Gaya Hidup

Asa CHSE Bangkitkan Wisata dan Ekonomi di Tengah Pandemi

Malang (beritajatim.com) – Ekonomi harus bangkit. Itulah harapan dari program CHSE atau Clean, Healthy, Safety and Environment Sustainability yang digagas Tim Perumus CHSE dari Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.

Melalui program CHSE inilah, diharapkan ekonomi ditengah pandemi Covid-19, bisa kembali menggeliat. Khususnya, sejumlah bidang usaha pada sektor pariwisata.

Melalui sosialisasi CHSE pada bidang Pariwisata di Kabupaten Malang, Kamis (22/10/2020) di Resto Pan Warung Tani Java Mulyo Agung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, pengelola destinasi wisata segera melakukan operasional karena ekonomi harus tetap bangkit.

Dalam sosialisasi hari itu, dihadiri langsung Staf Ahli Menteri Bidang Pengembangan Usaha Kemenparekraf RI, Dadang Risky Ratman. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Malang, Made Arya Wedanthara. Tim Perumus CHSE Kemenpar Ayu Nur. Serta, Suwondo, selaku Kepala Bidang Kebudayaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.

Dari sosialisasi itu, sejauh ini sektor pariwisata sangat terdampak selama wabah Covid-19 melanda. Hal itu dikarenakan sektor pariwisata, nyaris lumpuh karena tidak ada lagi turis mancanegara yang harus datang ke Indonesia. Untuk bisa berwisata, pemerintah harus mengeluarkan panduan ketat protokol kesehatan untuk meningkatkan kebersihan, kesehatan dan keselamatan.

“Dunia pariwisata juga harus siap bangkit lagi, panduan praktisnya adalah CHSE untuk pemilik atau pengelola, pengunjung dan karyawan,” ungkap Ayu Nur, Tim Perumus CHSE Kemenparekraf RI.

Dimata Ayu Nur, sertifikasi CHSE penting karena ini menjadi jaminan sektor pariwisata tergerak kembali. Disamping itu, sosialisasi, informasi, edukasi dan penilaian mandiri (kelengkapan prosedur kesehatan harus di penuhi). Setelah rangkaian itu terwujud, kemudian siap untuk didaftarkan tempat wisatanya ke link yang sudah disediakan Kemenpar hingga tahap auditor akan mengecek langsung ke lokasi usaha.

“Realisasi akan di perbolehkan kalau tempat wisata sudah diberikan sertifikasi oleh Kemenpar. Setalah penilaian memenuhi syarat dengan target 80 sampai 100 persen. Dimana penilaian atau masa berlakunya 1 tahun. Setelah 1 tahun wajib diadakan pengecekan kembali apakah masih layak atau tidak,” bebernya.

Sementara itu, Suwondo selaku Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim menjelaskan, ada beberapa hal dalam pariwisata yang harus dinperhatikan. Diantaranya mengenai security, safety, comfort dan hiegins.

“Soal ini sebelum pandemi dan setelah pandemi, harus di tangani secara khusus. Pemprov pada prinsipnya akan selalu linear terhadap program-program yang dilakukan oleh Kemenpar RI dan Ekonomi Kreatif ,”

Suwondo menilai, penguatan budaya di desa wisata juga penting. Terutama pada sisi living culture. Karena setiap desa, memiliki living culture yang berbeda dan 5 desa wisata akan di proyeksi untuk pengembangan selanjutnya.

“Trend pembangunan pariwisata di era pandemi, fokusnya lebih banyak di protokol kesehatan, pengembangan ke arah digital, pengembangan industri conference and exhibition dan komunikasi pemasaran untuk menyakinkan pengunjung. Bahwa berkunjung ke tempat wisata di masa pandemi ini, akan aman dan terjamin keselamatannya,” papar Suwondo.

Disisi lain, lanjut Suwondo, budaya lokal yang mulai hilang, maka wajib di gali lagi agar terus di kembangkan. Karena masyarakat desa sendiri, tidak terlalu berdampak manfaat positif dari pariwisata itu sendiri karena hanya sebagai objek dan bukan sebagai subjek.

“Membangun desa wisata salah satunya, memang harus terintegrasi antara atraksi, akomodasi, fasilitas makan dan minum. Kenapa begitu, agar optimal di sektor ekonominya sebagai daya tampung. Serta untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat yang bermukim di sekitar wilayah pariwisata,” beber Suwondo.

Malang Jadi Aset Wisata Luar Biasa

Kebijakan terkait pengembangan pariwisata di masa pandemi Covid-19, sejauh ini harus tetap di jalankan. Di Kabupaten Malang salah satunya sebagai kawasan wisata terbesar di Jawa Timur sejauh ini, memiliki 378 desa dan 12 kelurahan.

Dengan luas wilayah yang luar biasa, membuat pemerintah dan pengelola usaha pada sisi pariwisata, harus memutar otak. Bagaimana wisata di Kabupaten Malang dan Malang Raya secara umum, dapat mengembangkan lebih baik.

“Masyarakat Kabupaten Malang secara budaya, sudah punya potensi seperti masyarakatnya yang mempunyai ciri khas keramahan yang luar biasa sebagai tuan rumah untuk menyambut pengunjung dari berbagai daerah. Ini adalah modal yang baik,” papar Made Arya Wedanthara, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Malang.

Melalui Kelompok Sadar Wisata atau Podarwis, sambung Made, sejumlah pemangku kepentingan baik dari tingkat kepala desa, karang taruna, hingga tokoh agama dan tokoh masyarakat, diharapkan dapat menjadi ujung tombak kemajuan pariwisata pada setiap daerah.

“Contohnya Desa Pujon Kidul. Pada tahun 2014 lalu, memanfaatkan dana desa untuk pengembangan tempat wisatanya. Dengan begitu kami (Disparbud), akan menindaklanjutinya seperti membantu menyediakan SDM. Sementara Dinas Bina Marga, membantu akses jalannya hingga Kementerian Ekonomi Kreatif, akan memberi fasilitas kegiatan ekonomi di tempat wisata tersebut sehingga berdampak positif bagi warga sekitar,” ujarnya.

Made Arya menerabgkan, semua OPD akan bersatu untuk membentuk lebih banyak lagi desa wisata. Mengingat Kabupaten Malang sejauh ini, menjadi kiblat bagi destinasi wisata seluruh Indonesia dengan banyaknya kunjungan dari luar Jawa seperti Sumatra dan Kalimantan.

“Arahan dari pak Menteri, bagaimana caranya lokasi wisata tetap jalan dengan masa pandemi Covid-19 saat ini. Untuk itu pembentukan Perbup Nomor 20 tahun 2020 dapat membantu mengarahkan serta berkomitmen antara pengelola wisata dan pengunjung agar tetap menjalankan SOP kesehatan,” Made Arya mengakhiri. [yog/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar