Gaya Hidup

ALAS: Identitas Kota Surabaya Tidak Boleh Hilang

Surabaya (beritajatim.com) – Komunitas senior citizen, atau kelompok warga sepuh di Surabaya yang tergabung dalam ALAS (Arek Lawas Surabaya) menyoroti perihal identitas Kota Surabaya. Menurut mereka, jiwa yang tertanam di Surabaya tidak boleh hilang.

Hal itu diungkapkan dalam pertemuan rutin bulanan mereka yang kali ini jatuh pada hari Minggu (24/11/2019) di Makan Time’s Cafe and Resto Next Level-Jalan Pregolan Surabaya.

Perwakilan Ketua ALAS, Dokter Ario Jatmiko, mengungkapkan jika sudah menjadi tugas para senior citizen untuk berperan dalam menjaga identitas dari Kota Surabaya. “Kita kan tidak bisa menghadang laju perkembangan. Tapi, identitas Surabaya ini harus tetap dijaga. Karena kalau tidak begitu, bisa hilang,” ujarnya.

“Ambil contoh saja Belanda, setiap kota disana punya identitas masing-masing. Lihat coba Leiden,” papar Ario lebih lanjut.

Ia pun mengungkapkan salah satu kunci untuk tetap bisa menjaga identitas Kota Surabaya di tengah laju perkembangan yang begitu pesat. Salah satu kuncinya adalah keluarga. “Keluarga harus bisa menjaga hal itu. Jika orang tuanya terus menjaga identitas itu, otomatis anaknya juga akan menjaga. Anak saya misalnya, meskipun dia sekarang ada di Melbourne, tapi dia tetap merasa jika dia Arek Suroboyo,” pungkasnya.

Sebagai informasi, ALAS merupakan komunitas dari perkumpulan kelompok-kelompok pemuda di tahun 80-90’an. Meskipun kini ribuan anggotanya sudah berusia 60-70, namun semangat menjaga identitas Surabaya masih terus membara.

ALAS memiliki 5 orang ketua. Mereka adalah Dokter Ario Jatmiko, Prof Drg Muhammad Rubianto, Koento Wibowo Djoko Satriyo, dan Zaenal Arifin. Pada momen kumpul rutin bulan ini, mereka pun memberikan penghargaan spesial kepada pemilik dari Makan Time’s Cafe dan Resto yakni Hadi Prasetyo dan Endang Sri Budi Rejeki atau yang akrab disapa Ninik Pras. Pasangan suami-istri ini dianggap selalu memberikan dukungan yang luar biasa untuk Komunitas ALAS. [ifw/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar