Gaya Hidup

Afrizal Malna Gagas Festival Puisi Jelek

Sidoarjo (beritajatim.com) – Gelaran dalam sebuah festival puisi biasanya menampilkan ragam karya puisi dengan kata–kata puitis, indah dan mempesona ketika dibacakan. Namun berbeda dengan festival puisi yang satu ini, bertajuk “Festival Puisi Jelek” justru ingin memberikan tawaran yang berbeda dan menarik. Festival Puisi jelek (FPJ) diselenggarakan oleh Art Down Forum pada media sosial Instagram (IG) akun @artdown_forum, dan berlangsung sejak 17 Mei hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Menurut Afrizal Malna, sastrawan sekaligus penggagas FPJ, bahwa melalui festival ini untuk mengajak publik melihat kembali puisi sebagai praktik yang melebihi bahasa, berbeda dengan sajak sebagai ekpresi bahasa. FPJ merupakan aktivasi untuk memantulkan kembali batas praktik–praktik menulis sajak dan menulis puisi. Tidak hanya terbatas pada ketentuan kata berima (lirisisme) seperti pada sajak sebagai representasi keindahan bahasa, sehingga memungkinkan untuk memasukkan teks di luar motif keindahan.

Afrizal Malna

“Festival Puisi jelek berpeluang menggerakan ide-ide, memetakan apa saja yang berubah pada diri dan lingkungan kita, memetakan praktik sastra yang mulai berbasis media digital,” tutur Afrizal Malna, yang juga merupakan pengurus Akademi Jakarta.

Festival puisi yang digelar di akun IG @artdown_forum ini, juga merespon fenomena perubahan seni dan sastra dalam ruang virtual berbasis media digital. Yang membedakan FPJ dengan festival puisi lainnya, bahwa festival ini memberi tempat pada ekspresi kekinian seperti baper, bucin, cuek, santuy, narsis, dan lainnya, melalui beragam metode seperti “tempel-gunting”, “digital kreasi”, “phisycal distance” maupun “ansemic writing” sebagai diagram “puisi jelek.

Istilah “jelek” digunakan dalam festival ini sebagai detox atas perfeksionisme, membubarkan nilai-nilai yang membeku dalam praktik-praktik kreatifitas. FPJ menghindari kriteria karya yang terlibat. Bagi Afrizal, setiap orang punya hak untuk memahami definisi puisi jeleknya masing–masing”

“Jelek lebih dilihat sebagai detox pada orientasi perfeksionisme yang traumatik. Istilah jelek berpeluang dilihat sebagai metode maupun sebagai strategi, dibandingkan sebagai tujuan atau output. Nalar penciptaan menjadi penting untuk mengukur kerja dekonstruksi dan rekonstruksi dalam festival ini,” papar sastrawan kini bermukim di Sidoarjo ini.

Setiap orang dapat mengikuti festival ini dengan mengunggah karya “puisi jeleknya” pada feed akun IG masing–masing. Selain itu diwajibkan mention dan tag ke akun @artdown_forum, juga menyertakan #festivalpuisijelek. Setiap karya yang diikutkan akan berkesempatan untuk direpost di feed akun @artdown_forum dan dibagikan pada story IG @malna.a.

“Iya, jadi setiap orang boleh terlibat dan ikutan mengirim karyanya dalam Festival Puisi Jelek ini. Ada yang penyair, perupa, performer, sampai dosen non seni juga sudah ada yang ikutan. Setiap hari akan ada tiga sampai enam karya yang direpost di akun @artdown_forum,” jelas Syska, seorang perupa dan performer.

Art Down Forum sendiri merupakan platform berbasis digital menggunakan Instagram, yang digagas dan dijalankan oleh Syska La Veggie dan Afrizal Malna. Platform ini memantulkan konteks protokol kesehatan pandemi Covid-19, untuk merespon perubahan perilaku maupun bentuk-bentuk kerja kreatif pos-pandemi. Ke depannya Art Down Forum akan menjadi platform seni lintas disiplin sebagai wadah karya–karya non konvensional dari publik yang terlibat di dalamnya. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar