Gaya Hidup

Animal Photo Competition, Ajang Bersaing Para Pecinta Photografi

Pasuruan (beritajatim.com) – Ratusan para pecinta fotografi seluruh Jawa Timur tumplek di Taman Safari II Prigen untuk mengexplore the Largest Safari Park in Asia, Sabtu (12/10/2019). Para pecinta foto bukan tanpa alasan datang ke tempat itu, mereka mengikuti ajang International Animal Photo Competition (IAPC) 2019.

Selain demi mengejar total hadiah jutaan Rupiah, para peserta ini juga punya alasan lain, yakni mendukung program konservasi satwa. Sebelumnya para peserta telah mendaftar dan membayar biaya pendaftaran di aplikasi LinkAja seharga Rp 100 ribu (bonus cashback Rp 25 ribu).

“Mereka semua adalah pecinta fotograļ¬ yang mendukung konservasi satwa,” ujar Hans Manansang, Deputy Director Taman Safari Indonesia (TSI) Group sekaligus Ketua Penyelenggara IAPC 2019.

Tak hanya diajak untuk berburu foto model dan satwa, para peserta juga diajak untuk mengenal lebih lanjut tentang program konservasi yang dilakukan di Taman Safari Prigen. Termasuk bukti keberhasilan breeding satwa yang patut dibanggakan.

“Sehingga para peserta jadi banyak tahu tentang apa itu konservasi satwa. Dengan begitu, akan semakin banyak orang yang peduli terhadap satwa-satwa, termasuk satwa endemik Indonesia,” tutur Hans Manansang.

Di akhir acara, para peserta wajib mengumpulkan hasil jepretan mereka kepada panita. Dari situ, juri akan menilai karya foto mana yang berhak menjadi pemenang. Bakal ada 6 pemenang yang dipilih untuk gelaran IAPC ke-29 kalinya ini.

Para pemenang ini berhak mendapatkan sejumlah uang dan produk-produk Canon. IAPC 2019 sendiri bisa terselenggara dengan baik berkat dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Canon, LinkAja, dan id-Photogapher, sebuah komunitas fotografer.

Melalui hasil karya foto-foto itulah, Taman Safari Prigen sebagai bagian dari TSI Group mencoba untuk mengirimkan pesan kepada masyarakat, betapa pentingnya perlindungan dan penyelamatan satwa-satwa langka. Sebab, dari jepretan foto tersebut, dapat terlihat bagaimana ekspresi dan ting- kah laku satwa yang mungkin saja akan hilang untuk selamanya, jika kita tidak peduli sama sekali terhadap mereka.

“Taman Safari Indonesia Group tidak bisa bekerja sendiri dalam melindungi satwa-satwa langka, tanpa bantuan dari masyarakat luas, termasuk salah satunya adalah para peng- giat fotograļ¬,” kata Hans Manansang.

Salah satu peserta asal Surabaya, Lintartika mengatakan, kompetisi ini sangat berguna untuk para pecinta untuk mengasa feel memotret pergerakan hewan. Juga membantu konservasi hewan liar yang berada di tempat ini.

“Saya beruntung bisa mengikuti ajang foto ini, selain baru kali pertama ikut saya bisa mengamati pergerakan dan lingkungan hewan di sini terutama hewan dari benua Australia,” ucapnya. [way/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar