Gaya Hidup

Apik, Batuan di Sungai Gembolo Mojokerto Dicat Warna-warni

Sungai Gembolo di Desa Tempuran, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto yang dicat warna-warni. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Warga Desa Tempuran, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto pun mengalihkan kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan RI dengan bentuk peduli lingkungan. Yakni dengan mengecat warna-warni ratusan batu di Sungai Gembolo dengan tujuan agar tak menjadi tempat pembuangan sampah.

Kepala Desa Tempuran, Ispadi mengatakan, ratusan batu di Sungai Gembolo dicat berwarna-warni oleh para pemuda Karang Taruna Desa setempat. “Karena peringatan 17 Agustus kan ditiadakan karena pandemi, jadi diganti membersihkan sungai dan mengecat batu yang ada di dalam sungai menjadi warna-warni,” ungkapnya, Selasa (4/8/2020).

Masih kata Ispadi, selain untuk mencegah penyebaran Covid-19, langkah yang dilakukan itu untuk mengispirasi warganya agar peduli terhadap lingkungan sekitar. Utamanya agar sungai itu tidak lagi dibuangi sampah yang menyebabkan terjadinya banjir jika musim penghujan datang. Ini lantaran, Sungai Gembolo kerap dijadikan tempat pembuangan sampah.

“Banyak pengendara yang melintas di jembatan itu sering membuang sampah ke sungai sini, seperti sampah popok dan sampah plastik. Kalau terlihat bersih dan pandangannya indah seperti ini, mereka enggan membuang sampah lagi. Dan terbukti, setelah batu-batu dicat sudah tidak ada yang buang sampah justru banyak masyarakat yang datang,” katanya.

Ketua Karang Truna Desa Tempuran, Moh Afif Firdiyanto (29) menambahkan, ia bersma para pemuda Karang Taruna lainnya membersihkan Sungai Gembolo dan mewarnai batu-batu sejak dua minggu lalu. Tujuan selain tidak adanya kegiatan peringatan 17 Agustus, juga agar sungai tidak dijadikan tempat sampah. “Ya akhirnya saya dan rekan-rekan punya inisiatif menghias batu di sungai ini, kalau banyak orang gini kan sungkan oknum yang mau buang sampah. Sekitar dua minggu lalu kami cat warna-warni dan langsung banyak didatangi masyarakat. Setiap harinya, ada 50 orang yang datang,” ujarnya.

Masyarakat yang datang hanya sekedar foto-foto dan mereka rata-rata dari luar Kecamatan Pungging. Afif menambahkan, jika masyarakat biasanya datang saat sore hari untuk menikmati pemandangan batu-batu warna-warni di Sungai Gembolo dan berfoto ria. Masyarakat tidak mengeluarkan biaya untuk masuk ke Sungai Gembolo.

“Gratis, tidak ada loket. Hanya saja tempat parkir kendaraan di masjid, ada kotak amal. Bisa mengisi kotak amal seikhlasnya untuk kemaslahatan masjid itu. Kami berharap, saat musim hujan nanti masih bisa terlihat batu-batunya sehingga masih keliatan warna-warni jadi tidak dijadikan tempat pembuangan sampah oleh oknum tak bertanggungjawab,” harapnya.

Sementara itu, salah satu masyarakat, Febri (20) mengatakan, pemuda Karang Taruna Desa Tempuran cukup terkesan kreatif dan patut diapresiasikan. “Asyik dan menarik, saya tahunya dari media sosial Facebook. Semoga kedepan lebih baik dan diperbaiki lagi,” tuturnya. [tin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar