karya pertunjukan sederhana dengan rasa persatuan sebagai simbol menghormati pengorbanan dan spirit dari sebuah kesenian lesung itu sendiri.

“Bagaimana dahulu lesung sudah menjadi bagian dari hidup kaum masyarakat agraris untuk mewujudkan padi menjadi beras tentu saja itu tidak instan, membutuhkan sebuah proses dan perjuangan. Mungkin berbeda dengan kita saat ini yang telah mudah menikmati sebuah nasi di dalam rice cooker,” ujar Oky.

Kemudian, ide untuk merawat tradisi tersebut muncul dari Ibu-ibu kelompok lesung Merana Jaya, yang telah terbentuk satu tahun belakangan. Dalam momen satu tahun kelahirannya itu, para pelaku bermaksud nyelameti, Nironi atau Syukuran Lesung. Keinginan ibu-ibu untuk ingin mewujudkan rasa syukurnya sangat tulus,” tambahnya.

Munculah makna atau maksud tujuan yang tepat mengadakan slametan, yaitu bukan menyelameti lesung hanya sebagai benda dikeramatkan tetapi lebih ke spirit dari sebuah kelompok lesung sendiri, agar senantiasa diberi kekuatan, guyub rukun dan sehat sentosa. Begitulah seni menurut mereka yang membuat ketenangan jiwa para pelakunya.

Rangkaian kegiatan dimulai dari sore dengan pertunjukan Barongsai dan seni tari yang dibawakan oleh anak-anak desa setempat. Setelah magrib warga melakukan bancakā€™an, kemudian setelah isyak dimulai dengan pertunjukan teater tradisional Sandur oleh kelompok teater DenBei SMA Negeri 4, dan Teater Sekar Pethal dari SMK Negeri 5 Bojonegoro.

Pembacaan gurit dari Teater Awu SMK Negeri 2, pertunjukan teater tradisional dari Teater Parkir dan Wayang Kancil yang dibawakan oleh kelompok teater Teater Ruang Hening. Serta disela sela itu lagu-lagu dari Group Lesung Merana Jaya. [lus/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar