Gaya Hidup

Dibanding Tahun 2018 Lalu

Alhamdulillah, Tahun Ini Tak Banyak Orang Cerai di Mojokerto

Foto ilustrasi

Mojokerto (beritajatim.com) – Selama kurun waktu bulan Januari hingga November 2019, Pengadilan Agama (PA) Mojokerto menanggani sebanyak 1.453 perkara perceraian rumah tangga. Jumlah tersebut terbilang turun drastis jika dibandingkan dengan tahun 2018 lalu yang mencapai 2.873 kasus.

Panitera Muda (Panmud) Hukum PA Mojokerto, Supardi mengatakan, meski mengalami penurunan namun jumlah tersebut dinilai masih cukup tinggi di Mojokerto. “Kasus perceraian saat ini, sudah menjadi fenomena biasa di masyarakat,” ungkapnya saat dihubungi beritajatim.com, Rabu (25/12/2019).

Bahkan, perkara cerai gugat atau pihak istri yang mengajukan perpisahan menjadi fenomena yang tak asing lagi. Masih kata Supardi, data tersebut sesuai dengan catatan perkara yang sudah dicatat panitera dan diputus oleh majelis hakim PA Mojokerto.

“Ada banyak alasan, perkara cerai gugat tersebut dilayangkan dari pihak istri. Sedikitnya, ada 1.118 perempuan sepanjang bulan Januari hingga November yang menggugat cerai suaminya. Karena faktor ekonomi, ketidakcocokan, pertengkaran terus menerus hingga KDRT,” katanya.

Supardi menambahkan, jumlah tersebut berbanding tiga kali lipat lebih rendah dari cerai talak atau pihak suami yang mengajukan perpisahan. Yakni, hanya 365 perkara yang masuk dari pihak suami yang mengajukan cerai. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar