Gaya Hidup

Ubah Limbah Kayu Jadi Kerajinan Bernilai Jual Tinggi

Anggota Koramil di Mojokerto Ini Banjir Pesanan Lukisan Bakar

Sejumlah santri dari Ponpes AL Fatah Desa Temuireng, Kecamatan Dawar Blandong, Kabupaten Mojokerto belajar kerajinan tangan di 'Rumah Kayu' milik Jouns Yusuf Effendi. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Salah satu anggota Koramil 0815/08 Dawarblandong, Jouns Yusuf Effendi mengubah limbah kayu menjadi kerajinan tangan bernilai jual tinggi. Yakni dengan memberdayakan masyarakat Desa Dawarblandong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.

Usaha yang ditekuni pria 38 tahun ini sudah dimulai sejak tahun 2016 lalu. Sebagai putra daerah Desa Dawarblandong, ia pun memberdayakan masyarakat Desa Dawarblandong untuk meningkatkan pendapatan masyarakat desa. Semua ia lakukan di bengkel tempat produksinya yang diberi nama ‘Rumah Kayu’.

Tempat pelatihan usaha masyarakat yang digelutinya berawal dari keisengannya membuat karya seni lukisan bakar berbahan kayu mahoni. Lukisan hasil karyanya dilukis dengan teknik soldier. Darah seni yang ada di dalam dirinya dari sang ayah, Bakri yang merupakan seniman tradisional pengrawit atau penabuh gamelan.

“Dulu pertama kali, saya iseng coba-coba buat lukisan bakar ukurannya 40 cm. Kemudian saya upload ke FB, ternyata diminati orang. Dari situ langsung ada kawan dari Kalimantan pesan buat lambang travelnya, saya buatkan. Karena pertama kali buat jadi gratis,” ungkapnya, Sabtu (15/8/2020).

Dari situ, ia kemudian memperkenalkan dan memberdayakan warga sekitarnya untuk kreatif, mandiri agar tak terpengaruh budaya-budaya negatif. Ia dan pemuda-pemuda desanya, kemudian mengumpulkan potongan-potongan tiap lembar kayu yang dibuang perusahaan-perusahaan disekitar desanya.

“Awalnya karang taruna. Jadi kalau belum kerja di sini dulu, saya tampung dan diberdayakan, nanti kalau sudah ada kerjaan bisa keluar. Apalagi sekarang banyak yang di PHK, ini sekitar ada 4 orang sekarang. Ibu-ibu juga ikutan, kalau ada orderan pot-pot bunga,” katanya.

Di ‘Rumah Kayu’ tersebut, lanjut Jouns, saat ini tak hanya membuat lukisan bakar menggunakan teknik soldier tapi juga menggunakan teknik printing. Ia juga membuat souvenir untuk pernikahan seperti gantungan kunci, plakat, maupun pernak-pernik kelengkapan desain interior.

“Saya juga membuat meubel seperti satu set meja kursi dan buffet. Katena semua jenis kayu bisa digunakan untuk bahan kerajinan maupun perabotan rumah tangga, tapi jenis kayu yang saya gunakan saat ini yakni jati Belanda, pinus, kayu kertas, jabon, sama mahoni,” jelasnya.

Jouns menjelaskan, lukisan bakar berukuran 15 cm yang menggunakan solder membutuhkan waktu pengerjaan sekitar satu hingga dua jam. Sementara pengerjaan produk rumah tangga seperti bufet bisa memakan waktu satu hingga dua minggu. Sedang pemesan bisa request gambar lukisan maupun kerajinan lainnya.

“Untuk lukisan bakar mulai harga Rp150 ribu hingga Rp350 ribu, sedangkan souvenir dengan harga Rp5 ribu. Untuk satu set mebel mulai harga Rp5 juta ke atas. Pandemi Covid-19 tidak begitu berpengaruh, malah sekarang kami sedang memberikan pelatihan kepada santri,” tuturnya.

Salah satunya santri dari Pondok Pesantren (Ponpes) Al Fatah Desa Temuireng, Kecamatan Dawar Blandong, Kabupaten Mojokerto. Para santri yang duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tersebut diajari mulai tahapan demi tahapan proses pengerjaan lukisan bakar menggunakan soldier. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar