Gaya Hidup

Angkat Batik, Designer Muda Asal Mojokerto Fashion Show di Mall

Peragaan busana desainer Saf Tuasikal di Sunrise Mall Kota Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Designer muda asal Mojokerto, Saf Tuasikal menggelar fashion show di Sunrise Mall Kota Mojokerto. Dengan mengangkat dua motif batik khas Mojokerto, flora dan Sisik Gringsing serta Japanese Style.

Dalam fashion show tersebut desainer 27 tahun ini memamerkan 10 karyanya berkolaborasi dengan make up artis Febrilia Pratama, Bernadet Nona dan Christy, penata gaya Nesya, Sonia dan Fidha serta fotografer Yoga Primanata dan Andreas Kurniawan, designer kelahiran Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Dengan mengangkat tema “Muda Bergaya Adalah Muda Berbudaya” sebanyak 10 model menggunakan karya Saf Tuasikal berlenggak-lenggok mulai dari lantai dasar Sunrise Mall hingga naik ke lantai II menggunakan eskavator.

Dengan tetap menjaga jarak dan memakai masker, para model ini seakan menyapa para pengunjung mall dan memberikan pesan agar memakai batik dan tetap menjaga protokol kesehatan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa batik bisa dikemas dalam kemasan secara fashion yang trendy, santai dan bisa digunakan kapan saja. Kami juga tidak ingin menghilangkan unsur budaya, dimana pun dan kapanpun. Budaya harus tetap dijunjung sebagai nilai identitas bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Masih kata Saf, dengan mengangkat tema ‘Muda Bergaya Adalah Muda Berbudaya’, ia ingin menunjukan jika batik yang terkesan hanya bisa dipakai saat acara resmi dan untuk orang dewasa, ternyata bisa dipakai oleh kaum millenial. Sehingga ia sengaja mengangkat dua motif batik dan Japanese Style tersebut karena sesuai dengan karakter anak muda.

“Kenapa dua motif batik itu dari puluhan motif batik khas Mojokerto, memang awalnya terlihat kaku, etnik kuat dan motif tradisional sekali. Namun dua motif ini ternyata bisa dipadu pada kan dengan warna dan gaya sehari-hari dibanding pewarnaan batik Mojokerto sebelumnya,” katanya.

Ditambah dengan Japanese Stlye, lanjut Saf, mempunyai karakter kuat bagi si pemakaiannya. Menurutnya, karakter Japanese Stlye mengeluarkan aura karakter bagi setiap pemakainya. Hal tersebut sesuai dengan karakter anak muda yang cenderung pemuda bebas. Ditambahkan kombinasi warna-warna yang dipilih terkesan anak muda.

“Saya ingin mengemas dari desain fashion yang sederhana, santai bisa digunakan anak muda dan secara konsep Japanese meet Indonesia Style. Saya ingin memunculkan itu, karena karakter Japanese Stlye sangat menunjang karakter pemakainya dan kaum millenial ada di situ,” katanya.

Designer yang mulai merintis karier sejak lulus kuliah tahun 2016 lalu ini menambahkan, dengan mengajak kaum millenial untuk peduli dengan budaya sendiri yakni batik dengan memakai batik sehari-hari, diharapkan bisa menjadi magnet bagi masyarakat di Mojokerto dengan semua usia untuk itu menggunakan batik sehari-hari.

“Kalau pemuda sudah bergerak karena pemuda suka dengan berbau art, maka saya yakin semua bisa mengikuti. Lokasi sendiri, Saya bersama teman-teman ingin membawa batik ada dan berdampingan langsung dengan masyarakat agar masyarakat bisa secara dekat untuk bisa mengenal batik,” ujarnya.

Karena mall merupakan pusat orang-orang berkumpul. Namun karena situasi masih pandemi Covid-19, ini juga menjadi pertimbangan sehingga ia juga membuat masker yang serasi dengan dua motif batik yang diangkat tersebut. Ia berharap, ke depan situasi membaik semakin hari.

“Dalam situasi pandemi, adanya keberadaan kita berdampingan dengan masyarakat ini kan berdekatan juga agak riskan. Sehingga saya juga membuat masker khusus dengan batik di mana yang menjadi point of interest yaitu masker batik. Namun masih serasi dengan dua jenis motif batik itu,” jelasnya.

Saf pun menceritakan pengalamannya yang baru saja membuat desain batik untuk para penyanyi legenda Indonesia. Ada tujuh penyanyi legenda Indonesia yang baru saja dibuatkan desain batik. Meski awalnya tawaran tersebut diterima, namun ia mengaku tidak tahu siapa yang nantinya bakal memakai desain batik buatannya.

“Oh ya, Beberapa hari lalu ada kepercayaan buat desain untuk 7 bintang plus. Ada Vina Panduwinata, Ita Purnamasari, Deddy Dukun, Faris MS, Yuni Shara, Tri Utami dan Memes. Tidak mengerti ada tawaran dari Jakarta untuk desain batik, saya coba kirim koleksi saya ke Jakarta, ternyata deal. Tapi tidak tahu bakal dipakai siapa?,” tuturnya.

Ia pun mengaku kaget, desainnya bisa pakai musisi dan artis legenda Indonesia. Hal tersebut menjadi kebanggan tersendiri baginya dan semakin memantapkan diri untuk menunjukan Mojokerto. Karena ia juga mengaku bangga terlahir dan besar di Bumi Majapahit yang memiliki budaya yang menjadi ciri khas Bangsa Indonesia yakni batik.

“Kaget juga yang pakai penyanyi legenda Indonesia. Cukup bangga, saya pingin menunjukan saya dari Mojokerto. Terlahir dan besar di kota kecil tetapi jika sesuatu dikerjakan dengan setulus hati dengan kemauan keras juga, awalnya sempat ragu tapi Tuhan memberikan jalan dan dipercaya untuk memberikan style untuk beberapa artis di Jakarta,” paparnya.

Menurutnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto sudah memiliki event tahunan untuk batik yang spectacular yakni ‘Batik Ku, Batik Mu’. Event tahunan tersebut bisa mendekatkan kepada masyarakat, namun kemasannya dinilai tidak bisa mendekatkan kepada masyarakat. Karena masyarakat tidak mungkin mengenakan model-model batik tersebut untuk sehari-hari.

“Untuk show memang terlihat sangat spectakuler tapi untuk bisa dekat dengan masyarakat bahwa masyarakat untuk bisa digunakan tidak sesederhana itu. Saya tidak muluk-mulut, keinginan saya untuk bisa bikin show seperti itu. Khusus untuk pemuda-pemuda dulu aja, workshop tentang style batik yang bisa digunakan untuk sehari-hari,” tegasnya.

Ke depan, ia akan bekerja sama dengan pembatik di Mojokerto untuk membuat kemasan yang lebih bisa dipakai kaum millenial. Dengan menggandeng kaum millenial, diharapkan batik khususnya batik Mojokerto bisa diterima semua kalangan. Tidak terkesan batik untuk acara resmi dan orang dewasa saja.

“Kami ingin bersama-sama mengajak semua pemuda-pemudi untuk tetap cinta akan budaya, dengan menunjukkan bahwa bergaya dengan budaya atau batik masih bisa terlihat modern dan kekinian. Kami berharap dalam karya ini, pemuda-pemudi bisa bersama-sama cinta akan batik, sadar dan cinta akan identitas budaya kita. Batik,” harapnya. [tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar